Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
KetidakSengajaan Membuat Luka


__ADS_3

...Jangan pernah menyembunyikan kebohongan karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya seperti bayangan yang selalu menemukan pemiliknya saat matahari beranjak pergi....


^^^Daniel Carroll.^^^


...----------------...


Devita dan Jonathan sedang berada dalam perjalanan menuju sebuah restoran yang terkenal di kotanya yang di beri nama Talia Resto. Selama perjalanan Devita terus bungkam, tidak ada percakapan di antara mereka.


Sungguh baru kali ini Devita melakukan kebohongan apalagi pada Daniel, tapi ini semua demi sahabat-sahabatnya, pikir Devita.


Dadanya teeus berdebar karena merasa bersalah telah membohongi kekasihnya, bagaimana kalau Daniel tahu? Devita menggeleng pelan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran buruk itu.


Jonathan melirik ke arah Devita yang terlihat gelisah, Jonathan sangat mengerti apa yang di rasakan sahabat nya itu, tapi ada sedikit rasa egois di dirinya, jika bukan karena alasan membantunya, dia tidak akan pernah bisa berduaan bersama Devita.


''Maaf ya Dev,'' ucap Jonathan tapi pandangan nya tetap terfokus ke jalan.


''Eehhh, tidak Jo, tidak apa-apa,'' jawab Devita.


''Kamu pasti merasa tidak nyaman kan,'' tebak Jonathan.


Devita menggeleng dengan cepat, dia tidak ingin sahabat nya merasa bersalah karena nya.


Tibalah mereka di Restoran tempat temu janjinya Jonathan dengan Mamahnya, Jenny.


''Ayo Dev,'' ajak Jonathan yang sudah lebih dulu keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Devita, Devita tersenyum dan mengangguk pelan.


''Disana,'' tunjuk Jonathan pada meja yang sepertinya sudah di pesan Jenny, karena meja itu berkursi 4.


Jonathan menggenggam tangan Devita bertujuan untuk meyakinkan sang Mamah qgar percaya kalau mereka memang sepasang kekasih, namun tindakan Jonathan membuat Devita semakin merasa tidak nyaman.


''Jo, tidak perlu bergandengan tangan begini ya.'' Ucap Devita dengan hati-hati tanpa ingin membuat Jonathan tersinggung.

__ADS_1


Devita melepaskan tangan Jonathan dengan perlahan, Jonathan hanya diam dengan tatapan kecewanya.


''Maaf ya Dev, aku hanya ingin terlihat natural berakting di depan Mamah.'' Lirih Jonathan, Devita tidak menjawab ucapan Jonathan.


''Ya sudah ayo,'' ajak Jonathan lagi, Devita mengangguk dan membuntut di belakang Jonathan menuju meja yang sudah ada Jenny disana.


''Mah,'' panggil Jonathan yang langsung mencium pipi sang mamah, dan Devita hanya membungkukan tubuh sedikit untuk memberikan salamnya.


''Akhirnya kalian datang juga, duduklah,'' suruh Jenny dengan senyumnya.


''Terima kasih, Bi.'' Ucap Devita dengan sikap sopannya, Jenny tersentum lembut sebagai jawaban nya.


''Mamah sudah memesan makanan, mungkin sedikit lagi siap,'' ucap Jenny.


Jonathan dan Jenny terus berbincang tapi tidak dengan Devita yang hanya diam, mungkin raganya bersama mereka tapi tidak dengan jiwanya.


Jonathan berusaha mengajak Devita ikut dalam obralan nya, tapi Devita hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya, Jonathan paham dengan apa yang di rasakan Devita tapi mah bagaimana lagi di hadapannya ada sang mamah yang terus bertanya tentang hubungan mereka.


''Jadi kapan, Devita akan mempertemukan bibi dengan Ayah?'' pertanyaan Jenny membuat Devita tersedak yang memang sedang meminum jus alpukat pesanan Jenny.


''Tidak-tidak, aku permisi ke toilet dulu ya Jo, Bi.'' Pamit Devita yang langsung berlalu pergi ke toilet.


''Devita kenapa Jo, Mamah kan cuma bertanya seperti itu,'' ucap Jenny, dan Jonathan yang bingung untuk menjawabnya.


''Mungkin hanya terkejut saja Mah,'' jawab Jonathan ragu.


Di tempat lain, Daniel yang sudah dalam perjalan setelah membeli satu set perhiasan istimewa untuk seseorang, di hubungi Kemal yang mengatakan ada sesuatu yang harus di sampaikan, Kemal yang sudah pulang dari apartemen Daniel dan sekarang berada di restoran miliknya.


Daniel yang meng'iya kan nya dan memutuskan untuk bertemu di restoran Kemal, langsung menuju lokasi.


''Akhirnya kau menginjakkan kaki mu di restoran ku, Ka.'' Ucap Kemal setelah sambungan telpinanya terputus.

__ADS_1


Daniel telag sampai di depan Restoran dang adik, senyum tipis Daniel tersirat melihat Restoran yang paling di kenali di kotanya dan itu milik adik tirinya, tapi senyum itu pudar saat melihat nama yang tertera di atas restoran itu.


Dengan langsung yang lebar, Daniel masuk ke dalam restoran dan menuju ke bagian kasir untuk bertanya ruangan pemilik restoran.


''Dimana ruang pemilik tempat ini?'' tanya Daniel dengan wajah datarnya.


Bukannya menjawab, pegawai itu hanya terpaku menatap wajah tampan dan tegas Daniel, tatapan memuja tersirat dari mata pegawai itu.


''Hei, aku bertanya padamu,'' ketus Daniel, pegawai itu tersenyum malu karena ketahuan terpesona melihatnya.


''Maaf Tuan, dengan siapa ya?'' tanya pegawai itu.


''Saya kakak dari pemilik tempat ini,'' ucap Daniel tanpa sadar, setelah sadar dengan ucapannya ia berucap lagi.


''Dimana? tunjukan,'' ucap Daniel lagi.


''Baik Tuan, mari saya antarkan,''


''Tidak perlu, tunjukkan saja dimana?'' ketus Daniel.


Setelah menujukan tempat ruangan Kemal, Daniel berlalu begitu saja tanpa mengucapkan kata Terima kasih, tapi saat ia ingin berbelok ke sebuah ruangan, matanya menagkap seseorang yang sangat di kenal nya baru keluar dari dalam toilet dan menuju meja vvip.


''Vita,'' panggil Daniel, tapi dengan suasana ramai, sang pemilik nama tidak menjawab nya karena memang tidak terdengar.


Daniel pun melangkah untuk menghampiri Devita yang menuju suatu meja yang terdapat ada dua orang disana qda seorang pria yang di kenalnya.


Mata Daniel memerah, rasa kecewa serta emosi nya bercampur jadi satu, dadanya bergemuruh dengan hebatnya, Daniel merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Devita.


Posisi Daniel yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat Devita duduk membuat Daniel sangat jelas melihat Devita yang terlihat ragu untuk menjawab telponnya.


''Vita kau dimana?'' tanya Daniel yang berusaha bertanya dengan tenang dan lembut.

__ADS_1


''Ak-aku masih di kampus, ke-kenapa Daniel?'' Devita menjawab nya dengan terbata-bata dan Daniel bisa melihat Devita yang menjawabnya seperti sembunyi-sembunyi.


Daniel yang mendengar jawaban dari Devita merasa kecewa.


__ADS_2