Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Penyesalan


__ADS_3

Hidup yang sudah mulai bersemi harus kembali gersang kembali, dari dasar jurang di angkat dan di tempatkan di Istana, tapi dengan satu ungkapan yang membuat hati terluka membuat semua hilang dengan sekejap mata.


Rasa bersalah menjalar, hari demi hari, minggu ketemu minggu yang pada akhirnya satu bulan ini Devita menjalani kehidupan nya dengan kesepian rasa kehilangan membuat Ia merasa tidak bersemangat, ingin rasanya mendekap dan meminta maaf tapi itu hanya keinginannya semata.


Hampir setiap hari, Devita selalu mendatangi kamar Daniel tapi orang yang ingin di temui tidak ada. Bagai di telan bumi, Daniel benar-benar tidak memberikan kabar apapun pada Devita.


''Kamu dimana Daniel,'' lirih Devita.


Devita berjalan menyusuri trotoar untuk menuju sebuah halte yang jaraknya cukup jauh dari Apartemen nya.


Matanya menangkap seseorang yang sedang turun dari mobil, mata yang sayu memancarkan binar bahagia, secercah harapan untuk menemui seseorang mungkin akan terlaksana.


''Tuan Zen.'' Panggil Devita pada Zen yang sedang mengecek ban mobilnya yang terlihat seperti bocor atau apa, Devita tidak tau.


Sang empunya nama sangat mengenali suara lembut itu, Ia pun menoleh dan melemparkan senyum lembutnya, lesung pipi yang terlihat jelas di kedua sisi pipinya membuat ketampanan nya kian menambah.


''Nona Devita,'' balasnya.


Devita yang jaraknya sekitar 20 meter dari Zen, langsung mendekat.


''Tuan Zen apa aku boleh bertanya.'' Ucap Devita dengan wajah yang mengharapkan sesuatu.


''Kau apa kabar, Nona?'' Pertanyaan Zen terlihat sekali ingin mengalihkan pembicaraan.


''Aku baik Tuan, Tuan aku boleh bertanya,'' ucapnya lagi.


Zen menghela nafasnya dengan perlahan.


''Tanyakan lah Nona,''..


''Apa Tuan Daniel baik-baik saja?'' pertanyaan yang memang Zen tahu akan dipertanyakan dari mulut mungilnya Devita.


'' Tuan Daniel baik-baik saja, Nona.'' jawabnya begitu lembut, sebenarnya ada rasa sakit di dadanya melihat seseorang yang sudah mencuri hatinya yang ternyata sedang mengkhawatirkan orang lain.


''Lalu di mana dia?'' tanya nya lagi.


'' Tuan Daniel tidak mengizinkan saya untuk memberitahu keberadaannya, Ia hanya berpesan beliau akan kembali jika hatinya sudah tenang.'' Penjelasan Zen membuktikan bahwa, Daniel memang sedang sakit hati dengan sesuatu atau seseorang.


Rasa bersalah semakin memuncak, mata Devita sudah mulai basah dengan kepala yang menunduk Devita mulai terisak.


''Maaf,'' kata yang samar-samar terdengar ke telinga Zen, Zen sangat mengerti apa yang sudah terjadi dengan Tuannya dan Devita.


Ingin sekali Zen memeluk Devita yang sedang menangis pilu itu, tapi apalah daya ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari suatu tempat.


''Kalau gitu saya permisi Tuan.'' Devita melangkahkan kakinya meninggalkan Zen yang tengah memperhatikan nya.


Baru beberapa langkah dari tempat awal ia berdiri, ada tangan yang menggenggam nya dengan lembut.


''Maaf Tuan Zen, saya harus pergi.'' Ucap Devita tanpa menoleh kebelakang.


Devita berusaha melepaskan cekalan tangan itu tapi Devita merasa Zen semakin mengeratkan cekalannya.


''Tuan Zen Lepas.'' Ucap Devita dengan meninggikan suaranya dan membalikan badannya.

__ADS_1


Wajah yang satu bulan ini Ia harapkan bisa di temuinya, saat ini sedang berada di hadapan nya.


Air mata yang sudah luruh semakin deras, ia menatap langsung manik mata itu, tatapan yang sulit di artikan dari keduanya tersirat.


''Kenapa?'' tanya Daniel, ya orang itu Daniel yang sejak tadi memang memantau dari dalam mobil yang di kendarai Zen.


''Maaf.'' Kata itu lagi yang bisa Devita ucapkan.


''Untuk?''..


''Semuanya.''..


''Apa itu?''..


''Maaf telah menyakiti perasaan mu.'' Lirih Devita yang masih menatap manik hazel Daniel.


Air mata yang tanpa permisi itu dengan derasnya mengaliri pipi chubby Devita, tangan Daniel yang bergerak mengusap air mata Devita dengan lembutnya.


''Jangan menangis.'' Ucapnya lembut.


''Mestinya aku yang meminta Maaf, karena kehadiran ku membuat dirimu tidak nyaman, Vita.'' Ujar Daniel dengan senyum yang sangat di rindukan Devita.


''Bagaimana kabar mu?'' tanya Daniel.


Devita tidak menjawab pertanyaan Daniel, ia hanya menatap lekat mata Daniel yang saat ini sedang menatapnya juga.


''He he he, bodoh sekali aku menayangkan itu ya, pastilah kabar mu baik-baik saja kan.'' Daniel terkekeh dengan pertanyaan nya sendiri.


Devita hanya menatap nanar mobil berwarna Hitam Bright itu sampai menghilang dari pandangan.


''Kau benar-benar meninggalkan ku lagi, Daniel.'' Ucap Devita yang begitu lirih, dia sadar ini memang semua permintaan nya tapi kenapa Daniel menganggap ucapannya begitu serius.


Semula yang berniat untuk pergi ke kampus Ia urungkan, Devita berlari untuk kembali lagi ke kamarnya dan meluapkan rasa sedihnya, dan pastinya merutuki kebodohannya. Penyesalan penyesalan penyesalan hanya itu perasaan yang Devita rasakan saat ini.


Siapa yang disini egois, entahlah. Daniel hanya mengabulkan permintaan Devita tapi kenapa Devita merasa tidak senang.


Suara getaran yang berasal dari ponselnya terdengar jelas tapi Devita dengan sengajanya mengabaikan itu.


Berada di sebuah Balkon dengan tatapan yang kosong, ya saat ini Devita sedang merenungi penyesalan yang ada di benaknya, lalu dengan apa Devita memperbaiki nya.


Suara getaran itu kembali terdengar dan kali ini Devita dengan terpaksanya mengangkat nomor yang menghubunginya itu.


''Emmm''..


''Kau tidak masuk kelas?''


''Tidak, aku sudah izin.''..


'' Apa kau sakit?''..


'' Iya aku sedikit tidak enak badan, sudah ya aku ingin istirahat.'' Devita memutus sambungan telepon itu dengan sepihak.


Di Kampus.

__ADS_1


''Bagaimana?'' tanya Jonathan.


''Dia Izin tidak masuk kelas hari ini,'' jawab Puspa.


''Kenapa?''..


''Katanya sedang tidak enak badan, tapi sepertinya memang benar, soalnya suara Devi terdengar sumbang,'' ucap Puspa.


''Kau tau Devi tinggal dimana?'' tanya Jonathan


''Iya aku tau, Devi tinggal di Apartemen Harvard,'' jawabnya.


''Selesai mata kuliah kita kesana, aku khawatir dengan keadaan nya.'' Ujar Jonathan.


''Iyah aku setuju.''..


.


Rasa kecewa yang kembali menerpa dirinya membuat Daniel menginginkan meluapkan emosinya di tempat terkutuk yang sudah lama Ia tak kunjungi.


Langkah kaki Daniel begitu yakin menuju gedung yang gemerlap dengan lampu yang bertebaran dimana-mana.


Dengan hormat para penjaga gedung itu memberi salam dan mempersilahkan masuk si Tuan Daniel itu.


''Hei Bro Daniel.'' Sapa seorang pria tampan di ujung ruangan yang sedang duduk dan di kelilingi 3 wanita berpakaian setengah telanjang itu.


Daniel menghampiri mereka dengan wajah datarnya.


''Sudah lama kamu tidak kesini Niel.'' Ucap pria itu yang bernama Terry.


Daniel tidak menjawab ucapan Terry, tangan melambai ke seorang Bartender untuk meminta di antarkan minuman yang biasa Ia minum.


Dengan sigap si pelayan itu mengantarkan pesanan yang di minta Tamu VVIP nya.


3 botol Bir tersedia di atas meja dengan tangan yang lihai Daniel membuka tutup botol itu dan menuangkan ke gelas yang sudah di sediakan.


Dalam satu tenggakan, bir yang di tuang di gelas khusus itu tandas, Terry sangat mengenal Daniel. jika cara Daniel meminum nya seperti itu berarti Daniel sedang ada masalah.


''Kau butuh pelampiasan?'' tanya Terry.


''Siapakan satu yang sudah di pastikan sehat.'' jawabnya dengan suara yang dingin.


''Baiklah, kali ini kau percaya kan pada ku.'' Terry menghubungi seseorang dan meminta pesanannya.


Satu wanita yang ada di samping Terry menghampiri Daniel dengan gaya menggoda nya.


''Tuan apa kau butuh pelampiasan.'' Ucap wanita itu dengan gaya centilnya dengan tangan yang sangat berani membelai wajah tampan Daniel.


Terry yang baru saja memutuskan sambungan telepon nya melihat ke arah wanita yang sedang membelai wajah Daniel, mata Terry melebar dengan menelan sulit salivanya.


''Kau sedang membangunkan singa tidur, Nona.'' Gumam Terry menatap iba pada wanita itu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2