Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Paniknya Daniel


__ADS_3

Puspa dapat melihat wajah gugup Kemal, entah apa yang telah di sembunyikan kekasihnya dari dia, namun Puspa akan tetap berpikir positif selagi Kemal memang masih berpegang pada ucapannya.


'' Kenapa diam?'' tanya Puspa menyadari kebisuan Kemal.


'' Jessica itu teman satu kampus aku dan ka Daniel juga Zen waktu di Amerika, Jessica mantannya Zen tapi lebih tepatnya teman dekat Zen, dan pertemanan nya pecah karena dia menyatakan perasaan nya pada ku, batas itu ka Daniel membenci ku sebab dia mengira aku sama seperti ibu ku,'' cerita Kemal panjang lebar.


Puspa terdiam, ia mencerna kata demi kata yang Kemal ucapkan dan ada satu kalimat yang membuat dirinya ingin sekali tahu.


'' Ka Daniel? Kem, kamu belum cerita soal hubungan kamu dengan ka Daniel,'' Kemal terdiam lagi, entah dia seakan tidak ingin membahas masa lalu yang pahit itu namun dia merasa, dia harus mengatakan nya pada kekasihnya.


'' Sebenarnya kami ini bersaudara satu ayah tapi berbeda ibu,'' jawaban Kemal membuat Puspa terkejut. Sebab inilah dia selalu memanggil Daniel dengan sebutan kakak, dan selalu patuh dengan apa yang Daniel katakan, pikir Puspa.


Wajah Kemal berubah sendu saat ka 'ibu terucap dari bibirnya, menandakan bahwa ia sangat merindukan sosok ibu di kehidupan nya. '' Maafkan aku jika aku menyinggung perasaan mu dengan membahas soal sensitif seperti ini,'' sesal Puspa.


'' Tidak, kamu memang harus mengetahui nya, karena sebentar lagi kamu juga akan menjadi bagian hidup ku,'' ucapan Kemal sangat menyentuh Puspa, pipi bersihnya merona den kepala tertunduk malu.


'' Sempat-sempatnya kamu menggombal seperti itu,'' ucap Puspa pelan.


'' Aku serius Mpus, aku akan datang ke rumah mu untuk menemui ibu mu,'' ucap Kemal dengan tatapan mautnya.


Puspa terdiam, ia mencari kebohongan di mata Kemal namun ia sama sekali tidak menemukan tanda kebohongan di sana, air mata menetes tanpa permisi, Puspa benar-benar sangat bahagia hari ini.


'' Apa kamu berkata dengan sungguh-sungguh?'' tanya Puspa dan Kemal memberikan anggukan kepala sebagian jawabannya.


'' Tapi, aku harus menunggu kamu lulus dulu, bukan maksud aku untuk menundanya, aku tidak mau kamu terganggu di masa-masa ujian kelulusan kamu,'' ucap Kemal.


Puspa tersenyum haru, dia tidak mempermasalahkan soal itu, yang terpenting Kemal sudah memberikan kepastian untuk nya.


Matahari sudah terbenam di ufuk barat, sepasang suami istri masih berada di dalam mobil, keduanya saling berbincang tapi lebih tepatnya Devita lah yang terus berbicara tanpa rasa lelah.

__ADS_1


'' Honey, belakang ini kamu banyak berubah ya,'' cetus Daniel membuat Devita menoleh dengan menyatukan alisnya.


'' Berubah? berubah bagaimana?''


'' Ya, sekarang kamu banyak bicara, dan lebih anehnya lagi kamu sekarang banyak makan,'' ucap Daniel dengan tawanya.


'' Emmm, aku juga merasa sih, tapi mungkin ini hormon aku yang mau datang bulan,'' jawab Devita dengan santainya dan Daniel yang hanya mengangguk karena memang tidak mengerti dengan permasalahan wanita.


Setelah mobil terparkir apik di basement Apartment, seperti biasa Daniel selalu membukakan pintu mobil untuk Devita walau kadang Devita menolaknya karena Devita merasa itu terlalu berlebihan.


Saat mereka bedada di dalam lift tiba-tiba Devita memegangi kepalanya yang mungkin saja terasa sakit, Daniel melihatnya dan langsung segera memeganginya.


'' Honey, kamu kenapa?'' tanya Daniel.


'' Kepala ku sakit sekali, Daniel,'' lirihnya.


Tanpa aba-aba Daniel segera mengangkat tubuh ramping istrinya dengan berbarengan pintu lift terbuka, Daniel segera keluar dari lift dan membawanya ke unit kamarnya.


'' Kau istirahat ya, honey,'' ucap Devita dengan lembut, Devita tidak menjawab tapi dia hanya mengangguk karena rada pusing dikepalanya membuatnya seakan malas untuk mengeluarkan suaranya.


'' Pasti Vita kelelahan,'' gumam Daniel dengan sibuk menghubungi Dokter.


'' Segera datang ke apartemen ku,'' ucap Daniel pada Dokter dan menutupnya tanpa permisi lagi, sungguh sikap arrogant yang sangat parah.


Daniel kembali ke ranjang dan mendekati istrinya yang sesekali merintih kesakitan dengan memegangi kepalanya yang sudah pasti membuat Daniel semakin panik.


'' Dokter itu sangat lamban sekali,'' gerutu Daniel.


'' Daniel kau tenanglah aku tidak apa-apa, aku hanya sakit kepala,'' lirih Devita.

__ADS_1


'' Aku harus bagaimana, aah Linda ya Linda, saat ini Linda pasti masih bersama Zen, akan aku hubungi Zen untuk membawa Linda kesini,'' gumam Daniel yang segera menghubungi nomor Zen.


'' Pasti Linda lebih mengerti soal keluhan para wanita yang mau datang bulan,'' lanjutnya.


'' Zen Ke apartemen ku, sekarang!! bawa Linda juga,'' setelah mengatakan apa yang ingin di katakan, Daniel menutup sambungan telepon begitu saja seperti biasanya.


Di perjalanan, Zen yang masih bersama dengan Linda di dalam mobil segera memutar kembali kemudinya menuju apartemen Daniel.


'' Hei, kenapa kau putar balik seperti itu, antarkan aku dulu baru setelah itu kau urus urusan mu,'' protes Linda.


'' Tuan menyuruh ku membawa mu ke apartemen nya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Devita,'' jawab Zen yang merasa khawatir karena Daniel menelpon nya dengan nada yang panik juga.


Linda menarik nafasnya dengan kasar mendengar ucapan yang bernaa khawatir itu.'' Tuan kau harus bisa melupakan perasaan mu pada seseorang yang bahkan sudah bahagia dengan suaminya,'' cetus Linda.


Ucapan Linda membuat Zen terhenyak kaget. Apa maksud dari ucapan Linda, pikir Zen.


Tanpa betkata apapun Zen segera menepikan mobilnya dan menatap serius pada Linda, Linda yang di tatap merasa gugup karena tatapan itu sangat berbeda dari biasanya.


'' Kau kenapa? apa ada yang salah dengan ucapan ku?'' ucap Linda dengan sikap yang salah tingkah.


'' Katakan, apa maksud dari ucapan mu itu?'' tanya Zen dengan nada yang sangat dingin.


'' Ucapan ku? apa?'' tanya Linda balik. Linda melebarkan matanya setelah menyadari kalau ucapannya itu sangatlah sensitif.


Terlebih lagi dia mengetahui nya dari Zen langsung pada saat Zen sedang mabuk atau bisa di bilang tidak sadar dengan apa yang telah dia ucapkan.


'' Jawab!!'' bentak Zen, Linda tersentak kaget, baru kali ini dia melihat tatapan tajam Zen yang sangat menyeramkan serta bentakan Zen yang terdengar menggelegar, memang dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Zen tapi kali ini sangatlah berbeda dari biasanya.


'' Ma-maksud ku, kau harus berhenti mencintai Nona Devita, ka-karena bagaimana pun dia adalah istri bos mu kan.'' Jawab Linda dengan rasa takut.

__ADS_1


'' Memangnya siapa kau bisa mengatur ku, hah!!'' Bentak Zen lagi.


'' Kau hanyalah seorang pelayan yang berkedudukan atasbnama kepala pelayan, jadi jaga sikap mu.'' Ucap Zen yang masih dengan emosinya.


__ADS_2