Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Berbelanja


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sudah tiga hari Devita hanya berdiam diri di kamarnya dengan sesekali berkeliling ruangan, yakinlah Devita memang tinggal di unit Apartemen mewah tapi yang dia tau hanya kamar tidurnya dan dapur serta ruang tamu.


Ruangan yang lain bahkan Devita belum pernah mengunjungi nya. Kebetulan sekali Daniel sedang tidak bersamanya, ini sebuah kesempatan bagus untuk membunuh rasa bosan ku. Batinnya.


Semula Ia melirik ruangan yang berada di samping kamarnya, yang seperti sudah lama tidak pernah ada yang menjamah nya.


''Di kunci,'' gumamnya setelah mencoba untuk membukanya.


''Hissshh, dimana Daniel menyimpan kuncinya.'' Matanya berkeliling mencari dimana kira-kira tempat penyimpanan kunci-kunci itu.


Devita mencari kesana kesini tapi tak kunjung di temukannya apa yang di carinya.


''Haaah lelah juga.'' Devita terduduk di sofa dengan kringat yang membanjiri pelipis nya.


''Kau habis olah raga.'' Suara barinton itu mengejutkan Devita yang tengah menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.


''Daniel, kau membuat ku terkejut.'' Sungut Devita dengan wajah yang di tekuk.


''Maaf, maaf. Habisnya aku ketuk beberapa kali kau tidak kunjung membukanya.'' Ucap Daniel yang ikut duduk di sebelah Devita, tapi Ia merasa aneh karena Devita malah menjauh dari nya.


''Kenapa?''


''Aku berkeringat, nanti kau tidak akan nyaman.'' Jawabnya malu-malu.


''Haiiissshh, kelak aku yang akan membuat mu berkeringat.'' Ujar Daniel, Devita memiringkan kepalanya karena tidak mengerti arah pembicaraan Daniel.


''Maksudnya?''


''Sudah lah, kau belum cukup umur untuk mengetahui nya.'' Ledek Daniel dengan wajah jahilnya.


''Aku sudah dewasa, Daniel.'' Mata Devita memicing.


''Kalau kau dewasa, kau akan mengerti apa maksud ku.''


''Ah sudahlah, terserah apa kata mu, yang penting aku sudah dewasa.'' Ketus Devita.


''Kau sudah makan?'' mengalihkan pembicaraan.


''Sudah,'' ketis Devita.


''Kau mau jalan-jalan.'' Penawaran Daniel membuat Devita tersenyum senang.

__ADS_1


''Kau mau mengajak ku jalan-jalan.''


''He'em, kalau kau mau itu juga, kalau tidak mau ya sudah aku mau tidur saja.'' Daniel merebahkan tubuhnya di sofa tapi dengan cepat Devita menarik tangan Daniel.


''Aku mau, tunggu ya aku akan bersiap-siap dengan cepat. Kau jangan tidur.'' Devita berlalu dengan berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Daniel menggeleng dengan bibir yang melengkung. '' Senyuman mu membuat hati ku tenang, Vita.'' Gumam Daniel dengan terus tersenyum.


''Aku sudah siap.'' Ucap Devita dengan antusias.


Mata Daniel menelisik penampilan Devita kali ini, dengan memakai outfit kaus polos dengan luaran baju kodok membuat kecantikan Devita semakin terpancar, wajah manisnya yang lebih mendominan apa lagi rambut yang di kuncir dengan dua bagian sungguh manis.


''Manis,'' celetuk Daniel.


''Daniel, jadi atau tidak.''


''Aah iya jadi, GO.'' Daniel mengulurkan tangannya untuk di sambut Devita, dan mereka pun berlalu dengan bergandengan tangan.


''Kita mau kemana, Daniel?'' tanya Devita, ya mereka sudah berada di dalam mobil tentu Daniel lah yang menyetir.


''Heeemmm, kemana yaa?'' Daniel tengah berpikir.


''Bagaimana kalau ke pantai saja,'' usul Devita.


''No, hari sudah semakin terik, nanti kau kepanasan,'' posesif nya Daniel muncul lagi.


''Kalau ke taman.'' Usul Devita lagi.


''Habis kita mau kemana.'' Rengek Devita karena kesal.


''Aah bagaimana kalau kita berbelanja kebutuhan dapur, sekalian aku juga ingin membeli sesuatu,'' ucap Daniel.


''Oh iya, lemari pendingin sudah mulai sepi penghuni.'' Ucap Devita dengan menyetujui nya.


Daniel yang mendengar ucapan Devita tertawa geli. ''Ada-ada saja kamu ini,'' tawa Daniel.


Sesaat kemudian mereka telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan paling ternama di kotanya, dengan manisnya Daniel selalu membukakan pintu mobil untuk Devita yang membuatnya selalu tersipu malu.


''Daniel, aku bisa membukanya sendiri.'' Ucap Devita dengan suara pelan.


''Aku yang menginginkan nya.'' Jawab Daniel yang langsung menyambar tangan Devita untuk di genggamnya.


Banyak pasang mata yang menatapnya kagum ada juga yang menatap heran serta iri.


Mereka yang menatap heran karena penampilan Devita yang layaknya usia belasan tahun tapi berjalan dengan pria yang klihatannya sudah cukup dewasa.


''Ingin sekali aku mencongkel mata mereka.'' Geram Daniel dengan menatap tajam para mereka yang menatapnya tak henti.


''Daniel.'' Tegur Devita agar Daniel bisa mengontrol emosinya.


Sebisa mungkin Daniel mengontrol nya.

__ADS_1


Mereka kini sedang berada di SuperMarket bagian kebutuhan dapur.


Setelah selesai membeli semuanya yang di butuhkan, Daniel dan Devita mengantri di barisan kasir.


''Baru kali ini aku ikut mengantri,'' gerutu Daniel.


''Biasakanlah.''


''Demi kamu,'' ucap Daniel dengan mengusap kepala Devita.


Ya seorang Daniel Carroll tidak pernah mau ikut mengantri karena sifatnya yang tidak sabaran serta emosian yang tidak memungkinkan untuk mengantri seperti customer lainnya.


Saat mereka sudah giliran untuk membayar, ada seseorang pria matang dengan setelan jasnya menghampiri nya dengan menundukkan kepala nya sebagai tanda salamnya


''Maaf Tuan Carroll, membuat anda mengantri.'' Ucap Pria itu yang ternyata adalah Manager Supermarket itu.


''Ah iya, tidak apa-apa, kau bisa pergi, aku akan membayar belanjaan ku.'' Ucapan Daniel yang lebih lembut, tidak seperti biasanya di dengan siapapun itu membuat pria di hadapan nya mengernyit heran.


''Ba-baik Tuan,'' gugupnya.


''Hey kau, hitung dengan cepat, Beliau adalah pemilik Supermarket ini.'' Bisik pria itu pada sang kasir yang sudah gemetar karena takut melakukan kesalahan.


''Jangan membuatnya takut.'' Tegur Daniel dengan suara tegas.


''Maaf Tuan,''


Transaksi pembayaran sudah selesai, Daniel dan Devita sudah menenteng beberapa paper bag.


''Berat ya?'' tanya Daniel.


''Tidak, aku sudah terbiasa,'' jawbanya dengan cuek, Daniel yang mendengar nya merasa iba.


''Berhenti disini, kau duduk lah dulu.'' Titah Daniel menturuh Devita duduk di sebuah kursi panjang.


Daniel menempelkan pinselnya di telinganya.


''Mendekatlah, bawa semua belanjaan kami,'' ucap Daniel pada seseorang yang ada di sebrang sana.


Tidak memakan waktu lama, Dua orang bertubuh besar berlarian ke arah Daniel dan Devita.


''Ayo kita belanja yang lainnya.'' Ucap Daniel kembali menggandeng tangan Devita.


''Mereka siapa?''


''Mereka teman ku,'' jawab Daniel singkat, Devita menganggukkan Kepala nya karena mempercayai ucapan Daniel.


Saat Daniel membawa Devita ke sebuah toko perhiasan, seorang gadis cantik langsung memeluk Daniel.


''Daniel, kenapa kamu tidak lagi ingin menemui aku'' Ucapnya begitu manjanya.


Daniel melepaskan pelukan gadis itu dengan sedikit kasar, terlihat sekali Daniel tidak nyaman dengan situasi seperti itu, begitu juga Devita yang sudah menekuk wajahnya.

__ADS_1


''### Kau bisa bersikap biasa?'' ucapnya dengan dingin.


__ADS_2