Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
D E J A V U


__ADS_3

Dengan kebohongan yang Devita lakukan membuat Daniel tidaklah fokus dengan pekerjaannya, Semua yang di lakukan bawahannya selalu salah di matanya, semua karyawan di kantornya pun terkena imbas amukannya.


Tidak bisa di ganggu sedikitpun, Daniel tidak bisa marah pada Devita tapi karena itu semua karyawan yang membayarnya.


Ingin sekali marah dengan Devita tapi Daniel tidak mampu karena wajah Devita yang terlihat menggemaskan di matanya saat menangis membuat nya luluh dengan seketika.


Sebuah ketukan terdengar.


''Siapa!!'' teriak Daniel.


''Tuan ini saya, Kemal.'' Jawab Kemal yang datang ke kantor Daniel.


''Masuk,'' ucap Daniel dengan suara yang sedikit lebih pelan.


Kemal masuk dan menutup kembali pintunya, Kemal yang tidak tau apa-apa dengan keadaan suasana kantor hari ini, bersikap seperti biasa.


''Ka ini mengenai bukti dari racun yang di berikan ke Ayah,'' ucap Kemal setelah duduk di sofa depan Daniel.


''Katakan,'' ucap Daniel dengan tegas.


''Aku menemukan botol ini di ruangan Zen, tapi aku tidak tau pasti pelakunya siapa,'' ucapan Kemal membuat Daniel tersentak kaget dan langsung merebut botol yang berukuran kecil dari tangan Kemal.


''Dari mana kau tau kalau botol ini, botol racun?'' tanya Daniel dengan tatapan tajamnya.


''Aku sudah memeriksa nya ke Lab, dan kandungan racun yang di telan Ayah sama dengan cairan sisah yang ada di botol itu,'' jawab Kemal.


''Kapan kau menemukannya?''


''Waktu kakak memerintahkan aku menggantikan mu meeting,''


''Kurang ajar!!'' Daniel menggebrak meja dengan sangat kerasnya dan ingin beranjak dari duduknya dengan emosi yang memuncak.


''Kaka mau kemana?'' tanya Kemal menahan tangan Daniel.


''Lepas, atau kau yang akan aku hajar.'' Ucap Daniel yang Emosi.

__ADS_1


''Tapi kak, kita tidak tahu kebenarannya, apa Zen pelakunya atau bukan, karena aku sangat yakin bukan dia pelakunya,''


''Aku tidak peduli,'' Daniel menggibas tangan Kemal dan berlalu pergi menuju ruangan Zen, Kemal yang takut terjadi apa-apa langsung mengejarnya.


Tapi saat hampir sampai ruangan Zen, Daniel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah para karyawan yang sedang berbisik-bisik.


''Kalian semua Pergi!! kosongkan lantai ini, sekarang!!'' Bentak Daniel, semua karyawan yang mendengar nya dengan tergesa-gesa membereskan barang-barangnya dan berlari dengan tunggang langgung.


''Kau akan mati di tangan ku, Zen.'' Ucap Daniel yang semakin tidak bisa menaham gejolak emosi yang membara itu.


Daniel menerobos masuk ruangan Zen, Zen yang sedang terfokus dengan berkas di tangannya langsung berdiri dan memberikan salamnya.


''Tuan, ada apa sampai kau kemari?'' tanya Zen membungkukkan badannya dengan sopannya.


''Bedebah, Sialan!!'' Bentak Daniel yang melangkah mendekat ke arah Zen.


Bugh


Bugh


Bugh


''Kak, sudah ka,'' Kemal menarik tubuh Daniel.


''Lepas, Sialan!!'' Daniel berontak.


''Ka kalau menyelesaikan masalah dengan emosi seperti ini kita tidak akan tahu dengan kebenaran ka.'' Ucap Kemal yang khawatir melihat keadaan Zen.


Daniel yang mendengar ucapan Kemal dan membenarkan nta seketika bisa sedikit tenang.


''Sebenarnya ada apa ini Tuan?'' tanya Zen yang menahan rasa sakit di tulang rahangnya.


''Jadi begini Zen, waktu itu aku menemukan sebuah botol di atas sana, dan aku mengambilnya karena merasa botol itu bukan botol biasa, setelah aku periksa ternyata sisah cairan dari botol itu sama dengan racun yang Ayah telan waktu itu.'' Jelas Kemal dengan detail, Zen yang memasang telinganya dengan baik, terkejut.


''PENGHIANAT, SIALANN!!'' Maki Daniel.

__ADS_1


''Botol? botol seperti apa?'' tanya Zen dengan wajah bingungnya.


''Cih, jangan berpura-pura bodoh kau!!'' ketus Daniel.


Kemal mengacak rambutnya karena kesal pada diri sendiri, kenapa harus mengatakan pada Daniel, kenapa tidak langsung bertanya dengan Zen terlebih dulu.


''Aku sungguh tidak tau,'' ucap Zen tanpa kata formal nya.


''Penghianat!!'' hardik Daniel.


''Daniel, kau mengenal ku, mana mungkin aku melakukan hal sekeji itu,'' ucal Zen yang sudah tidak bisa lagi menyelipkan kata formal di dalam ucapannya.


''Diam kau Bedebah!!'' Daniel dan Zen terus beradu mulut, Kemal yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa menatap Daniel dan Zen dengan bergantian.


''Cukup!!''


Teriakan Kemal ternyata cukup efektif untuk menghentikan perdebatan mulut dua pria dewasa itu.


''Kalian ber'usia jauh di atas ku, tapi kenapa kelakuan kalian seperti anak kecil,'' omel Kemal.


Daniel yang melihat Kemal mengomel, seperti Dejavu saat mereka kecil yang dimana Daniel dan Zen kerap bertengkar dan Kemal lah yang selalu sebagai penengahnya sebelum Daniel tau kalau Kemal adik tirinya.


''Kau kak! kau kan dengan Zen sudah bersama sedari kecil tanpa terpisah seharipun, tapi kenapa kau tidak bisa membedakan dia berbohong atau tidak,'' omel Kemal ke Daniel.


''Dan kau Zen, kalau botol itu bukan milik mu, kenapa botol itu berada di ruangan mu, apa tingkat kepekaan serta kewaspadaan mu sudah tidak ada lagi,'' kini giliran Kemal mengomel ke Zen.


''Mestinya kita bekerja sama bukan menyalahkan di antara kita seperti ini,''


''Kalian sadar atau tidak, kita sedang di adu domba agar pelaku yang sebenarnya bisa bersembunyi di balik semuanya,'' ucap Kemal lagi, Ia menghela nafasnya karena lelah berbicara dengan pajang lebar.


Daniel dan Zen masih diam menatap Kemal yang sedang mengelap keringatnya, Kemal tersadar kalau mereka sedang menatapnya.


''Kalian kenapa?'' tanya Kemal yang tersenyum kikuk.


''Cih, sudah berani kau mengomeli ku,'' sindir Daniel yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ada senyum tipis tersirat dari wajah Daniel, tapi entah apa arti senyuman itu.

__ADS_1


Kemal yang mendengar sindiran Daniel hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu, kenapa dia bisa selancang itu mengomeli Daniel. Pikirnya.


__ADS_2