Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Di Cuekkin


__ADS_3

Citra masih terdiam, bahkan ia tidak mampu mengangkat wajahnya tubuhnya bergetar karena bentakan pria itu.


Semua mata tertuju pada Citra dan pria itu, Daniel melihat wajah Devita yang mulai ada raut ketakutan dan ia memberi kode pada Puspa agar membawa Devita pergi dari sana.


Puspa yang mengerti, menganggukkan kepalanya. '' Dev, antarkan aku ke toilet, ayoo cepat.'' Puspa menarik tangan Devita dan memaksa nya mengantarkan ke toilet.


'' Pelan-pelan,'' ucap Devita.


Di meja, Daniel terus memperhatikan perdebatan itu, dan ia yang merasa tidak tahan menyuruh Kemal untuk mengurusnya.


Kemal melangkah mendekat ke arah Citra dan pria itu.


'' Kau siapa tiba-tiba menarik dia,'' tanya Kemal.


'' Kau yang siapa? ini urusan ku dengan sepupu ku, tolong jangan ikut campur,'' jawab pria yang mengaku sepupunya Citra.


'' Dia kesini bersama ku, tentu aku harus mengetahui kenapa kau tiba-tiba membentak dia,'' ujar Kemal yang masih mode tenang.


'' Dia semestinya bekerja bukan malah santai-santai disini,'' suasana semakin menegang saat pria yang mengaku sepupunya Citra berbicara dengan nada tinggi.


Kemal yang mendengar ucapan pria itu hanya diam, ia berdecak namun siapa yang mengira jika wajah tenang Kemal akan bertindak kasar.


Tanpa berkata apapun, Kemal langsung menarik kera baju pria itu dan membawa nya keluar.


'' Kenapa dia seperti ku,'' gumam Daniel yang tersenyum tipis karena melihat sikap Kemal.


Di luar, Kemal masih menarik kera baju pria itu dengan tatapan dinginnya.


'' Apa yang kau lakukan disini?'' tanya Kemal dengan dingin.


'' A-aku se-sedang makan, apa lagi,'' jawabnya dengan gugup.


'' Lalu kau pikir Citra kesini untuk apa,''


'' Di-dia kan se-seharusnya ada di te-tempat kerjanya,'' jawabnya masih dengan tergagap.


'' Lalu kenapa kau tidak di tempat kerja mu, hah!!'' Bentak Kemal, tubuh pria itu bergetar karena menghadapimenghadapi sisi iblis Kemal yang sangat menyeramkan.


'' A-aku,''

__ADS_1


'' Aku sudah sangat paham dengan pria semacam kau,'' hanya itu yang di ucapkan Kemal, setelahnya Kemal langsung menghajar pria itu tiada ampun sampai membuatnya tidak lagi berdaya.


Setelah selesai dengan urusan pria itu, Kemal kembali masuk ke rumah makan itu dan disana Devita juga Puspa sudah kembali di kursinya masing-masing.


Citra masih terdiam sedari tadi Puspa maupun Devita terus saja bertanya tentang pria tadi, namun Citra masih saja membisu.


'' Hei kau, aku bisa membantu mu jika kau ingin, tapi jika kau tetap ingin berada di dalam penderitaan silahkan saja,'' ucap Daniel dengan cuek.


'' Daniel, kenapa kau bicara seperti itu,'' tegur Devita dengan berbisik.


Kemal hanya diam tidak ingin menimpali ucapan Daniel, karena ia juga sangat paham kenapa Daniel berbicara seperti itu.


'' Terima kasih Tuan, jika nanti aku membutuhkan bantuan mu aku akan mengatakan nya tanpa segan,'' jawab Citra yang sedari tadi terdiam.


Akhirnya mereka melanjutkan makan mereka karena pesanan makanan sudah sedari tadi datang.


Di Mansion Carrol.


Zen sedang mengobrol dengan Dokter yang menangani Tuan besarnya, perbincangan serius tentang perkembangan maupun yang akan di lakukan tindakan untuk Frans Carrol yang di sampaikan Dokter, Zen mendengarkannya dengan baik.


'' Kita harus melakukan pemasangan Ring di jantung nya untuk mengatasi penyempitan pembuluh darah di jantung Tuan Frans.'' Ucap Dokter.


'' Baik akan aku sampaikan pada Tuan muda, Dok.'' Jawab Zen.


Zen mengantarkan nya sampai depan pintu utama dan tidak sengaja berbarengan dengan Linda yang baru saja tiba dengan mobilnya.


Zen yang ingin berbalik mengurungkan niatnya dan menatap lekat Linda yang baru keluar dari mobil dengan menggunakan pakaian biasa.


Melipat tangannya menatap dengan tajam ke arah Linda yang berjalan ke arahnya dengan cuek.


'' Dari mana kau?'' tanya Zen dengan nada datarnya.


Jangankan menjawab, menoleh pun tidak, Linda berjalan dengan pandangan lurus kedepan dan tidak mengidahkan keberadaan Zen yang berdiri dengan menyenderkan tubuhnya di daun pintu.


'' Hei kau tuli,'' ujar Zen dengan sedikit menaikan nada bicara nya.


Dengan teriakan Zen Linda juga tidak mengidahkan, ia tetap berjalan lurus ke arah dimana kamar ia berada.


'' Dia benar-benar tidak punya sopan santun,'' gerutu Zen yang merasa kesal dengan tingkah Linda yang tidak menghiraukan nya. '' Lihat saja nanti,'' lanjutnya, ia pun berlalu kembali ke kamar tuan besarnya.

__ADS_1


Dinar yang baru saja tiba dari perjalanan bisnisnya, menyuruh Linda membuatkan minuman untuk nya kekamar Ayah nya karena ria sedang berada di sana.


Sebenarnya Linda ingin sekali memberikan perintah pada maid disana untuk menggantikannya tapi bagaimanapun Dinar sendiri yang menyuruh nya.


'' Mau tidak mau, aku harus bertatap muka lagi dengan mr monster itu,'' gerutu Linda dengan tangan yang sibuk membuatkan minum untuk Dinar.


Dikamar Frans.


'' Daniel tadi menelpon ku, Devita ingin pergi piknik dan dia juga mau mengajak Linda juga kamu, bagaimana?'' ujar Dinar.


'' Maaf ka, saya tidak bisa karena pekerjaan saya sedang menumpuk dan lagipula Tuan besar bagaimana,''


'' Ayah biar sama aku, dan kalau pekerjaan apa salahnya jika kau berlibur sehari saja, tidak akan bangkrut juga perusahaan keluarga ku, hehe.'' Kekeh Dinar.


Pintu terbuka, Linda masuk dengan minuman serta salad buah favorit Dinar.


'' Silahkan Nona muda, saya permisi,'' ucap Linda yang menaruh nampan di ats meja dan ingin berlalu namun panggilan Dinar menghentikan langkahnya.


'' Ya Nona,''jawabnya dengan ramah.


''Duduklah,'' suruh Dinar, Linda melirik ke arah Zen yang duduk yang sibuk dengan ponselnya.


Linda menurut ia duduk menunggu Dinar yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu.


'' Jadi begini, adik ipar saya, Devita. ingin pergi piknik dan dia mengatakan kalau ingin mengajak serta kamu juga, bagaimana?'' ujar Dinar.


'' Saya tidak keberatan Nona,'' jawabnya.


'' Bagus kalau begitu, Zen juga tidak keberatan, jadi nanti kamu dan Zen berangkat bareng saja dari sini,'' ucapan Dinar membuat Linda tercengang.


'' Ma-maksudnya, saya pergi bersama dia,'' ucap Linda tergagap.


'' Ya, karena Daniel dan Devita akan pergi dari apartemen nya,'' jawabnya, Zen melirik tajam ke arah Linda yang juga melirik nya dengan sinis.


'' Baik Nona, kalau begitu sata permisi,'' Linda berlalu dari kamar Tuan besarnya.


Linda benar-benar tidak menyangka jika dia harus pergi bersama dengan Zen yang di anggapnya sebagai monster, apalagi membayangkan satu atap mobil bersama Zen sungguh membuat Linda merasa kesal.


'' Kenapa harus bersama dia,'' gerutunya dengan kesal '' Bagaimana ini,'' Linda merasa gelisah memikirkan bagaimana caranya untuk tidak pergi satu mobil bersama Zen, pria yang sangat di benci nya.

__ADS_1


Lusa hari weekend, dan lusa juga Devita serta Daniel berencana untuk pergi piknik, semua sudah di hubungi untuk ikut serta namun Devita masih tetap memikirkan kalau ia ingin sekali mengajak satu Lagi seseorang tapi belum berani mengatakan nya pada Daniel.


Tbc..


__ADS_2