
Pintu terbuka setelah Daniel menyahutinya dari dalam.
''Ada apa Zen?'' tanya Daniel dengan ketus, semenjak dia mengetahui perasaan Zen untuk Devita, Daniel seperti tidak rela kalau Zen berada di dekat kekasihnya itu.
''Maaf kalau saya mengganggu, berkas ini membutuhkan tanda tangan anda sekarang juga.'' Ucap Zen yang menyerahkan berkas yang ada di tangannya.
Daniel menerimanya dan membacanya, sudah menjadi kebiasaan memang, sebelum mentanda tangani berkas Ia harus membacanya terlebih dulu.
Selagi Daniel membaca berkas itu, Zen mencuri pandang melihat wajah Devita yang pucat utu, pandangan bteduh Zen tertangkap Daniel.
''Ekhemmm,'' Daniel dengan sengaja berdehem untuk menyadarkan Zen agar tidak memandang miliknya.
Suara pintu diketuk, Daniel hanya memberi isyarat dari mata untuk Zen agar membukakan pintu.
''Selamat siang Tuan,'' sapa Linda dengan wajah datar tanpa expresinya.
''Masuklah,'' Zen menyingkir memberi jalan untuk Linda agar bisa masuk.
''Selamat siang Tuan muda, saya di perintahkan Nona muda untuk mengantarkan ini,'' Linda menaruh paperbag di atas nakan samping tempat tidur Devita.
''Apa itu?'' tanya Daniel.
''Makanan untuk Tuan muda, Nona berpesan agar Tuan memakannya,'' jawab Linda.
Daniel tidak menjawab lagi, dia hanya mengangguk tanda 'iya. Linda memandang wajah Devita sebentar, ada rasa yang tidak biasa di hati Linda melihat wajah pucat Devita.
__ADS_1
'Cepatlah bangun Nona, banyak yang menanti dirimu di Dunia nyata ini,' batin Linda.
''Kalau begitu, saya pamit undur diri. Permisi.'' Linda berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar.
Melewati tubuh Zen tanpa melihat nya, tatapan Linda hanya terpokus ke depan tanpa menoleh kiri atau kanan.
''Tidak sopan,'' cetus Zen saat Linda melewatinya tanpa tidak menyapanya.
Linda menghentikan langkahnya dan mundur beberapa langkah.
''Saya permisi,'' ucap Linda dengan ketus.
Zen tidak menjawabnya, dia hanya diam dan memandang punggung Linda yang kini semakin menjauh.
''Kenapa kau memandang Linda seperti itu?'' tanya Daniel dengan tatapan menyelidik.
''Lebih baik kau buka hati mu untuk orang lain, jangan mengharapkan sesuatu yang sudah milik orang, apalagi itu milikku.'' Ucap Daniel sedikit menyindir di akhir kalimat nya.
Daniel sudah mentanda tangani berkas itu dan menyerahkan kembali pada Zen.
''Kalau begitu saya pamit undur diri untuk kembali ke Kantor,'' pamit Zen tanpa menjawab ucapan Daniel tadi.
Zen berlalu keluar dari kamar inap Devita ''Entahlah aku bisa atau tidak melupakan Devita.'' Gumam Zen yang sedikit menghela nafasnya dengan kasar, mengingat pertemuan pertama pada Devita, wajah itu yang membuat Ia langsung jatuh cinta, tapi sayang, Devita tercipta bukan untuk nya.
Linda yang baru saja keluar dari lift harus berhadapan lagi dengan Nando teman masa sekolah nya, sebenarnya Linda tidak mempunyai masalah apapun dengannya, tapi Linda sangat risih karena Nando tipe pria yang banyak bicara, sampai membuat Linda tidak bisa menyeimbanginya.
__ADS_1
''Dokter Nando yang terhormat, maaf. Ini masih jam kerja saya, saya tidak bisa bersantai hanya untuk menemani mu makan siang,'' tolak Linda dengan halus karena Nando yang terus memaksa Linda memberikan waktunya sebentar.
''Hanya untuk makan apa tidak diizinkan dengan bos mu?'' Nando tidak menyerah untuk mengajak Linda makan siang bersama.
''Tidak, karena saya,,'' ucapan Linda terpotong seseorang yang tiba-tiba bergabung di antara mereka.
''Dia mempunyai janji makan siang dengan ku, maka dari itu dia tidak bisa menerima tawaran mu,'' ucap orang itu yang tiba-tiba menimpali ucapan Linda.
Linda dan Nando menoleh ke asal suara itu yang ternyata itu adalah Zen yang baru saja keluar dari dalam lift, alis linda menyatu dengan sempurna karena Ia sangat merasa heran. ''Kapan aku memiliki janji dengannya?'' pikir Linda dalam hati.
Nando menatap mata Linda meminta penjelasan nya, Linda hanya diam dengan menatap Zen dan Nando secara bergantian.
''Benarkan Nona?'' Zen menatap langsung manik mata Linda yang berwarna biru itu. Linda masih diam karena ia tidak terbiasa untuk berbohong pada siapapun itu.
''Benarkah Linda, kau menolak tawaran ku karena sudah ada janji?'' tanya Nando memastikan. Linda menoleh lagi ke wajah Zen langsung.
''Iy-iya,'' jawab Linda yang sedikit tergagap.
''Oh ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali kau harus menerima tawaran ku ya,'' Linda menganggukan kepalanya pelan.
''kalau begitu aku permisi.'' Nando pun berlalu begitu saja meninggalkan Linda yang bersama Zen.
''Kenapa anda berbohong,'' tanya Linda dengan nyalang.
''Kau harus berterima kasih pada ku, karena kalau aku tidak berbohong, Dokter genit itu akan terus memaksa mu.'' Jawab Zen yang langsung pergi dari hadapan Linda yang masih terpaku menatap punggung tegap Zen.
__ADS_1
''Dasar aneh,'' Linda yang tidak mau berpikir terlalu serius, ia pun ikut berlalu menuju mobilnya untuk kembali ke Mansion dan melanjutkan pekerjaan nya.