Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kejutkan di setiap Tindakan


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah sakit, Daniel yang sedang menyetir merasa kesal karena panggilan dia belum juga di jawab Zen sedari tadi.


'' Brengsek, kemana dia,'' gerutu Daniel.


'' Mungkin dia sedang sibuk, Daniel. Lagi pula bukannya Zen juga sudah meminta waktu cuti padamu,'' timpal Devita.


'' Bukan seperti itu honey, berkas kerja sama dengan perusahaan cabang yang di Prancis hanya dia yang tahu letak penyimpanan nya.'' ucap Daniel yang sedang menahan kesalnya.


Daniel tidak mau meluapkan emosinya di hadapan Devita karena dia takut mempengaruhi kondisi Devita yang sedang hamil muda itu.


'' Oh begitu,''


Saat Daniel akan menghubungi Zen lagi, ada panggilan masuk ke nomor nya.


'' Ya, kenapa?'' ucap Daniel dengan tegas.


Daniel terdiam karena sedang mendengarkan dengan apa yang di katakan si penelpon.


'' Sial, Bagaimana bisa, memangnya siapa si penanggung jawab pembangunan itu?'' tanya Daniel.


Saat si penelpon menyebutkan siapa yang di maksud, Daniel terdiam dengan wajah syok nya, dan tanpa mengucapkan apapun, dia menutup telponnya dengan sepihak.


'' Ada apa Daniel?''


'' Tidak honey, tidak apa-apa,''


Sampailah mereka berdua di rumah sakit, Devita ada temu janji dengan dokter yang akan melakukan pemeriksaan rutin kandungan nya setiap bulan.


'' Selamat pagi tuan muda, nona muda,'' salam si dokter itu dengan ramah.


'' Apa sudah bisa melihat jenis kelamin?'' bukan menjawab salam dokter, Daniel malah bertanya jenis kelamin calon anaknya.


Dokter terbelalak dengan pertanyaan Daniel, ia ingin sekali tertawa namun nyalinya tidak cukup berani untuk melakukan itu, dan sebisa mungkin dokter kandungan Devita menahan tawanya.


'' Baiklah mari kita lihat dulu, bisa tidaknya, akan terlihat di layar monitor.'' Ucap Dokter yang mengarah kan Devita dan Daniel menuju ruang khusus USG.


Setelah Devita merebahkan dirinya di brangkar, dan Dokter mulai menaruhkan jel ke perut Devita yang sudah ada bentuk gundukan kecil di bagian bawah perutnya itu, Dokter pun mulai melakukan pemeriksaan.


Daniel terus mengarahkan matanya ke layar monitor karena dia ingin sekali melihat calon anaknya namun yang terlihat hanya sebuah bentuk yang belum sempurna.


'' Maaf tuan, jenis kelamin nya belum terlihat,'' ucap Dokter itu.


Ada raut kecewa di wajah Daniel namun ia cukup mengerti. '' Ya sudah tidak apa-apa. Lalu bagaimana keadaan calon anak ku?''


'' Perkembangan nya bagus, sehat dan detak jantungnya pun berdetak normal,'' ucap Dokter itu.

__ADS_1


Setelah melakukan pemeriksaan dan dokter memberikan resep vitamin untuk Devita, mereka pun pergi dari rumah sakit.


'' Daniel, apa aku boleh tau, kenapa kau ingin sekali tau jenis kelamin anak kita?'' tanya Devita.


'' Aku hanya ingin tahu, honey. Agar kita bisa menyiapkan perlengkapan calon anak kita sesuai jenis kelaminnya,'' jawab Daniel.


'' Bukan untuk hal lain kan?''


'' Hal lain?''


'' Iya, kemarin aku menonton film yang menayangkan drama tentang, suami yang hanya menginginkan seorang anak laki-laki dan jika anaknya perempuan si suami akan menceraikan si istri.'' Ujar Devita menceritakan apa yang telah ia tonton.


Daniel terbelalak mendengar cerita Devita yang bahkan dia tidak pernah berpikiran kalau dia akan menceraikan Devita hanya karena jenis kelamin anak.


Daniel baru menyadari kalau apa yang sangat ingin dia ketahui, membuat sang istri merasakan ketakutan tanpa alasan.


'' Honey, maafkan aku ya, oke aku janji, aku tidak akan menanyakan jenis kelamin anak kita, mau perempuan ataupun laki-laki aku tidak peduli, yang terpenting anak kita sehat dan kita akan hidup bahagia bersama anak kita.''


'' Benarkah?''


'' Iya honey, bahkan aku tidak pernah berpikir untuk jauh dari mu apalagi untuk menceraikan mu hanya karena itu, lain kali jangan pernah menonton drama seperti itu ya.'' Ucap Daniel penuh kelembutan dan Devita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Di Negara lain, tepatnya di sebuah cafe. Zen dan Linda sudah selesai dengan makan siangnya, mereka terdiam sejak tadi, tidak ada yang memulai pembicaraan.


Zen yang sejak tadi diam membisu dan Linda yang gengsi untuk memulai pembicaraan.


'' Linda, apa saya boleh bertanya?''


'' Apa?''


'' Apa paman mu yang tadi itu paman yang sama dengan yang ku kenal waktu dulu,''


'' Iya, kenapa?''


'' Kau dengan Daniel, keluarga?''


'' Iya,''


'' Bagaimana bisa?''


'' Daniel tidak menceritakan nya padamu?'' Zen menggeleng kan kepalanya.


'' Haaahh, ya sudahlah,''


'' Berarti dugaan ku benar, dia orang yang sama,'' gumam Zen dalam hati.

__ADS_1


'' Dia kenapa diam lagi seperti itu, ada apa sih dengan nya,'' gumam Linda dalam hati.


'' Tuan, saya pamit lebih dulu,'' ucap Linda yang sudah beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Zen.


Zen yang sedang melamun hanya bisa diam karena belum menyadari nya, tapi sesaat kemudian setelah menyadari kalau Linda sudah tidak ada di sana, ia langsung bergegas mencari Linda setelah membayar makanan yg yang mereka makan.


'' Kamu ini, main pergi saja,'' omel Zen setelah berhasil menemukan Linda.


'' Main pergi saja bagaimana, jelas-jelas saya sudah berpamitan,''


'' Apa iya?''


Di sela-sela pembicaraan mereka, ponsel Zen berdering menandakan ada panggilan masuk ke ponsel nya.


'' Sebentar, jangan kemana-mana, Daniel menelpon ku,'' ucap Zen yang langsung mengangkat sambungan telepon itu.


'' Ya kenapa tuan,'' ucap Zen yang kesal karena waktu cutinya masih saja di ganggu.


......


'' Hah! bagaimana bisa. Oke baiklah, akan segera saya urus,'' ucap Zen yang langsung menutup sambungan telponnya.


Linda menatap heran Zen yang terlihat menahan emosi nya, wajah Zen yang menegang dan rahang yang mengeras, Linda sudah sangat paham dengan raut wajah Zen yang seperti itu.


'' Kenapa?'' tanya Linda.


'' Aku ada urusan, mungkin beberapa hari ini kita tidak dapat berjumpa, maafkan aku, kau bisa kan pulang sendiri,'' ucap Zen dengan tatapan seriusnya dan itu mampu membuat Linda terkesima.


Linda tidak menjawab nya, ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari ucapan Zen.


'' Kalau begitu kah pulang hati-hati ya,'' ucap Zen yang langsung berbalik ingin melangkah, namun baru beberapa langkah ia berjalan, Zen menghentikan langkahnya dan membuat Linda merasa bingung.


Zen berbalik dan kembali menuju Linda.


Linda yang bingung hanya menatap nya dengan menyatukan alis tebalnya. Tapi tindakan Zen kali ini yang benar-benar sangat tiba-tiba membuat Linda terbelalak.


Cup


Zidan mengecup kening Linda dengan waktu hang lumayan lama. '' Aku pamit,'' ucap Zen yang langsung berlalu masuk ke mobilnya meninggalkan Linda seorang diri yang masih terkejut dengan tindakan nya.


Linda meraba keningnya dengan debaran jantung yang tidak biasa, pipi nya memerah dengan sendirinya, iapun tidak tau mengapa.


'' Ada apa dengan diriku,'' gumam Linda.


TBC..

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya baru ku ya ☺️☺️ yang berjudul ( HANYA ISTRI PURA-PURA )


__ADS_2