Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Perasaan yang Dipermainkan (Kemal)


__ADS_3

Devita yang baru menyadari sesuatu dan berpikir, buat apa Daniel datang kerumah sakit?


''Daniel, buat apa kamu menarik ku ke kesini?'' tanya Devita yang heran karena di ajak ke lantai paling atas dan hanya ada 3 pintu kamar disana.


''Ketemu Ayah,'' jawab Daniel dengan singkat.


''Ayah siapa?'' pertanyaan Devita tidak lagi di jawab Daniel, semenjak dia menyetujui permintaan Devita, Daniel berubah menjadi pendiam dan itu Devita menyadarinya.


Daniel membawa Devita ke sala satu kamar disana, Devita terkesip karena Ayah dari Daniel lah yang berada disana.


''Ayah kamu kenapa?'' tanya Devita.


''Tidak, biasalah mungkin kelelahan,'' jawab Daniel yang langsung duduk di sofa.


Devita melangkah mendekat ke arah berangkar tempat Ayah Daniel tertidur pulas.


''Ayah, Devita datang.'' Ucap Devita memandang wajah Ayah Daniel yang begitu teduh.


Ayah Daniel mengerjapkan mata karena merasa ada yang menyentuh tangannya, senyum dari pria tua itu sangat menyejukan hati siapa pun yang melihat nya.


''Vita, kau datang nak.'' Ucapnya begitu lirih, Daniel yang sedang duduk memainkan ponselnya langsung menoleh karena yang Ia tahu Ayah nya belum juga siuman.


''Ayah sudah bangun,'' ucap Daniel yang langsung mendekat.


''Niel, Ayah ingin berjalan-jalan,'' pinta Ayahnya.


''Tidak Yah, saat ini Ayah sedang tidak sehat,'' tolak Daniel dengan tegas.


Mata Ayah Daniel melihat ke sekeliling ruangan, ya dia tidak tahu kalau dirinya berada di Rumah Sakit.


''Memangnya Ayah sakit apa?'' tanyanya.


''Ayah salah makan saja, sudah ayah lebih baik istirahat ya,'' ucap Daniel begitu lembut.


Sang Ayah tersenyum ia sangat senang mendapatkan perhatian dari anak laki-laki nya yang sangat di kenalnya begitu dingin dan arogan pada yang orang lain.


Devita merasa bahagia melihat Daniel bisa bersikap lembut selain padanya.


''Iya Yah, Ayah istirahat ya,'' timpal Devita, dan Ayah Daniel hanya mengagguk dengan bibir yang melengkung.


Pintu terbuka seseorang datang membawa buah di keranjang yang tak lain Ia adalah Kemal. Sedari dulu kalau Kemal bertemu dengan Daniel tanpa ada janji Ia akan merasa gugup.

__ADS_1


''Kemal kau datang?'' tanya Devita.


''Iya Dev, kau dari tadi?'' tanya balik Kemal.


''Iya, tadi aku kesini ber..'' ucapan Devita terpotong karena Daniel yang berdehem.


Sang Ayah hanya menatapnya sendu karena merasa bersalah.


''Apa kalian tidak menganggap ku ada?'' tanya Daniel dengan mata yang terfokus ke layar ponselnya.


''Maaf Tuan,'' ucap Kemal, Ia melangkah mendekat ke arah brangkar sang Ayah


''Tuan besar, kau sudah siuman?'' tanya Kemal pada Ayah nya sendiri dengan menyebutnya dengan sebutan 'Tuan besar.


''Kalau gitu saya pamit, ada urusan mendadak, permisi.'' Kemal pun melangkah ingin pergi dari ruangan itu, tapi Devita mencoba menahannya.


''Kenapa terburu-buru Kem, kita mengobrol dulu saja,'' ucap Devita.


''Aku sedang ada urusan Dev, Kapan-kapan ya,'' tolak Kemal.


''Tapi Kem,,'' ucapan Devita terpotong lagi oleh Daniel.


''Biarkan lah dia pergi, masih banyak kerjaan yang menantinya,'' ucap Daniel dengan ketus, Devita yang tidak suka Daniel bersikap seperti itu hanya bisa mendengus kesal.


Devita hanya tersenyum menanggapi Kemal yang pamit itu, dia melirik tajam ke arah Daniel yang sedang mengotak-atikan ponselnya.


''Dengan bawahan tidak ada ramah-ramahnya sekali,'' dengus Devita dengan suara pelan.


Ya Devita sampai saat ini tidak tahu kebenaran kalau Kemal adalah adik tiri Daniel, yang Ia tau Kemal hanyalah pesuruh Daniel.


Di rumah Sakit yang sama, Puspa bersama Jonathan yang sedang mengurus administrasi Mamah dari Puspa, sambil mengobrol mencari ide bagaimana caranya agar mereka benar-benar tidak dijodohkan.


''Jo, kita Harus bagaimana? Devita tidak bisa menolong kita saat ini,'' ucap Puspa dengan merengek.


''Aku juga tidak tahu, aku sangat membenci perjodohan.'' Dengus Jonathan.


''Waahhh, Tuan dan Nona ini sedang di jodohkan ya, tidak apa-apa Nona dan Tuan kalian cocok kok,'' timpal seorang wanita bagian administrasi itu.


Puspa dan Jonathan saling pandang dan tersenyum kikuk menanggapi ucapan wanita itu, tanpa di ketahui mereka, seorang pria sudah berdiri di belakang mereka dan mendengar semua obrolan Puspa dan Jonathan serta ucapan wanita administrasi itu.


''Di jodohkan?'' tanya pria itu.

__ADS_1


Puspa yang sangat kenal dengan suara besar itu seketika terpaku di tempat, dengan mengigit bibir bawahnya, Puspa dengan perlahan membalikan badan menghadap orang itu.


''Kemal,'' lirih Puspa.


Jonathan pun ikut berbalik.


''Tuan Kemal,'' ucap Jonatan dengan memamerkan gigi putihnya karena merasa tidak enak hati.


Kemal memicing menatap Puspa dan Jonathan dengan bergantian menuntut penjelasan.


''Apa maksud dari ucapan kalian, dijodohkan? siapa yang di jodohkan?'' tanya Kemal lagi dengan suara yang lebih lantang.


Puspa yang merasa tidak enak karena menjadi pusat perhatian tempat umum langsung menarik tangan Kemal menuju halaman belakang Rumah Sakit yang lebih sepi, tentunya dengan Jonathan yang ikut membuntut dari belakang.


Setibanya di halaman belakang RS, Kemal melepaskan tangan Puspa dengan sedikit kasar.


''Cepat jelaskan apa maksud dari ucapan kalian tadi,'' ucap Kemal dengan tidak sabarnya.


''Kau bisa tenang dulu tidak,'' ujar Puspa dengan sedikit meninggikan suaranya.


''Biar aku yang jelaskan, Pu.'' Timpal Jonathan dan di angguki Puspa.


''Jadi begini Tuan, orang tua kami adalah sahabat karib, dan mereka telah menjodohkan kami sedari dulu, dan kami juga baru tahu belum lama ini.'' Jelas Jonathan.


Kemal hanya diam mendengarkan ucapan Jonathan, namun matanya tertuju ke arah Puspa yang sedang menundukkan kepalanya yang tidak berani menatap langsung mata Kemal.


''Jadi?'' tanya Kemal.


''Kami juga tidak tahu, saat ini Ibu Puspa sakit kami bingung harus bagaimana menolaknya.'' Jawab Jonathan, Puspa menoleh ke arah Jonathan.


''Bingung? kenapa tidak bilang saja kalau kau sudah punya pacar, Puspa. Dan Ibu mu sakit? bahkan aku yang sudah menjadi pacar mu saja tidak mengetahui nya, lantas kau menganggap ku apa, Puspa.'' Ucap Kemal dengan emosi yang menggebu-gebu.


Puspa tidak bisa berkata apa-apa, dia bingung harus menjawabnya bagaimana, karena dia juga salah.


''Kenapa kau tidak menjawabnya, jawab aku Puspa, aku di anggap apa?''


''Ooh apa ini balasan rasa cinta aku yang benar-benar tulus, dan aku baru mengetahui arti ucapan mu yang bilang jalankan saja dulu, Cih' aku tidak menyangka.''


Puspa tetap membisu, begitu juga Jonathan, dan diamnya mereka membuat Kemal menyimpulkan sesuatu.


''Baiklah, Terima kasih atas hubungan yang tak pernah kau anggap ini Puspa.'' Ucap Kemal dengan nada sedikit melembut dan berlalu pergi membawa luka.

__ADS_1


Perasaan Kemal saat ini benar-benar kalut, pertama soal Ayah nya yang sakit dan perlakuan Daniel yang tidak pernah menganggap Ia sebagai adik nya, dan kedua ini lebih sangat menyakitkan karena merasa dipermainkan oleh kenyataan dari Puspa.


__ADS_2