Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Mengelilingi Kota Jakarta


__ADS_3

Saat kesedihan menerpa hanya ada harapan yang begitu dalam setelahnya, seorang manusia hanya bisa berharap tapi sang kuasa lah yang menentukan, begitu juga kehidupan seorang gadis yang bertahun-tahun lamanya yang menderita karena keegoisan serta keserakahan Pamannya.


Ya dia adalah Devita Maharani Huang, setiap malam sebelum masuk ke alam bawah sadarnya Ia selalu berdoa dengan datangnya keajaiban yang bisa membuat Ia merasakan ketenangan serta kasih sayang.


Dan sekarang, akhirnya do'a dan harapan nya semua hadir secara bersamaan, di mula dari datangnya seorang pria yang bahkan dia tidak pernah menduga kehadirannya bisa mengubah hidupnya.


Dan setelah itu pertemuan nya dengan sang Ayah yang sudah 15 tahun di anggapnya sudah pergi jauh bersama Ibunya, hidup yang semula seperti di neraka sekarang hidupnya layaknya di syurga.


Devita tengah duduk di sebuah kursi taman menatap anak kecil yang tengah bercanda dengan Ibu dan Ayahnya, senyuman itu hadir setelah melihat kehangatan keluarga kecil itu.


Ingatan nya yang menampilkan masalalu bersama Ayah dan Mama nya sekilas terlintas namun dengan segera ia tepis karena Devita tidak ingin ada lagi air mata kesedihan.


Hati kecill nya berkeinginan mempunyai keluarga kecil yang harmonis tapi Devita lagi-lagi mentertawai pikiran nya sendiri, bisa-bisanya Ia berfikir jauh seperti itu.


Sepasang tangan menutup mata Devita, Devita tersenyum dan memegang tangan besar itu.


''Daniel, jangan kekanak-kanakan,'' ucapnya dengan lembut.


''Daniel?'' tanya seseorang itu.


Devita yang menyadari itu bukan suara Daniel dengan segera memutar kepala untuk melihat sang empunya suara.


''Dimas,''


''Kau bahkan memanggil nama pria itu dengan seakrab itu,'' ujar Dimas yang ikut duduk di samping Devita, Devita menyingkir sedikit.


''Kau mengenal Daniel?'' tanya Devita.


''Ya aku sangat mengenalnya, kami dulu satu kampus di Los Angeles tapi karena suatu kesalah pahaman hubungan pertemanan kita retak, dan sekarang kami hanya sebuah rekan bisnis tidak lebih.'' Ucap Dimas dengan panjang lebar.


Ada keterkejutan di diri Devita tapi dia berusaha bersikap biasa saja, matanya terus berkeliling takut Daniel melihat mereka dan terjadi kesalah pahamanan.


''Kau sendiri dari mana kenal dengan nya?'' tanya balik Dimas.

__ADS_1


''Kami sepasang kekasih,'' jawab Devita dengan lantang, Dimas pun terkejut bukan main.


''Benarkah?''


''Iya, hubungan kami sudah terjalin cukup lama,'' lanjutnya.


Mimik muka Dimas berubah sendu karena pengakuan Devita, entah Dimas pun tidak tahu.


''Oh ya, kau disini sedang apa? tidak mungkin kan kami tinggal di hotel sedangkan keluarga mu punya rumah di jakarta juga,'' ujar Devita.


''Aku ada meeting lagi,'' jawab Dimas dengan lesu.


Ponsel Devita berbunyi dan menampilkan nama kontak 'Calon suami ku' di disana, ya yang menamainya siapa lagi kalau bukan Daniel sendiri.


Dimas tidak sengaja melihat nama itu dan Ia hanya tersenyum getir.


''Aku angkat telfon dulu,'' pamit Devita yang menjauh dari Dimas.


Ada hati yang harus dijaga sebenarnya, tapi entahlah mengapa Dimas seakan menutup mata akan hal itu. Ada sesuatu yang membuat Dimas bersikap seperti itu.


''Dim, aku duluan ya. Daniel sudah mencari ku,'' tanpa menunggu jawaban Dimas, Devita sudah berlalu pergi dari taman menuju hotel yang di tempatinya.


''Kau wanita yang membuat ku lupa akan cinta terlarang ku, Devita.'' Gumam Dimas yang masih menatap kepergian Devita.


.


.


Devita berjalan dengan santainya menuju lift untuk ke kamar nya,


tapi sebelum Devita masuk ke lift, Daniel sudah keluar dari lift yang sama dengan lift yang ingin di taiki Devita.


''Daniel, Baru saja aku ingin naik.'' Ucap Devita dengan lembut.

__ADS_1


''Kita jalan-jalan, kau mau?'' ucap Daniel menawarkan.


''Tentu,'' jawab Devita dengan senang.


Devita dan Daniel berjalan dengan bergandengan tangan, pasangan kekasih yang bukan asli Indonesia ini sangat mencuri perhatian pengunjung hotel dan para karyawan di sana.


Sampailah tiba di lobby hotel yang sudah ada taxi yang menunggu, sempat merasa heran kenapa Daniel membawanya menaiki taxi tapi dengan jawaban Daniel yang bilang tidak terlalu afal dengan jalan membuat Devita mengerti.


''Tidak apa-apa kan, kita naik taxi?'' ujar Daniel.


''Tidak masalah, selagi kamu di samping aku,'' jawabnya dengan wajah yang menggemaskan.


Daniel di buat gemas oleh Devita, cubitan kecil mendarat di hidung mancung nya sampai meninggalkan warna merah disana.


''Belajar darimana Kata-kata seperti itu,'' goda Daniel.


''Dari mu,''..


Daniel tidak menjawabnya, untuk berkata-kata pun tak mampu karena rasa gemas pada Devita sudah terlampau, Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Devita.


Seharian full Daniel membawa Devita terus berkeliling kota metropolitan ini dengan menyewa sebuah taxi, dari di mulai mengunjungi musium, kebun binatang, sampai pantai.


''Kau senang?'' tanya Daniel melihat wajah puas Devita.


''He'em sangat puas, tinggal di Indonesia ternyata menyenangkan.'' Ucap Devita dengan mata yang berbinar.


''Besok kita akan pulang, tidak apa-apa kan?'' ujar Daniel dengan Hati-hati karena takut merusak mood Devita.


''Tidak apa-apa Daniel, aku juga sudah merindukan Ayah,'' jawabnya.


''Jangan pernah melupakan ku di saat kau sedang bersama Ayah mu,'' ucap Daniel dengan bibir yang cemberut.


''Tidak akan, kalian pria yang paling ku sayang,'' ucapnya dengan spontan dan membuat Daniel tersenyum senang mendengar nya.-

__ADS_1


__ADS_2