
Di Toko bunga di sanalah Puspa saat ini berada, keperubuhan Puspa, Citra menyadari nya, semenjak ia memutuskan untuk menjauh dari Kemal saat itu juga Puspa menjadi pendiam.
Sikap periang, banyak bicara sudah tidak ada lagi saat ini, Cintra memandang lekat wajah Puspa yang sangat terlihat sedang menyimpan luka.
'' Ka Puspa, kakak ada masalah?'' tanya Citra yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Puspa.
'' Masalah? ah tidak, kenapa?'' jawabnya.
'' Belakangan hari ini, kakak terlihat murung.''
'' Ya aku sedang merindukan Devita,''
'' Hubungi saja ka,''
'' Sudah, dia sudah pergi honeymoon ke Paris, tadi pagi dia menghubungi ku,''
'' Waaah, Paris.'' Gumam Citra.
Puspa melpanjutkan pekerjaan nya, tapi ketahuilah pikiran dan jiwanyanya sedang berkelana entah kemana.
Lonceng pintu berbunyu, menandakan bahwa ada seseorang datang.
'' Cit, tolong kau layani customer ya, aku ingin ke kebun ambil mawar yang siap petik,'' ucap Puspa sambil berlalu ke arah belakang, Citra hanya mengangguk dan berlalu ke ruangan depan.
'' Selamat datang Tuan, ingin mencari jenis bunga apa?'' tanya Citra pada seorang pria yang berdiri membelakangi nya.
Pria itu berbalik dan ternyata dia adalah Kemal, Citra yang sudah mengenalnya lalu menyapanya dengan hormatnya.
'' Oh maaf Tuan Kemal, selamat siang,'' sapa Citra dengan sopan.
'' Pagi Cit, Puspa ada kesini?'' tanya Kemal.
'' Ada Tuan, ka Puspa sedang di kebun belakang,'' jawabnya.
Kemal pun berlalu menuju kebun belakang setelah berpamitan pada Citra, seorang gadis di tatapnyia dari kejauhan, gadis yang sedang memilah bunga yang sudah siap petik saat itu juga.
Wajah murungnya sangat terlihat, Kemal pun tau sebab Puspa murung seperti itu, yang tak lain karena dirinya.
Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Puspa saat ini berada.
'' Citra kenapa kau kesini, nanti siapa yang melayani customer,'' ucap Puspa tanpa menoleh ke belakang yang dia kira itu adalah Citra tapi ternyata Kemal, pria yang di hindarinya beberapa hari ini.
'' Aku masih Kemal yang dulu, belum berganti nama menjadi Citra,'' ucap Kemal bertujuan untuk mencairkan suasana.
Puspa menoleh dengan memasang wajah datarnya.
__ADS_1
'' Mau apa kau kesini?'' tanya Puspa dengan sikap yang tenang.
'' Aku ingin menemui mu, kenapa kamu memblokir semua kontak ku?''
'' Aku rasa tidak ada yang perlu untuk di pertanyakan dan untuk mendapatkan jawaban, karena kau tahu sendiri semua jawabnnya,'' ucap Puspa menanggapi pertanyaan Kemal.
'' Puspa, aku memang bersalah padamu, tapi itu tidak semua seperti apa yang kau pikirkan, aku punya alasan untuk itu.'' Ujar Kemal, Puspa tersenyum miring dan melanjutkan kembali pekerjaan nya.
'' Alasan kau bilang, kau tidak mengakui hubungan kita di depan kekasih lama mu itu, kau bilang ada alasan nya, apa alasannya? agar tidak menyakiti perasaan dia, iya?'' Kemal terdiam karena ucapan Puspa.
'' Kenapa diam? kau bingung untuk jawabannya kan? kau takut dan menjaga perasaan dia tapi tidak mempedulikan perasaan ku, dimana hati kamu, Kemal?'' ucapnya lagi, manatap langsung manik mata Kemal yang bahkan tidak lagi berani menatap ke arah mata besar Puspa.
Lonceng pintu kembali berbunyi, tidak lama seseorang masuk dan menghampiri Puspa dan Kemal yang sedang berbincang itu.
'' Pu,'' panggil seseorang itu yang ternyata dia adalah Jonathan.
'' Jo, kau sudah datang.''
'' Maaf aku telat, ayo Mama sudah menunggu di mobil,'' ajak Jonathan tanpa mempedulikan tatapan tajan Kemal.
'' Kalian ingin kemana?'' tanya Kemal.
'' Diner,'' jawab Puspa yang langsung berlalu begitu saja ke arah toilet.
'' Tidak bisa di biarkan, aku masih kekasihnya kan,'' gumam Kemal.
Tidak lama, Puspa keluar dari toilet dan berjalan melewati Kemal yang sedang menatapnya.
Kemal memegang lengan Puspa, dia tidak terima jika kekasihnya pergi dengan pria lain.
'' Kenapa??'' tanya Puspa.
'' Pu, kau ini apa-apaan, aku ini masih kekasihmu, kenapa kamu mau pergi diner dengan pria lain,'' ucap Kemal yang meninggikan suaranya.
'' Kekasih kau bilang, dari mulai kau tidak mengakui hubungan ini dari semenjak itu kita tidak lagi memiliki hubungan, Kemal,'' balas Puspa yang ikut meninggikan suaranya.
'' Pu kau harus mendengarkan aku, aku bisa jelaskan semuanya,'' ujarnya melembut.
Puspa diam, ia memberi kesempatan Kemal untuk menjelaskan apa yang ingin di sampaikan, tapi saat Kemal ingin berucap ponselnya berdering yang ternyata panggilan itu dari Amaira dan sialnya Puspa juga melihat itu.
Dengan kasar Puspa melepaskan genggaman tangan Kemal, dan langsung berlalu meninggalkan Kemal yang sedang menjawab telpon itu.
'' Mungkin ini keputusan yang tepat,'' gumam Puspa dengan tangan yang menghapus satu tetesan airmatanya.
Kemal menatap sendu punggung Puspa dan mematikan sambungan telepon itu tanpa permisi.
__ADS_1
'' Aku harus menyelesaikan ini semua,'' gumam Kemal.
Di belahan dunia sana, tepatnya di sebelah timur laut dikota Paris, bandara internasional Paris Charles de Gaull Devita dan Daniel menginjakkan kakinya.
'' I'm coming, Paris.'' Ujar Devita dengan bahagia nya.
'' Kau ini,'' kekeh Daniel.
Mereka pun segera menuju mobil yang sudah siap menyambut mereka menuju hotel yang akan di tempatinya sementara berada di sana.
'' Selamat datang Tuan Carroll, saya di perintahkan Tuan Erwin menjemput Tuan dan Nona,'' ucap seorang supir dengan berpenampilan formal.
'' Nyonya Carroll,'' jawab Daniel mengkoreksi ucapan supir itu.
'' Maafkan saya Tuan,''
Mereka pun berlalu meninggalkan bandara dengan menggunakan mobil menuju hotel Le Bristol hotel terbaik di kota Paris, dengan fasilitas mewah dan pastinya hotel ini dengan harga sewa yang terbilang sangat fantastis.
Tibalah mereka di hotel tersebut yang sudah di sambut dengan seorang pria tinggi berwajah khas orang Inggris tersenyum kearah Daniel dan Devita.
'' Selamat datang Tuan Carroll dan Nyonya Carroll, perkenalkan saya manager di hotel ini, saya yang akan bertanggung jawab atas pelayanan untuk Tuan dan Nyonya,'' ujar pria berdarah Inggris itu.
'' Ya, antarkan kami ke kamar yang bsudah saya pesan,'' jawab Daniel dengan wajah angkuhnya.
'' Baik, silahkan.'' Ucapnya dengan sopan.
Mereka menuju lift untuk naik ke lantai paling atas yang hanya ada kamar VVIP pesanan Daniel.
Tibanya dikamar, Devita terperangah takjub dengan dekorasi dan fasilitas yang ada.
Manager itu hanya mengantarkan sampai depan pintu itupun atas perintah Daniel juga.
'' Segarkan diri dulu sayang, barulah istirahat.'' Ucap Daniel dengan mengusap lembut surai rambut Devita dan mengecupnya singkat.
Devita mengangguk dan berlalu ke arah dimana kamar mandi berada, Devita benar-benar di buat takjub dengan pemandangan yang ia lihat di seluruh kamar dan kamar mandi hotel itu.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Devita sudah di suguhkan beberapa macam potongan buah untuk menyegarkan dahaganya.
Daniel memperlakukan Devita dengan sangat baik, Devita tersenyum senang memandang Daniel yang menatap juga ke arahnya.
'' Makan buahnya ya, aku ingin kekamar mandi,'' ucapnya dengan lembut, Devita mengangguk dan mencicip potongan buah yang di sediakan Daniel.
'' Aku tidak sabar datangnya malam nanti,'' gumam Daniel di depan cermin wastafel.
Tbc...
__ADS_1