
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
Serta tipsnya bila perluπ Nglunjak kata orang sunda mah yaaπππ
...ππππππ...
HAPPY READING π..
πππππππ
Sudah seminggu lamanya, Devita terkurung di sebuah Mansion yang benar-benar mewah itu, Sudah seminggu pula Daniel terus mencari Devita yang entah kemana, Daniel, Kemal dan Zen terus mencari informasi tapi bagai di telan bumi, informasi itu tidak ada yang di dapatkan nya.
Rasa frustasi sudah mulai menggerogoti seorang Daniel Carroll. Rindu, ya rasa rindu kepada Devita yang saat ini lebih mendominan serta rasa khawatir yang memuncak sulit di kendalikan nya.
Wajah yang tegas sudah mulai tumbuh beberapa helai bulu, menandakan Daniel tidak sempat untuk mengurus dirinya sendiri karena sibuk dengan misi pencarian seorang gadis yang sudah tertetap di hatinya.
''Ka,, Eehh maksud ku Tuan, wajah yang mirip dengan yang di foto yang kau ambil dari Bibi nya Devita itu, aku melihat nya tadi.'' Ucap Kemal yang sengaja mendatangi kantor Daniel untuk menyampaikan apa yang di lihat nya.
''Benarkah? dimana?'' tanya Daniel dengan antusias.
''Aku melihatnya di sebuah restoran dan aku mengikutinta sampai ke sebuah Mansion yang benar-benar megah,'' jelas Kemal, Daniel yang mendengar itu matanya memancarkan sebuah harapan, harapan akan segera bertemu pujaan hatinya.
''Kita kesana sekarang.'' Ucap Daniel yang langsung bergegas tapi di halangi Kemal.
''Tunggu dulu.''..
''Apa lagi.'' Ucapnya berdecak kesal karena Kemal menunda-nunda.
''Sepertinya, beliau bukan orang yang sembarangan, karena aku melihat banyaknya penjagaan di sekitar bangunan itu.'' Penjelasan Kemal membuat Daniel berpikir lebih.
''Kau benar, kita harus hati-hati.'' ..
__ADS_1
.
.
.
Di Mansion dimana Devita berada.
Devita sedang berjalan-jalan di sebuah taman di halaman belakang, taman yang begitu luas untuk ukuran taman berada di pekarangan belakang.
Sebuah beberapa pendopo berada di setiap kolam ikan yang berada di bawahnya.
Rasa bosan sering sekali hinggap di diri nya, tapi kalau boleh jujur, Devita sangat nyaman berada di sini tapi hatinya sangat merindukan sosok seorang pria yang sudah mengetuk hatinya itu.
''Daniel, apa kamu tidak mencari ku.'' Pertanyaan itu selalu yang menghampiri dirinya sendiri.
Duduk di sebuah pendopo dengan kaki tergantung dan di ayun-ayun menyentuh air, pandangan Devita terarah ke langit-langit yang kian mendung, wajah Daniel selalu ada di setiap Ia mengedipkan matanya, menandakan bahwa Ia benar-benar merindukan Daniel.
Sebuah Deheman membuyarkan lamunan Devita.
''Tuan Reno,'' ucap Devita.
''Sedang apa Nona disini?'' tanya Reno yang ikut duduk tidak jauh dari Devita.
''Ada apa Tuan Reno kesini?'' tanya balik Devita.
''Saya ingin menyampaikan sesuatu. Kemarin Nona meminta untuk bertemu dengan Tuan besar bukan.'' Ujar Reno yang langsung di tanggapi Devita dengan mata binar nya.
''Iya, bagaimana? apa Tuan besar mu bersedia bertemu dengan ku, Tuan.'' Ucap Devita dengan harap.
''Ya sepertinya begitu,'' jawabnya masih dengan wajah datarnya.
Jawaban Reno membuat Devita sangat antusias, dengan sigap ia langsung bangkit dari duduknya dan merapikan penampilannya walau tidak berantakan.
''Aku sudah siap,'' ucapnya dengan riang.
''Antusias sekali kamu,'' Reno pun ikut berdiri.
''Ya, pasti. Karena ada yang ingin ku bicarakan padanya.'' Devita berjalan mensejajarkan langkah Reno yang sudah lebih dulu berjalan.
__ADS_1
''Apa itu?''
''Rahasia.''
''Kalau begitu saya tidak akan mengantarkan kamu ke Tuan besar,'' ancam Reno karena Devita tidak mau mengatakan tujuan nya untuk bertemu Tuan besarnya.
''Haiissss.. Suka sekali mengancam, baiklah aku akan mengatakannya, jadi aku itu ingin meminta di lepaskan dari penjara ini.'' Ucapnya dengan yakin.
''Ooh,'' hanya itu yang keluar dari mulut Reno yang berwajah flat itu.
Reno terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencapai tujuannya ke sebuah ruangan kerja tempat dimana si Tuan besar itu berada, Devita yang hanya berjalan sambil menunduk mengikuti langkah Reno tidak ada pertanyaan lagi yang Devita lontarkan.
Tibalah di sebuah pintu besar dengan dua kali ketukan Reno seenak nya membuka pintu itu tanpa ada sahutan dari dalam, Devita terus membuntut di belakang Reno.
''Selamat sore Tuan besar,'' ucap Reno menyapa pria paru baya yang duduk membelakangi Reno dan Devita.
''Emmm
''Nona muda, ingin bertemu dengan Anda, Tuan.'' Ucap Reno lagi.
Pria paruhbaya itu tidak menjawab nya, Ia hanya memberikan kode tangannya yang mengisyaratkan menyuruh Reno meninggalkan nya bersama Devita.
''Baik, saya permisi,'' setelah berpamitan Reno berlalu begitu saya meninggalkan Devita yang tengah menatapnya.
''Aku ditinggal?'' gumam Devita dalam hati.
Reno sudah keluar dari ruangan itu, Devita Berdiri dengan meremat jari-jarinya sendiri, rasa gugup serta takut seketika hinggap. Ruangan yang sejuk karena pendingin ruangan seakan tidak berfungsi, keringat sebesar biji jagung menghiasi pelipis mulusnya.
''Apa kabar nak?'' Suara berat itu mengejutkan Devita, suara yang sangat tidak asing di telinga nya.
''Suara itu.'' Gumam Devita, expresi tegang Devita sangat kentara di wajah cantiknya.
Pria parubaya itu memutar kursinya dan langsung menghadap ke Devita yang tengah berdiri dengan jarak 4meter dari tempatnya.
Deg
Wajah yang sudah banyak garis kerutan, dan beberapa rambut berwarna putih yang bercampur dengan warna hitamnya, tapi tidak menghilang kan wajah tampan dan tegas yang sangat di kenal Devita.
Tangan di rentangkan menandakan Ia ingin sekali memeluk gadis di depannya, setetes air mata meluncur bebas dari mata sipitnya, begitu pula Devita, wajah tegang dan air mata yang menetes seketika menandakan keterkejutan nya.
__ADS_1
''A-ayah,'' lirih Devita.
Pria paruhbaya itu adalah Tuan Mahendra Huang yang tidak lain adalah Ayah kandung dari Devita sendiri.