Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Terlambat


__ADS_3

Klien yang di tunggu sudah tiba di lobby kantor, seharusnya Zen yang akan menjemput klien itu untuk ke ruangan Daniel namun sedari tadi Zen terus saja diam terkadang Daniel sampai membentaknya karena ucapannya sedari tadi tidak di dengarkan nya.


'' Zen, Linda masih ada di bandara, penerbangan nya mengalami delay sampai dua jam kedepan,'' ucap Daniel yang seakan mengerti dengan kegundahan hati Zen.


Zen menoleh dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. '' Kenapa Tuan mengatakan itu, itu bukan urusan saya kan, saya permisi menyambut tamu dulu,'' jawab Zen yang langsung berlalu keluar dan menuju lift untuk turun ke lobby kantor.


'' Zen kau tetap saja ingin menyembunyikan perasaan mu itu,'' gumam Daniel yang terkekeh karena Zen.


Langkah Zen seakan sangat berat, perkataan Daniel terus saja terngiang-ngiang di otaknya, saat pintu lift berbunyi dan terbuka ia segera mencari klien Daniel.


'' Tuan Zen,'' panggil asisten dari perusahaan BR Group.


'' Ah iya, selamat datang, mari,'' sahut Zen yang menuntun jalan untuk dua pria dari perusahaan tersebut.


'' Ah iya Terima kasih Tuan Zen, maaf merepotkan,'' ucap Pria yang bernama Barta yang berkedudukan sebagai CEO di perusahaan BR Group.


Namun Zen tidak sama sekali menjawab ucapannya, pikiran nya seakan jalan-jalan entah kemana.


Zen melihat ada Rere dan tiba-tiba manggilnya. '' Rere, sebentar'' panggil Zen.


'' Ya Tuan Zen,'' sahut Rere.


'' Tolong tangani mereka, antarkan mereka ke ruangan CEO, dan jika CEO menanyai ku katakan saja aku ada urusan yang mendadak,'' ucap Zen dan di angguki Rere.


Setelah berpamitan dengan sopan pada dua pria klien Daniel, Zen berlalu pergi dengan terburu-buru.


Entah apa yang ada di pikiran nya, seakan-akan ada sesuatu yang mendorong nya untuk segera pergi ke suatu tempat.


Zen menyetir dengan pikiran yang kacau sehingga ia tidak memikirkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain yang dia pikirkan kali ini hanyalah tempat yang harus ia segera tuju.


Zen terus saja melirik jam tangannya seakan waktu berlalu begitu cepat dan itu membuat nya gelisah.


Setibanya ia di tempat yang di tuju, Zen menghentikan monilnya dengan sembarangan dan berlalu dengan sedikit berlari.


'' Dimana dia,'' gumam Zen dengan mata yang terus mencari seseorang yang ingin di temui nya.

__ADS_1


Dia berlari kesana kemari namun yang di cari seakan sangat sulit di temukan, bagai mencari jarum di tumpukan jerami itulah yang saat ini Zen rasakan.


Beberapa kali Zen mencari seseorang itu di ruang tunggu dan di setiap sudut namun memang semua sudah terlambat.


'' Lagi-lagi aku harus terlambat,'' ucap Zen yang sudah putus asa dengan usahanya.


Zen berbalik dan melangkah dengan langkah yang seakan tidak ada tenaga, Zen meninggalkan Bandara dengan mobilnya.


'' Aku bahkan belum meminta maaf,'' lirihnya.


'' Aku banyak salah padanya, dan dia sangat membenci ku karena apa yang ku katakan padanya,'' Zen terus saja bergumam.


'' Tidak apa, lagi pula apa yang ku lakukan saat ini, bersusah-susah mencarinya, memang dia siapa, bahkan aku sangat tidak menyukainya. Hah, untunglah dia pergi dan pasti hidup ku akan lebih tenang saat ini.'' Ucap Zen lagi.


Ucapan dengan isi hati terkadang sangat bertentangan namun percayalah hatinya saat ini sedang merasakan kehilangan yang terlambat tapi dia seakan tidak mau menyadari dan mengakui itu semua.


Di Kantor.


Daniel sedang berbincang dengan dua orang yang saat ini duduk di depannya, ketegangan di antara mereka terjadi, suasana raunagn seakan mencekam karena tatapan tajam Daniel yang sedari tadi bersikap dingin pada dua orang yang ada di depannya.


'' Perjanjian kita akan di batalkan, infestasi yang kita sepakati tidak akan terjadi,'' ucao Daniel dengan tegas.


'' Maksud anda apa, Tuan,'' ujar asisten Barta yang bernama Bobi.


'' Saya rasa apa yang saya putuskan sudah jelas jadi tidak perlu sata jelaskan lagi maksudnya, bukan.'' Ucap Daniel lagi.


Barta dan Bobi merasa marah, mereka tidak terima dengan keputusan sepihak dari Daniel, Barta menggebrak meja dengan sangat kencang membusungkan dada dan menunjuk Daniel dengan sangat tidak sopan.


'' Kau tidak bisa berbuat seenaknya Tuan, kami sudah memangkas waktu kami hanya untuk menemui anda di sini tapi kau malah seperti itu,'' ucap Barta tidak terima.


'' Benar Tuan, kami sudah rugi waktu karena harus mengatur ulang jadwal kami, sampai-sampai kami membatalkan pertemuan kami pada klien kami yang lainnya untuk kesini,'' timpal pria yang bernama Bobi.


Seakan tidak terjadi apa-apa, Daniel duduk dengan santai dengan terus menatap tajam kedua pria yang sedang berdiri dengan terus menunjuk-nunjuk dirinya.


'' Apa jam terbang mu hanya sebatas ini, kau bahkan tidak profesional,'' maki Barta.

__ADS_1


Daniel tetap diam dengan expresi tenang nya namun tangan yang dia taruh di atas meja sudah mengepal seakan sedang mengumpulkan emosinya sedari tadi.


'' Katakan sesuatu, jangan berdiam diri seperti itu!'' ucap Barta lagi dengan nada yang lebih tinggi.


'' Apa kalian sudah bosan berada di dunia bisnis,'' ucap Daniel.


Alis mereka menyatu dan mereka saling melemparkan tatapan heran dengan apa yang di katakan Daniel.


'' Apa maksud mu?'' tanya pria yang bernams Bobi.


'' Apa kalian tahu alasan apa yang membuat ku sampai membatalkan kerja sama kita,'' kedua pria itu membisu karena ingin tau alasan Daniel.


'' Itu karena kebusukan kalian!! perbuatan kalian yang sangat menjijikkan itu membuat ku sangat jijik untuk bekerja sama dengan perusahaan kotor seperti kalian!!'' ucao Daniel dengan emosi.


'' Ma-maksud Anda apa? gugup Barta.


'' Jangan kau pikir aku tidak tahu tentang perusahaan kalian.'' Daniel tersenyum jahat.


'' Kalau kalian masih ingin hidup dengan dunia kalian, pintu keluar ada di sana, pergilah dengan segera.'' Usir Daniel.


'' Baik kami akan pergi, permisi.'' Kedua pria itu berlalu namun langkah nya terhenti karena panggilan Daniel.


'' Tunggu.''


'' Satu hal lagi yang perlu kalian ingat, bekerja lah dengan jujur karena kejujuran itu tiang dari usahamu tapi jika kau berbuat curang, kecurangan kalian akan menjadi bumerang bagi kalian sendiri.'' Ucap Daniel yang setelah mengucapkan itu Daniel memberikan isyarat untuk mereka agar segera pergi.


Dengan emosi karena merasa di permainkan juga di permalukan kedua pria itu berlalu keluar dan membanting pintu dengan sangat kencang.


'' Ini benar-benar keterlaluan.'' Geram Barta.


'' Ya kau benar Tuan, ini penghinaan namanya,'' timpal Bobi.


'' Bobi, aku punya tugas untuk mu, segera cari tahu tentang kehidupan Daniel Carroll aku akan membuat nya membayar dengan apa yang dia sudah perbuat pada kita,'' ucap Barta dengan senyum devilnya.


'' Baik Tuan, si sombong Daniel Carroll itu harus menerima ganjarannya,'' sahut Bobi, mereka pun meninggalkan pelataran Perusahaan dengan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2