
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
Serta tipsnya bila perluπππ Nglunjak kata orang sunda mah yaa...πππ
...πππππ...
HAPPY READING π..
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam yang sunyi, menatap para bintang yang bertaburan di langit hitamnya, jari yang menunjuk ke bintang-bintang itu seperti menyatukan para bintang ke bintang lainnya.
''Mama, aku rindu. Aku ingin memeluk mu, hadir lah dalam mimpi ku walau sekejap.'' Tidak terasa air mata dari mata lentik Devita meluncur bebas ke pipi mulusnya.
''Tuhan sudah mengabulkan permintaan ku soal Ayah, dan sekarang apa aku harus egois meminta permintaan lagi,'' racaunya masih menatap bintang-bintang itu.
Kerinduan pada orang tuanya memang selalu hadir, tangis yang selalu membuat Ia meluapkan itu semua. Sang Ayah yang di pinta sudah terkabul, Ayah yang ternyata masih sehat dan sekarang bisa Ia peluk kembali seperti 12 tahun yang lalu.
Sebuah ketukan pintu membuat Devita buru-buru menghapus air matanya.
Terdengar suara pintu yang terbuka dan suara langkah kaki yang semakin mendekat, dan 'Grep.
Seseorang memeluk Devita dari belakang, pelukan menyiratkan kerinduan dan Kasih sayang yang sangat mendalam.
''Ayah,'' lirih Devita.
''Apa Ayah mu suka memeluk mu seperti ini,'' suara yang sangat di kenalnya, suara itu bukan milik Ayahnya.
Devita pun menoleh untuk melihat wajah sang pemilik suara.
''Daniel,'' wajah senang terpancar.
''Ya siapa lagi. Aku sangat merindukan mu, Vita.''
''Benarkah?'' tanya Vita.
Daniel langsung melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh mungil Devita menatapnya tidak percaya.
''Kau meragukan ku?'' tanya Daniel.
''Bagaimana ya?'' ucap Devita dengan wajah yang seolah-olah tengah berfikir.
__ADS_1
''Menyebalkan,'' ketus Daniel.
Daniel menjauh dan duduk di kursi yang berada di balkon, tangannya yang bersedekap, wajah yang di tekuk menandakan dia sedang kesal.
Devita melihat wajah merajuk Daniel, dia sangat merasa gemas melihat nya.
Seketika wajah Devita berubah, sesuatu membuat Ia heran.
''Bagaimana bisa kau masuk ke sini?'' pertanyaan itu membuat Daniel semakin kesal.
Keinginan nya jika sedang merajuk, mendapatkan rayuan. Tapi yang di harapkan tidak sesuai harapan.
''Bisa saja, kapanpun aku mau,'' ketus Daniel.
''Lalu Ayah.'' Devita masih di buat heran, bagaimana bisa sang Ayah langsung menyetujui Daniel masuk ke kamar anak gadisnya.
Devita tidak tau perjuangan Daniel agar bisa masuk ke kamar nya bagaimana, Daniel harus menurunkan harga dirinya sedikit di depan calon mertuanya hanya untuk bisa menemui Devita langsung di kamarnya.
Flashback.
Daniel tengah gundah, rasa rindu yang tidak terbendung membuat Ia seperti pria gila.
Mondar-mandir tidak karuan, Ia sedang berfikir, bagaimana caranya Ia bisa menemui Devita dengan bebas, dan memeluk nya untuk membayar rasa kerinduan nya.
''Apa aku harus memohon pada Pria tua yang menjengkelkan itu,'' gumamnya.
Dengan sigap Daniel meraih kunci mobilnya dan belalu dengan langkah lebarnya.
Persetan dengan harga diri, Daniel tidak lagi memikirkan itu. Yang sangat terpenting Ia bisa bertemu dengan gadis yang membuat Ia merasakan rindu yang sangat berat ini.
Membawa mobil dengan kecepatan tinggi tidaklah sulit baginya, setengah jam perjalanan akhirnya Daniel sampai di Mansion mewah milik Mahendra Huang.
Rasa kesal memuncak kala harus berhadapan dengan penjagaan yang ketat namun Ia harus meredam rasa emosinya, demi sang pujaan hati.
Saat ingin masuk ke Mansion, lagi-lagi harus berhadapan dengan penjaga, bisa saja Ia langsung menghajar nya namun wajah Devita yang selalu di pikiran nya membuat Ia harus menahan nafsu membunuh nya.
''Ingin bertemu dengan siapa, Tuan.'' Ucap penjaga depan pintu.
''Tuan kalian,'' ketus Daniel.
''Sebentar, saya akan menyampaikan terlebih dahulu, Tuan tunggulah sebentar.'' Ucap penjaga itu dan berlalu masuk.
''Shitt!! baru kali ini aku di suruh menunggu, penjaga siallan.'' Maki Daniel.
Tidak berselang lama, penjaga itu kembali dan mempersilahkan masuk namun masih dalam pengawasan.
''Mari Tuan, saya antar.''
__ADS_1
Daniel memutar matanya malas, ingin bertemu pacar sendiri saja sangat di persulit, pikirnya.
Penjaga itu membawa Daniel ke ruang tamu yang sudah ada Mahendra di sana dengan cangkir teh di tangan nya.
''Ohooo, kau rupanya.'' Ucap Mahendra dengan tatapan meledek.
''Bisa kau membuat penjaga mu tidak mempersulit ku, Tuan Mahendra calon Ayah mertua ku,'' ucap Daniel menahan rasa kesal.
''Apa penjaga ku membuat mu kesal, calon menantu ku.'' Balas Mahendra.
Daniel mendengus kesal, tapi ada rasa bahagia setelah mendengar pria paruhbaya di depannya menyebutnya 'calon menantu.
Penjaga itu pergi setelah Mahendra memberi isyarat.
''Duduklah.'' Perintah Mahendra.
''Ada perlu apa kau datang ke sini?'' tanya Mahendra.
''Tentunya ingin bertemu dengan calon istri ku.'' Jawab Daniel dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi.
''Calon istri? apa kau yakin aku menyetujui hubungan kalian?''
''Tidak ada alasan untuk anda meragukan ku, Tuan Mahendra.''
''Ck. Sangat percaya diri sekali,'' ketus Mahendra.
''Pasti.'' Daniel berucap dengan gayanya.
Mahendra melengos kesal.
''Beri aku satu alasan untuk menyetujui hubungan kalian.'' Ucap Mahendra dengan serius.
''Sudah ku katakan, tidak ada alasan untuk anda meragukanku.'' Jawab Daniel dengan jawaban yang sama.
''Ck, baiklah. Kalau begitu berkata sopan lah seperti calon menantu kebanyakan pada calon mertuanya.''
Ini tantangan atau perintah? Daniel berfikir. apa Ia harus menurunkan sedikit harga dirinya?
''Baiklah, maafkan Aku. Tolong restuilah hubungan kita, Tuan.'' Ucap Daniel dengan lembut.
Sumpah, baru kali ini Daniel bisa berkata lembut selain pada Devita. Apa ini benar-benar Daniel? ini sejarah yang sangat luar biasa, jika alam bisa tertawa, mungkin Ia akan tertawa karena Daniel.
Mahendra terkesip mendengar permohonan tulus Daniel, seorang pria arogan dan berwatak keras bisa bersikap selembut itu pada orang lain hanya demi seorang gadis.
Rasa yakin seketika hadir di benak Mahendra.
''Temuilah dia, dia dikamarnya.'' Ucap Mahendra dengan nada lembut juga.
__ADS_1
Flashback off.