Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kepergian Linda


__ADS_3

Tiba saatnya Linda kini akan meninggalkan negara yang di tinggalinya selama bertahun-tahun itu, Linda sudah bersiap untuk pergi namun ada kendala karena penerbangan Delay di sebabkan cuaca buruk hari ini.


Linda berangkat ke Bandara dengan di antarkan Dinar, Daniel juga Devita, mulanya Linda menolak karena dia tidak ingin merepotkan siapapun tapi tiga orang itu tidak mengidahkan penolakan Linda.


'' Kau harus hati-hati disana, kalau ada apa-apa segera hubungi di antara kami,'' ucap Daniel.


'' Siap Pak bos,'' gurau Linda.


'' Penerbangan ditunda dua jam, apa kita harus pergi meminum kopi dulu di sana,'' usul Dinar dan di setujui ke tiga orang lainnya.


Linda dan Devita berjalan lebih dulu dan Daniel juga Dinar berjalan membuntut di belakang, '' Daniel, apa kau tidak memiliki pekerjaan, jika memang kau sibuk kau pergi saja biar nanti Devita pulang bersama ku,'' ucap Dinar.


Daniel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. '' Sebenarnya iya ka, setengah jam lagi aku akan melakukan pertemuan dengan klien ku tapi Devita memaksa ku untuk menemaninya untuk mengantarkan Linda, kau tau kan ka aku tidak akan bisa menolak permintaan istri ku itu,'' jawab Daniel.


'' Ya sudah pergilah, biar istri mu pulang dengan ku,'' ucap Dinar, Daniel berpikir sejenak tapi sesaat kemudian dia menyetujui nya jika istrinya juga setuju.


'' Biar aku yang biacara, kau diam saja,'' ucap Dinar yang langsung memepet ke samping Devita.


'' Adik ipar apa kau mau menemani ku berbelanja setelah dari sini,'' ucap Dinar, Devita melirik Daniel untuk meminta persetujuan dan Daniel menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


'' Iya ka, aku mau.'' Jawab Devita dengan senang.


Mereka duduk di sebuah kafe di Bandara dan memesan kopi, tapi tiba-tiba Daniel mendapatkan telpon untuk segera kembali ke perusahaan. '' Honey aku harus pergi, tidak apa kan?'' tanya Daniel.


'' Tidak apa Daniel, kau pergilah, biar aku pulang bersama ka Dinar,'' jawab Devita dan Daniel berpamitan untuk ke kantor.


Daniel segara kembali ke mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh karena ada kabar yang membuat nya harus kembali ke kantor dengan segera.


Hanya memerlukan waktu lima belas menit Daniel sampai di kantor, ia segara menuju ruangannya banyak yang menyapa namun tidak sama sekali ia jawab.


'' Tuan Daniel,'' sapa Zen yang sudah menunggu nya di dalam ruangan kantor Daniel.

__ADS_1


'' Bagaimana bisa, coba kau ceritakan,'' ucap Daniel yang segara duduk di kursi kebesaran nya.


'' Ya Tuan, ternyata proyek yang akan kita tangani proyek milik Tuan Barta yang sangat terkenal dengan kelicikan nya, banyak keluhan tentang perusahaan miliknya, dan belakangan ini saya sudah mencari tahu ternyata dia telah memalsukan data yang dia berikan pada kita,'' jelas Zen dengan detail.


Rahang Daniel mengeras ia sangat membenci dan mengutuk pada pelaku penghianatan juga kecurangan, Daniel diam sejenak untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. '' Baiklah, segara hubungi pihak perusahaan dia, katakan jika pertemuan kita di majukan sekarang juga,'' ucap Daniel dengan mutlak.


Zen mangangguk dan berlalu ke meja sekertaris dan memerintah untuk menghubungi klien yang akan melakukan meeting dengan CEO perusahaan.


Tapi saat dia sampai di depan meja sekertaris ternyata wanita yang bernama Rere itu sedang menerima telpon.


'' Baiklah Linda kau hati-hati disana, jangan lupa kabar-kabari aku, sudah dulu ya aku masih banyak pekerjaan,'' ucap Rere yang sedang menelpon seseorang yang ternyata Zen sedang mendengar kannya.


Deheman Zen membuat Rere terkejut dan langsung berdiri dengan menundukkan kepalanya. '' Maaf Tuan Zen, tadi teman ku menelpon,'' ucap Rere.


'' Teman mu, siapa?'' pertanyaan Zen tentu membuat Rere tercengang karena tidak biasanya Zen bertanya dengan suara lembut padahal ada yang sedang berbuat kesalahan.


'' Linda Tuan, yang sering kesini untuk mengantarkan makanan untuk anda dan Tuan Daniel,'' jawaban Rere membuat Zen mengernyit kan alisnya.


'' Linda, memangnya ada apa dia menghubungi mu?'' tanya Zen lagi, dan lagi-lagi Rere merasa aneh.


'' Linda hanya ingin berpamitan pada ku karena hari ini dia akan terbang ke luar negeri untuk menetap disana,'' jawab Rere lagi.


Zen terkejut mendengar nya ia bahkan melupakan dengan apa yang di perintahkan Daniel untuk nya menyuruh Rere untuk menghubungi klien Daniel.


Zen Masih terdiam dan membuat Rere mendapatkan kesempatan untuk menatap wajah tampan Zen dengan waktu yang lama.


'' Tuan Zen sangat tampan sekali,'' gumam Rere dalam hati yang mengagumi ketampanan Zen.


Cukup lama Zen terdiam namun dia cepat tersadar karena mengingat apabyang di perintahkan Daniel. '' Astaga, Rere. Cepat hubungi klien kita yang dari BR Group untuk memajukan pertemuan sekarang juga,'' perintah Zen yang menyadari lamunan Rere karena terkesima dengan ketampanan Zen yang bahkan baru kali ini dia nikmati.


'' Ba-baik Tuan,'' sahut Rere dengan gugup.

__ADS_1


Zen berlalu kembali ke ruangan Daniel untuk mengatakan bahwa perintahkan nya sudah di laksanakan. '' Terima kasih Zen kau telah melakukan penyelidikan terlebih dulu, kalau tidak aku tidak akan tau kebusukan mereka,'' ucap Daniel dengan tulus.


'' Sama-sama Tuan, ini sudah menjadi tugas saya,'' jawab Zen.


Menunggu datangnya klien yang akan datang, Zen tengah di landa kegundahan, entah kenapa saat mendengar kalau Linda sudah pergi dari negaranya membuat pikiran nya terganggu dan Zen pun memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Daniel.


'' Tuan maaf, apa boleh saya menayangkan sesuatu pada Anda,'' ucap Zen.


'' Katakan lah,'' sahut Daniel.


'' Apa benar Linda akan pergi ke luar negri untuk menetap disana?'' tanya Zen, Daniel terdiam ia menoleh ke arah Zen dengan tatapan yang sulit di artikan.


'' Kenapa?'' tanya Daniel.


'' tidak aku hanya bertanya saja,''


'' Dia bahkan bukan hanya akan, tapi memang dia sudah terbang ke sana,'' jawab Daniel.


Zen terdiam dan itu membuat Daniel keheranan dengan sikap Zen.


'' Apa kau menyukai Linda?'' tanya Daniel.


Zen tersentak mendengar nya, ia bahkan bingung untuk menjawab nya bagaimana.


'' Tidak Tuan, aku hanya bertanya saja,'' jawab Zen dengan menampakkan wajah biasa saja.


'' Kalau kau menyukainya kenapa kau tidak mengutarakan nya, jangan sampai kau menyesal nantinya,'' ucap Daniel dengan bijak.


'' Tidak Tuan,'' keukeuh Zen dan membuat Daniel mengangguk.


Zen terus saja melamun di sofa yang ada di ruangan Daniel, bahkan ucapan Daniel hanya beberapa yang masuk ke telinganya.

__ADS_1


Daniel merasa aneh dengan sikap Zen, dengan ke keukeuh an ucapannya yang mengatakan bahwa dia tidak menyukai linda tapi sikapnya berbeda dengan apa yang di ucapkan.


Tqpi Daniel hanya memperhatikan nya karena dia sangat menghargai privasi sahabat sekaligus asisten nya itu.


__ADS_2