
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ dan juga Tips nya πππ
...ππππππ...
Selama di perjalanan, Kemal maupun Puspa hanya saling diam tidak ada yang memulainya untuk sekedar bicara.
Tapi lama kelamaan, Kemal yang notabennya tidak bisa berdiam diri merasa bisan dengan kesunyian yang ada.
''Ekhemmm.'' Kemal berdehem tapi Puspa tidak memperdulikan nya.
''Ekhemmm,'' berdehem lagi, tapi tetap sama tidak ada tanggapan.
''Isshhh Puspa, kenapa kamu mendiamkan aku.'' Akhirnya Kemal berucao juga.
''Memang nya kenapa?'' tanya Puspa.
''Ada kamu dan tidak ada kamu sama saja, sama-sama sepi,'' gerutunya.
''Memangnya siapa yang meminta untuk ada disini.'' Seru Puspa dengan ketus.
Kemal tidak lagi menjawab, karena Ia yakin tidak akan bisa melawan Puspa yang memang wanita luar biasa baginya, yang di maksud luar biasa adalah cerewet nya pastinya.
Kemal tidak pernah merasakan mati kutu sebelum nya apalagi dengan lawan jenis, yang biasanya dia yang membuat wanita mati kutu tapi kali ini tidak lagi berlaku pada Puspa.
Mobil Kemal berhenti di sebuah rumah yang sangat besar, tapi terlihat seperti tak berpenghuni, ya banyak daun jatuh dari pohonnya dan tanaman yang menjalar di sebagian tembok rumahnya.
''Kau tinggal disini?'' tanya Kemal dengan terus memperhatikan sekelilingnya.
''Emmm, kenapa memangnya.'' Jawab Puspa dengan malas.
''Kau tinggal dengan siapa disini?'' tanya Kemal lagi.
''Hanya dengan ibu ku, kau mau mampir dulu?''..
''Apa boleh?'' tanya Kemal hati-hati.
''Siapa yang melarang, ini rumah ku bukan rumah tetangga.'' Sungut Puspa.
''Ya kalau boleh, aku mau, Mpus.'' Ucap Kemal dengan santai.
''Mpus? siapa yang kau panggil Mpus.'' Ketus Puspa dengan nyalang.
''Kamu.''..
''Aku bukan Kucing, Kemaaallll.'' Teriak Puspa tepat di dekat telinga Kemal, tapi Kemal bukannya marah Ia malah tersenyum senang.
''Aku senang kau bisa bersikap seperti itu padaku.'' Ucapan Kemal membuat Puspa bingung.
''Maksudnya?''
''Ya aku suka wanita yang apa adanya, bersikap sesuai kriteria nya, dan kau lah orang yang seperti itu.'' Ujar Kemal dengan lembut.
Sungguh Puspa saat ini sedang tersipu malu, tapi sebisa mungkin Ia harus menjaga image nya di depan Kemal.
__ADS_1
''Kau mau mampir atau tidak.'' ..
''iya, iya. Aku mau.'' Kemal pun berjalan berdampingan dengan Puspa.
Setelah melakukan fingerprint di pintu utama, Puspa masuk dengan diikuti Kemal.
Kemal sangat takjub melihat dalam rumah Puspa, ornamen yang sangat indah terlukis di setiap tiang penyangga rumah, gaya klasik namun terkesan modern tercampur satu, sungguh arsitektur yang berkelas.
Kemal tidak menyangka dengan tampilan seperti rumah yang tidak berpenghuni ternyata tidak sesuai dengan isinya.
''Kau pasti bingung dengan tampilan luar rumah ku kan.'' Tebak Puspa dengan benar.
''He'em, sungguh bertolak belakang dengan covernya.'' Jawab Kemal masih dengan mata yang terus melihat-lihat dekorasi menakjubkan kediaman Puspa.
''Kalau soal daun yang berjatuhan itu karena tukang kebun sedang pamit pulang ke rumah nya karena anaknya sedang sakit, tapi kalau masalah tumbuhan yang merambat di sekitaran tembok luar rumah, memang itu aku sengaja.''
Kemal mengangguk-angguk an kepalanya.
''Ini seperti sebuah Kastil, bukan rumah biasa.'' Ujarnya, Kemal bukan norak, hanya saja dekorasi yang di sebut rumah oleh Puspa ini bagaikan Kastil yang ada di negri dongeng.
Penampilan yang di sebut rumah oleh Puspa.
.
''Boleh ku tahu marga mu?'' tanya Kemal.
''Tan,'' jawab Puspa singkat.
''Tapi aku tidak lagi memakai marga itu, karena suatu hal yang tidak bisa aku ceritakan.'' Lanjutnya sambil berlalu menuju arah halaman belakang.
''Eemmm aku mengerti soal privasi kok, kau tenang saja.'' Ujar Kemal dengan lembut.
''Ayah ku sudah meninggal, dan Mama, sibuk dengan urusan perusahaan,'' jawabnya lirih.
''Maafkan aku.'' Kemal menyesal telah menayangkan soal yang bersifat sensitif itu.
.
.
.
Di Apartemen, Daniel dan Devita tengah bersenda gurau dengan asiknya.
''Daniel, kau yang kalah.'' Devita dengan tidak terimanya langsung mencoret wajah Daniel dengan sebuah lipstik merah muda milik Devita.
''Kau curang yaaa.'' Daniel menyerang Devita dengan banyak coretan juga.
Ya mereka sedang bermain sebuah game PlayStation dan sesuai perjanjian yang kalah akan di coret dengan lipstik yang sudah di sediakan.
Mereka tertawa bersama dengan lepasnya, tidak ada beban yang menjadi penghalangnya. Devita yang memang sebelum nya mengalami goncangan mental, tapi saat ini Ia sudah lebih baik karena adanya Daniel di samping nya.
''Daniel,'' lirihnya.
''Hemm, kenapa?'' tanya Daniel dengan menyelipkan rambut Devita di sela telinga nya.
''Apa kau bisa selalu ada untuk ku.''..
''Tentu.''..
__ADS_1
''Apa kau yakin?'' tanya Devita memastikan.
''Sangat yakin,'' ucapnya dengan tegas.
''Terima kasih Daniel, kau sudah menjadi Dewa penolong ku.'' Ucap Devita dengan mata yang berkaca-kaca.
''Heeyy, jangan menangis, sayang.'' Daniel membawa Devita ke dalam pelukannya, dengan sayang Ia mengusap kepala Devita.
''Aku menangis karena bahagia, Daniel.'' ..
''Benarkah?''..
''He'em.. Aku merasa beruntung bertemu dengan mu, walau awal pertemuan kita sangat menyebalkan.'' Ucap Devita dengan memanyunkan bibirnya.
''Jangan memanyunkan bibir mu, kalau tidak ingin bibir mu habis di makan sang Singa nantinya.'' Ucap Daniel, tapi Devita tidak mengerti dengan ucapan Daniel.
''Singa? memakan bibir ku, ada-ada saja kamu ini,'' tawa Devita.
''Apa kau tidak takut,'' tantang Daniel dengan tatapan jahilnya.
''Disini mana ada Singa,''..
''Ada.''
''Dimana?''
''Di hadapan mu.'' Ucap Daniel dengan tatapan serius, tentu membuat Devita salah tingkah.
''Kau bukan singa.''..
''Lalu?''
''Kau kucing garong.'' Ledek Devita dengan tawa lepasnya.
''Kau berani yaaa.'' Daniel dengan cepat mengecup bibir Devita, dan tentu membuat Devita langsung diam dengan pipi yang memerah.
''Masih berani meledek ku.'' Goda Daniel dengan memainkan alisnya.
Devita mengulum senyumnya.
Perlahan Daniel mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Devita, dada Devita kali ini sangat berdebar dengan sangat cepat.
Entah kapan bibir mereka sudah saling menempel, Daniel mellumatnya dengan sayang, Devita hanya diam tanpa membalasnya, walau ini bukan pertama kali untuk Devita, tapi Ia masih kaku dengan urusan seperti ini.
Dengan gigitan kecil dari Daniel, Devita pun membuka bibirnya dan itu membuat peluang Daniel untuk menelusuri setiap barisan gigi Devita, rasa mint dari pasta gigi yang di pakainya masih menempel sempurna di dalam mulut Devita.
Suara Devita yang membuat Daniel hampir kehilangan kendali membuat Ia memberhentikan pagutan itu.
''I love you.'' Ucap Daniel dengan mengecup dalam kening Devita.
Devita ingin sekali menjawab, tapi sungguh Ia sangat malu untuk mengucapkan nya.
''Maafkan aku yang telah ingkar janji.'' Ucap Daniel dengan mata yang tertuju langsung ke mata lentik Devita.
''Ingkar janji?''
''Iya ingkar janji, pasti kemarin kau sangat ketakutan bukan.'' ..
''Iya kemarin aku sangat ketakutan, tapi sekarang sudah tidak lagi.''..
''Aku akan memberi pelajaran pada siapapun yang telah mengganggu mu.''..
__ADS_1
Devita tersenyum dan tanpa di minta Ia memeluk tubuh tegap Daniel dengan eratnya.
''Terima kasih, Daniel.'' Lirihnya, Daniel tersenyum dan membalas pelukan Devita dengan sayangnya.