Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Tamu tak di Undang


__ADS_3

Daniel mencari ke setiap ruangan VVIP tapi Batang hidung Devita tidak ada disana, sampai ia memberanikan diri masuk ke toilet wanitabpun Devita tidak ada juga, nomor Devita juga sudah tidak bisa lagi di hubungi.


''Pasti Vita tengah salah paham,'' gumam Daniel mengacak rambutnya.


''Bagaimana Niel, ada Devita nya?'' tanya Nadia yang menyusul Daniel.


''Tidak ada, pasti Devita melihat kita dan salah paham,'' ucap Daniel.


''Nanti biar aku yang jelaskan ke Devita, kau tidak perlu cemas ya,'' ucap Nadia menenangkan Daniel, Daniel menganggukan kepalanya.


''Ini semua karena asisten mu iti, coba saja Ia memberi tahumu dari awal kan,'' ucapnya lagi.


''Maaf Tuan, saya memang ingin memberi tahu anda, tapi karena saya terburu-buru ada bunyi alarm mobil jadi saya melupakan nya,'' ucap Zen yang baru saja datang.


Zen menatap wajah Nadia dengan raut tidak ramah begitu pun Nadia.


'Kau sedang mengibarkan bendera perang dengan ku, Nona.' batin Zen.


''Ya sudahlah, kita kembali ke kantor saja Zen. Dan kau Nad, bisa kan pulang menggunakan Taxi.'' Ucap Daniel dengan dinginnya.


''Ah iya tidak masalah, aku akan naik taxi,'' jawabnya.


''Ya sudah, ayo Zen.'' Daniel berlalu pergi meninggalkan Nadia yang masih berdiam diri menatapnya berlalu pergi.


''Saya pamit undur diri, NONA.'' Pamit Zen dengan menekankan kata 'Nona pada kalimatnya.


''Kau rupanya tidak melupakan kejadian itu Zen, tapi tidak apa. asalkan kau tidak membuka mulut mu, aku tidak masalah kau tidak ramah lagi dengan ku.'' Gumam Nadia.


.


.


Devita berubah menjadi pendiam, bahkan Mahendra mengajaknya bicara pun jarang di jawab Devita, karena Ia terus melamun.


Puspa sangat mengerti dengan perasaan sahabat nya itu, Ia juga sangat kesal dengan Daniel karena tidak bisa menghargai perasaan Devita, pikir Puspa.


''Kau pulang ke Mansion kan Nak?'' tanya Mahendra yang sudah beberapa kali melayangkan pertanyaan namun Devita masih diam.


''Dev, Ayah mu bertanya padamu,'' bisik Puspa tepat di daun telinga Devita, lamunan Devita pun buyar.


''Ayah bicara pada ku?'' tanya Devita.


''Iya sayang, kau pulang ke Mansion kan?'' tanyanya lagi.

__ADS_1


''Iyah Yah aku pulang ke Mansion, kau menginap bersama ku kan, Pu'' tanya Devita dan di angguki Puspa.


Mereka pun tiba di Mansion, Devita dengan beralasan mengantuk untuk segera pergi ke kamarnya bersama Puspa.


''Sepertinya anak ku sedang ada masalah.'' Gumam Mahendra.


Di kamar bernuasa Soft terdapat ranjang yang besar dengan perabotan yang lengkap, seperti lemari es, tv, sofa, meja rias walk in closet dan ada beberapa perabotan lagi.


''Kamar mu sungguh keren Dev.'' Ucap Puspa yang langsung membaringkan tubuhnya di ranjang milik Devita.


''Pu, kita habis dari tempat umum, sebaiknya kamu membersihkan diri dulu sana,'' ucap Devita.


''Iya kau benar,'' Puspa berlalu ke kamar mandi, Devita mendudukkan bokongnya di sofa, dengan menyenderkan kepalanya di senderan sofa.


Helaan nafas keluar dari mulut Devita, rasanya Ia tak percaya dengan apa yang akan Ia ambil untuk keputusan nya.


''Aku tidak habis pikir, Nadia bertindak dengan cepat seperti itu.'' Gumam Devita.


''Apa kau sedang memikirkan ucapan Nadia dan menyangkut kan pada apa yang kau lihat di restoran,'' tanya Puspa yang baru saja keluar dari kamar mandi.


''Entahlah,'' dengan kaki yang di seret Devita berlalu ke kamar mandi.


''Ini harus di selesaikan, apa aku harus berbicara pada Daniel tentang permintaan Nadia ke Devita, tapi itu perbuatan lancang tidak ya,'' sekarang Puspa yang tengah memikirkan apa yang akan Ia perbuatan untuk membantu Devita.


Di sebuah Restoran.


Kemal sedang bermain game di ponsel nya tiba-tiba. ''Haciiuuuuuu.'' Hidungnya terasa gatal.


''Sepertinya ada yang sedang merindukan ku,'' gumam Kemal.


Terdengar suara Pintu di ketuk dari luar.


''Masuk,'' teriak Kemal.


Seorang gadis masuk dengan berlenggak lenggok menghampiri Kemal.


''Nadia, ada apa kau kesini?'' tanya Kemal dengan heran.


''Tidak, aku hanya tidak sengaja lewat dan teringin mampir, apa tidak boleh,'' tanya Puspa.


''Boleh saja, kau bisa datang kesini kapanpun kau mau,'' jawab Kemal.


''Hahaha, bisa saja,'' tawa Nadia.

__ADS_1


''Sebentar, aku pesankan minuman untuk mu dulu,'' Kemal menelpon pekerjanya untuk mengantarkan minuman ke ruangannya.


''Maaf merepotkan ya,'' ucap Nadia.


''Tidak sama sekali,'' jawabnya.


Pelayan yang perintah Kemal pun datang membawakan dua gelas juice untuk Nadia dan serta Bos nya.


''Minumlah,''


''Terima kasih,''


''Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan pada mu,'' ucap Nadia. setelah menyesap minumannya.


''Apa itu? katakanlah,''


''Seperti nya kau sangat dekat dengan Devita ya.'' Ucap Nadia memulai pembicaraan.


''Ya begitu, kenapa?''


''Dan aku lihat kau terlihat serasi dengan nya,''


''Serasi, dari mana kau melihat itu,''


''Itu hanya menurut ku saha sih.''


''Waktu pertama kali kita bertemu di restoran sewaktu aku baru datang ke negara ini, aku melihat di mata mu ada cinta untuk Devita, apa itu benar,'' ucapnya lagi.


Kemal diam dengan mata yang menatap heran dengan ucapan Nadia.


''Hahaha, maaf kalau aku lancang aku hanya ingin tahu saja,''


''Kenapa kau ingin tahu soal itu?'' tanya Kemal.


''Sebenarnya aku hanya ingin membantu mu saja,'' ucapnya dengan enteng.


''Membantu? membantu apa?'' tanya Kemal yang masih belum paham.


''Aku lihat kau terlalu mengalah pada Daniel, aku hanya merasa kasihan saja. Kalau kau menyukai Devita kenapa kau tidak mengejarnya.'' Kemal masih diam.


''Aku bisa membantu mu kok,'' ucapnya lagi dengan menawarkan jasanya.


Alis Kemal menyatu, Kemal merasa ada yang aneh dari diri Nadia.

__ADS_1


__ADS_2