
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...πππππππ...
Happy Reading πΈ
.
.
Mobil yang di kendarai Daniel sudah terparkir di halaman Mansion Carroll, suasana hati Devita sudah lebih baik dari sebelumnya.
''Daniel cuma mengantarkan koper saja kan?'' tanya Devita, ya Devita merasa tidak nyaman dengan bertemunya dirinya dengan wanita yang bernama Nadia itu.
''Iya sayang, sekalian aku juga ingin lihat keadaan Ayah.'' Jawabnya dengan lembut, dengan memanggil Devita dengan sebutan 'sayang, membuat Devita tersipu malu.
Tangan mereka saling menggenggam, dengan berjalan bergandengan tangan dan memasuki Mansion dengan mesranya. Para Maid dan penjaga tertunduk hormat saat Tuan muda mereka melewatinya.
''Ambil dua koper di bagasi mobil ku, dan taruh di ruang tamu.'' Perintah Daniel pada pekerja di Mansion.
''Baik Tuan muda.'' Jawabnya.
Dari lantai dua, Nadia mendengar suara mesin mobil yang berhenti, dengan hati yang senang Ia berlarian menuruni anak tangga untuk menemui seseorang itu yang sangat di yakini adalah Daniel.
Langkahnya melambat saat melihat Daniel datang tidak seorang diri melainkan dia menggenggam tangan seorang gadis yang beberapa jam lalu dikenalinya sebagai teman wanita Daniel.
''Kenapa harus datang bersama dia sih.'' Gerutu Nadia.
Dengan melangkah malas, Nadia berjalan ke arah Daniel dan Devita. memasang wajah seramah mungkin, Ia pun menyapa keduanya.
''Daniel, aku kira kau sendiri.'' Ucap Nadia dengan mata yang melirik ke arah tangan Daniel dan Devita yang seling menggenggam itu.
'' Hay, kamu yang tadi di restoran kan.'' Ucapnya lagi dengan mengulurkan tangannya.
''Aku Nadia, Orang yang paling dekat dengan si Tuan Arogan ini.'' Nadia memperkenalkan dirinya dengan gurauan yang aneh menurut Devita.
__ADS_1
''Aah iya, aku Devita.'' Jawab Devita membalas uluran tangan Nadia.
Daniel melihat raut wajah Devita yang tidak nyaman dengan obrolannya, Daniel sangat mengerti itu.
''Ya sudah, aku ingin melihat keadaan Ayah dulu, ayo Vit.'' Daniel berlalu melewati Nadia dengan tangan yang terus menggenggam tangan Devita.
''Issh, menyebalkan,'' gerutunya dengan kaki yang menghentak-hentakan lantai.
Devita tersenyum di baliknya, Ia senang karena Daniel mengerti apa yang Ia rasakan.
'Klik
Pintu kamar di buka Daniel terlihat ada Dua orang di dalamnya, yang tak lain adalah Ayahnya dan Kaka perempuan nya.
''Daniel, kau kesini Nak.'' Ucap sang Ayah dengan mata yang berbinar.
''Devita, kau juga.'' Raut bahgia semakin terpancar saat melihat gadis yang di bawa Daniel.
''Ayah, bagaimana kabarnya?'' tanya Devita dengan lembut.
''Ayah sudah kenal dengan Devita?'' ucap Dinar.
''Iya, Ayah sudah mengenalnya, tempo hari Daniel sudah mengajaknya kemari.'' Jawab sang Ayah.
''Iya Kak.'' Devita pun melepaskan pautan tangan Daniel di jari-jarinya, dan menuju tempat dimana Dinar duduk.
Daniel mendengus kesal karena Devita melepaskan tangannya, ''Vita biar duduk bersama ku.'' Dengan posesif nya Daniel menarik kembali tangan Devita agar pindah dari duduknya.
''Iisshh, aku bahkan tidak yakin, Devita akan kuat menjalin hubungan bersama dirimu.'' Ketus Dinar menyindir Daniel, Dinar kesal karena Daniel tidak membiarkan nya untuk dekat dengan Devita.
''Kakak salah besar, Devita pasti akan betah bersama dengan diriku.'' Jawab Daniel dengan percaya diri.
''Kita lihat saja nanti,'' gumam Dinar yang sengaja agar di dengar Daniel.
Devita hanya ikut memperhatikan keduanya yang sedang berdebat karena dirinya, tanpa ada rasa ingin ikut masuk kedalamnya.
''Sudah-sudah, Kalian ini, bertahun-tahun tidak bertemu kenapa saat bertemu malah berdebat.'' Omel sang Ayah.
Dinar dan Daniel malah tertawa mendengar nya, ternyata perdebatan mereka memang di sengaja untuk mengenang masa dulu.
''Ha ha ha. Tidak Ayah, kita hanya bercanda saja.'' Tawa Dinar.
''Iya Yah, aku ingat dulu sering bertengkar dengan Kakak hanya karena masalah sepele.'' Timpal Daniel dengan tawanya.
__ADS_1
''Kalian ini,'' dengus sang Ayah.
Di balik pintu, Kemal sedang memperhatikan interaksi orang yang berada di dalam kemar dengan dada yang sesak, ''Andai aku bisa bergabung dengan kalian.'' Gumam Kemal dengan tatapan sendu.
Kemal berlalu pergi dari Mansion dengan hati yang bersedih, Ia ingin sekali dekat dengan keluarga nya tapi suasana yang Ia yakini sangat lah sulit untuk ikut bergabung ke dalamnya.
Kemal tidak mempunya keluarga selain keluarga Carroll, ibunya meninggal saat melahirkan nya, saat ini Ia hanya tinggal seorang diri di Rumah pemberian sang Ayah yang tak lain Ayahnya Daniel juga.
Kemal mempunyai usaha restoran terbesar di kotanya, Ia merintis dari nol untuk mencapai semuanya, hanya bermodalkan uang tabungan peninggalan sang ibu, yang semula Ia jalani dengan usaha catering kecil-kecilan.
Di balik keceriaan Kemal, banyak cerita duka di dalamnya, tapi Ia yang tidak ingin terlihat lemah menyembunyikan nya dengan tingkah konyolnya.
.
.
Saat kemal berlalu keluar Mansion dengan wajah sendunya, ada yang menyaksikan itu semua yaitu, Nadia.
''Kemal, kau orang baik, tapi takdir yang tak berpihak oada mu.'' Ucap Nadia ikut merasakan kesedihan Kemal.
Nadia melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit, dengan langkah yang perlahan Ia mentip dan yang di lihat adalah pemandangan yang membuat hatinya kesal.
Tok Tok Tok
''Boleh aku bergabung.'' Ucap Nadia dengan senyumnya.
''Kemarilah, Nadia.'' Jawab Dinar mempersilahkan.
Nadia melangkah dengan riang dan duduk di samping Daniel, dengan manjanya Ia merangkul lengan Daniel dan tersenyum ke arahnya.
''Daniel, aku kan sudah lama tidak pulang ke negara ini, kau bisa kan membawa aku berkeliling kota ini untuk bernostalgia.'' Pinta Nadia dengan bergelayut manja.
''Iya, kapan-kapan aku akan mengajak mu berkeliling.'' Jawab Daniel dengan wajah datarnya.
Devita melirik samping dan melihat tangan Nadia yang melingkar di lengan Daniel, dengan menghela nafasnya secara kasar, Devita berusaha setenang mungkin.
Dinar memperhatikan Ketiga orang di depannya dengan teliti.
''Nadia apa-apaan sih, bersikap seperti itu di dihadapan Devita langsung, dan Devita sepertinya tidak nyaman juga.'' Batin Dinar.
''Nadia sini, apa kau tidak ingin menyapa Ayah ku?'' tanya Dinar, dengan menarik tangan Nadia agar berpindah tempat duduk.
''Aah iya Kak,'' jawabnya dengan senyuman kakunya.
__ADS_1