Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Salah Paham


__ADS_3

Tibalah mobil yang membawa Mahendra, Devita serta Puspa di sebuah restoran yang di beri nama Restaurants Zaza's.


Restoran ini mengenang masa lalu Devita bersama Ibu dan Ayahnya, restoran favorit mereka saat Devita kecil.


''Waah tempatnya keren ya, Dev.'' ucap kagum Puspa.


''Iyah, maka dari itu aku menobatkan restoran ini sebagai tempat favorit keluarga ku.'' Jawab Devita.


''Sudah-sudah, duduk lah, dan pesan apa yang kalian ingin makan,'' ucap Mahendra menengahi.


Devita Puspa dan Mahendra pun duduk di kursi khusu tamu VVIP di sana.


''Kalian pesan saja dulu, aku ingin ke toilet, sebentar.'' Pamit Devita.


''Kau mau Ravioli, Dev.'' Ucap Mahendra dan di angguki Devita.


''Tentu Ayah, dan jangan lupa dengan Tuna Tempura nya,'' ucap Devita dengan riang nya.


Mahendra tertawa dengan bahagianya.


''Aku juga izin ke toilet ya Yah,'' timpal Puspa.


''Iya iya, jangan lama, nanti makanannya keburu dingin,'' ucap Mahendra.


Devi dan Puspa berlalu menuju toilet di sebelah utara.


''Terima kasih ya Dev,'' celetuk Puspa.


''Buat apa?''


''Terima kasih sudah mengizinkan aku merasakan mempunyai Ayah saat ini,'' ucap Puspa lagu, Devita tersenyum hangat.


''Kita sahabat bahkan lebih dari sahabat, apa yang sudah milik ku itu juga milik mu, kecuali cinta ku,'' ucap Devita dengan di akhir kalimat Ia berubah sendu.


''Sudahlah jangan di pikirkan perkataan Nadia, yang terpenting kau harus tetap percaya pada Daniel.'' ucap Puspa.


''Aku selalu berusaha untuk percaya kok,''


Di toilet lain tepatnya di toilet pria, pria berjambang baru saja keluar dari bilik toilet dan sedang mencuci tangannya di wastafel, Ponselnya berdering dan ada sebuah pesan masuk ke aplikasi chatting nya.


''Satu jam lagi, ah masih ada waktu untuk mengganggu ular itu,'' gumamnya dengan senyum jahilnya.


Saat Ia ingin keluar dari toilet dengan tidak sengajanya menabrak seorang gadis mungil yang kebetulan keluar dari pintu toilet wanita.


''Awwww,'' teriak gadis itu.


''Maafkan saya Nona,'' ucapnya yang ingin membantu gadis itu yang tertabrak tubuh tegapnya sampai jatuh duduk.

__ADS_1


''Asisten Zen,'' ucap gadis itu.


''Nona Puspa,'' ucap Zen.


''Bisa tidak kalau berjalan jangan sambil memainkan ponsel, tubuh besar mu sungguh membuat orang celaka kau tu,'' omel Puspa.


''Tubuh mu saja yang kelewat mungil,'' gumam Zen.


''Apa kau bilang,'' teriak Puspa.


''Tidak,'' jawab Zen dengan dingin.


''Menyebalkan,'' ketus Puspa, dan ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Zen, tapi teriakan Zen membuat Puspa menghentikan langkahnya.


''Nona tunggu,''


''Ada apa?'' tanya Puspa dengan sinis.


''Kau disini apa bersama Nona Devita,'' tanya Zen.


''Memangnya kenapa?''.


''Aku bertanya untuk di jawab bukan untuk di pertanyaankan lagi.'' Ucap Zen yang tetap dengan nada dinginnya.


''Issshhh dasar Bernard,'' celetuk Puspa.


''Maaf Tuan, saya lama,'' ucal Zen.


''Duduk dan makanlah,'' perintah Daniel.


Saat Zen ingin mendudukan ke kursi, alarm mobil berbunyi dengan sigap, Zen pergi untuk mengecek nya setelah izin pada Daniel.


Puspa mengikuti arah Zen melangkah, matanya melotot melihat Daniel bersama Nadia.


''Kau sedang melihat apa?'' tanya Devita yang baru saja keluar.


Puspa tidak menjawabnya. ''Ya sudah ayo cepat takut Ayahmu menunggu kita,'' ucap Puspa sedikit gugup.


'Semoga Devita tidak melihat Daniel bersama Nadia, dan si asisten itu pergi kemana lagi.' Ucap Puspa dalam hati dan matanya mencari sosok Asisten itu.


Mereka pun menuju mejanya, tapi mata Devita tidak sengaja melihat Daniel yang hanya bersama Nadia saja, Ia berdiri dengan terpaku, dada yang bergemuruh cepat, dan tentu rasa sakit di hatinya yang Ia rasakan.


Puspa mengusap wajahnya, apa yang di takuti malah terjadi.


''Dev, Daniel tidak hanya berduaan saja dengan Nadia, ada Zen juga tadi.'' Ucao Puspa.


''Kau sudah melihat nya Pu,?'' tanya Devita.

__ADS_1


''Iya, tadi dia menabrak ku di depan toilet,'' jawab Puspa.


Daniel duduk dengan membelakangi Devita dan Puspa jadi Ia tidak tau kalau Devita ada di belakangnya, Nadia yang memang sudah melihat kehadiran Devita dengan sengaja nya menyuapi Daniel dengan alat makannya.


''Daniel, kau coba Steak Tartare ku,'' uvap Nadia menyodorkan garpu ke depan mulut Daniel, Daniel sebenarnya menolak tapi Nadia terus memaksa yang pada akhirnya Daniel pun mau membuka mulutnya, itupun tidak lepas dari pandangan Devita.


''Ya sudah ayo Pu, Ayah pasti menunggu kita,'' ajak Devita yang langsung menarik tangan Puspa melewati jalan lain menuju mejanya.


''Kalian lama sekali, sudah Hampir dingin makanan kalian.'' Omel Mahendra.


''Ayah, lama tidak bertemu Ayah menjadi cerewet sekali.'' Jawab Devita meledek sang Ayah.


Puspa melihat senyum Devita yang nampak di paksakan, Puspa yakin bahwa Devita tengah menyimpan rasa cemburu nya.


Merekapun makan dengan hening, sampai makanan di piring Mahendra sudah tandas dan di susul Devita serta Puspa yang juga sudah menghabiskan makanannya juga.


''Bagaimana kabar Daniel?'' tanya Mahendra dengan tiba-tiba yang sontak membuat Devita malas untuk menjawabnya.


''Ayah tau, hubungan mereka selalu membuat para muda mudi yang melihat nya pasti iri.'' Timpal Puspa mengalihkan perhatian Mahendra.


''Benarkah?'' tanya Mahendra dengan senang.


''Iya banar, ya kan Dev.'' Ucap Puspa menyonggel Devita yang tengah melamun.


''Wah berarti Sebentar lagi, ayah akan mempunyai menantu,'' celetuk Mahendra dan membuat Devita tersesak saat sedang minum juice nya.


''Kau tidak apa-apa nak.''


''Tidak Yah, Yah kita bisa pulang sekarang.'' Ucap Devita dan di angguki Mahendra.


Setelah membayar pesanannya, mereka pun meninggalkan restoran itu.


Di meja VVIP juga, Zen baru kembali dari parkiran mengurus mobil Daniel yang tertabrak dari belakang oleh mobil pengunjung lain.


''Maaf Tuan, mobil anda sedang di bawa pengawal untuk di perbaiki, tapi saya sudah memerintahkan Robert agar membawa mobil tuan yang lainnya ke sini,'' ucal Zen.


''Parah kah?'' tanya Daniel.


''Hanya rusak di bagian bemper saja,''


''Ya sudah teruskan makan mu,''


Mereka pun makan dengan sesekali Nadia bertingkah manja dengan Daniel yang membuat Zen muak melihat nya, saat Ia ingin membuka mulut nya untuk memasukan makannya Ia teriangat sesuatu.


''Oh iya Tuan, maafkan saya, saya baru ingat kalau tadi saya bertemu dengan nona Puspa disini,'' ucap Zen, Daniel dan Nadia langsung menoleh.


''Biarkan saja mungkin dia sedang bersama Kemal,'' jawab Daniel dengan cueknya.

__ADS_1


''Tidak Tuan, dia bersama Nona Devita,'' ucapan Zen membuat expresi kedua orang itu terkejut, Daniel yang langsung berdiri dari duduknya untuk mencari Devita, tapi Nadia dengan tatapan kesalnya pada Zen.


__ADS_2