
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππ...
Daniel menunggu jawaban langsung dari mulut Nadia, namun Nadia tetap bungkam.
''Nadia, kau sangat mengerti aku bukan, aku sangat tidak suka menunggu.'' Ucapan tegas Daniel membuat Nadia semakin gugup.
''Alasan apa yang harus ku berikan.'' Batin Nadia dengan terus mencari alasan sebagai jawaban.
''Daniel sudahlah, ini makan dulu, kau sedari tadi belum makan.'' Ucap Devita mencairkan suasana dengan menyodorkan makanan ke depan mulut Daniel.
Dengan tersenyum lembut Daniel membuka mulutnya dan memakan apa yang di suapi Devita.
Tapi tunggu, Daniel bukan melupakan pertanyaan nya untuk Nadia, hanya saja Ia menundanya.
''Baiklah teruskan makan kalian.'' Daniel mengerti apa yang di rasakan ketiga orang itu.
Acara makan pun telah usai, Devita yang menghabiskan makanan nya dengan di bantu Daniel, Zen yang hanya memakannya dengan sedikit karena hati yang sulit di ajak kompromi dan juga Nadia yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan nya.
''Daniel, aku ke toilet sebentar.'' Pamit Devita dan di angguki Daniel.
''Hati-hati, dan jangan lama.'' Ucapnya dengan posesif.
Mata Zen terus mengikuti arah langkah Devita, dengan berat Ia menghela nafasnya, debaran itu selalu di rasakan Zen saat dekat dengan Devita apalagi melihat senyum manisnya.
''Ekhemm..
Sebuah deheman membuat Zen tersadar dengan lamunannya.
''Aku masig menunggu jawaban mu, Nadia.'' Uvap Daniel dengan tangan yang bersedekap di atas perut dan menyenderkan tubuhnya di senderan kursi.
''A-aku tahu dari Ka Dinar.'' Jawab nya dengan tergagap.
''Benarkah?'' mata Daniel memicing.
''Iy-iya, masa kau tidak percaya.''
''Bukan mencari tahu tentang Nona Devita.'' Timpal Zen, ucapan Zen membuat keringat Nadia bercucuran dengan wajah yang seketika pucat pasih.
__ADS_1
Daniel tidak mengatakan apapun, dia hanya ingin tahu jawabannya dari mulut Nadia langsung.
''Tentu saja bu-bukan,'' elak Nadia.
Daniel melirik Zen yang tengah menatapnya, Zen hanya menggedikan bahunga.
''Haaahhhh, ya sudahlah,'' ucap Daniel.
Zen mengerti dengan apa yang di maksud Daniel, dengan kata 'ya sudahlah bukan berarti masalah di selesaikan, ada maksud lqin dari kata-kata itu.
Nadia menghela nafasnya lega dan itu di sadari oleh Zen. ''Itu adalah sebuah peringatan, Nona.'' Bisik Zen ke telinga Nadia.
.
.
.
Di depan kampus, Puspa sedang menunggu supirnya yang akan mengantarkan nya ke Toko bunganya.
''Haisss lama sekali.'' Gerutu Puspa dengan bosan.
''Kau menunggu siapa?'' tanya seseorang yang ternyata adalah Jonathan.
''Pak Dir, aku sudah mengatakan nya untuk menjemput ku tapi sampai sekarang belum datang juga,'' jawab Puspa.
''Baiklah.''
Puspa pun menghubungi supir nya, dan si supir ternyata sedang mengalami kendala pecah ban yang di karenakan tidak bisa menjemput Puspa.
''Bagaimana?'' tanya Jonathan.
''Sedang mengalami kendala pecah ban.'' Jawabnya lesu.
''Ya sudah, ayo aku antarkan saja, memang nya kau mau kemana?''
''Ke Toko, aku akan menyiapkan untuk acara pembukaan Toko besok.''..
''Devita?''
''Devita sedang tidak enak badan.'' Jawab Puspa, ya Puspa tidak mengatakan problem yang sebenarnya, Ia tak ingin ada yang mengetahui apa yang di alamai Devita saat ini.
''Tidak enak badan, kenapa kau tidak memberi tahukan aku, sudah hampir seminggu aku tidak melihat Devita.'' Omel Jonathan dengan khawatir.
''Kau tidak perlu berlebihan seperti itu, Devita saat ini sudah ada yang mengurusnya.'' Ucapan Puspa menyadarkan Jonathan bahwa ada Daniel di samping Devita, dan tidak membutuhkan dirinya untuk di samping nya.
__ADS_1
''Oh iya, aku melupakan itu,'' jawabnya dengan lemas.
Puspa terkekeh melihat wajah murung Jonathan.
''Jangan menunjukkan wajah murung mu, Jo.'' Ucao Puspa dengan tawanya.
''Kenapa kau tertawa,''..
''Wajah mu terlihat sangat mengenaskan,'' ledek Puspa.
''Kau sangat menyebalkan ya, Pu.'' Sungut Jonathan.
''Ya begini lah, tapi dengan aku yang seperti ini membuat ketertarikan tersendiri bagi lawan jenis, tau.'' Ucap Puspa dengan percaya diri.
''Ya, ya. Queen gamers yang menyebalkan.'' ..
Keduanya pun tertawa bersama, di kejauhan di sebuah mobil Jeep hitam, seorang pria melihat Puspa dengan Jonathan yang tengah bercanda itu dengan tatapan tajam nya.
''Ada apa dengan ku, hanya melihat Puspa dengan Jonathan bercanda saja, se emosional ini.'' Ucapnya dengan diri sendiri.
''Apa iya aku menyukai gadis tengil itu.'' Kemal terus bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Ya pria itu adalah Kemal yang sedari tadi menyaksikan Puspa yang mengobrol dengan Jonathan begitu akrabnya.
''Ah tidak mungkin, jelas-jelas aku lebih tertarik pada Devita.'' Elak Kemal dengan tidak ingin mengakui perasaan nya pada siapa sebenarnya hatinya tertuju.
''Urusan seperti ini saja, aku bisa-bisanya selabil ini,'' gerutu nya.
Kemal melihat Puspa yang sudah masuk ke mobil putih milik Jonathan.
''Mereka ingin kemana ya? apa aku ikuti saja,'' dengan berpikir sebentar, Kemal pun akhirnya mengikuti kemana Puspa dan Jonathan pergi.
Mobil Jonathan berhenti di sebuah minimarket.
''Buat apa mereka kesitu?'' ..
Menunggu beberapa saat akhirnya Puspa dan Jonathan keluar dari minimarket dengan kantong plastik berwarna putih di masing-masing tangan nya.
Terlihat Jonathan yang sedang mengambil alih Plastik yang di bawa Puspa, dengan Puspa yang memberikan senyum manisnya ke Jonathan.
''Apa perlu harus sedekat itu, dan apa itu segala tersenyum seperti itu.'' Kemal terus menggerutu dengan kesal karena melihat Puspa dan Jonathan yang begitu akrab nya.
Setelah Puspa dan Jonathan menaiki mobil nya kembali dan Mobil yang mulai melaju, Kemal pun bergegas melajukan mobilnya juga.
Rasa apa ini yang ada di hati Kemal, Ia kesal dengan kedekatan antara Puspa dan Jonathan, memangnya siapa dia yang berhak untuk marah.
__ADS_1
Untuk mengakui apa yang di rasa saja belum mampu tapi dengan enaknya Ia terus menggerutukan kedekatan Dua anak manusia itu, dasar Kemal.