
Di Mansion Carroll, Linda juga sama gelisahnya dengan Zen yang berada di kantor sana, mau tidak mau ia harus meng'iya kan titah Tuan mudanya.
'' Kalau bukan Tuan Daniel yang memerintahkan ku, mana mau aku kesana, apalagi harus bertemu dengan monster itu,'' gerutu Linda. Linda pun berlalu untuk segera mengambil berkas yang di perlukan untuk Zen.
Setelah menemukan apa yang di carinya, Linda pun segera pergi dari Mansion menuju perusahaan Carroll untuk menemui Zen yang menunggu berkas itu.
Sepanjang perjalanan Linda terus menggerutu, ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Zen yang di ingatnya sangatlah menyebalkan menurutnya.
Tibanya di kantor Linda segera menuju ruangan dimana Zen berada, tapi langkahnya terhenti saat ia memiliki rencana untuk bisa mengantarkan berkas itu sampai ke tangan Zen walau tidak sampai bertemu dengan Zen.
'' Nona Rere, tunggu,'' panggilnya pada sekertaris Ceo di sana.
'' Iya Linda, ada apa?'' sahut wanita yang seumuran Linda itu.
'' Kau bisa membantu ku?''
'' Apa itu,''
'' Tolong bantu aku memberikan berkas ini pada tuan Zen bisa? karena aku sedang ada urusan,'' ucap Linda dengan harap.
'' Maafkan aku Lin, kali ini aku benar-benar tidak bisa membantu mu, karena aku di perintahkan untuk pergi ke kantor cabang sekarang juga,'' ujar Rere dengan raut yang merasa bersalah.
Linda mengehela nafasnya dengan kasar, rencananya benar-benar gagal, dan mau tidak mau dia sendiri yang akan mengantarkan berkas itu juga bertemu dengan pria yang membuat nya selalu sial pikirnya.
'' Ah ya sudah tidak apa, kau pergilah, hati-hati.'' Ujar Linda dengan senyum ramahnya, Rere pun berlalu pergi dari hadapan Linda.
'' Kenapa kau menyuruh Rere, bukannya Tuan Daniel sendiri yang memerintahkan mu untuk mengantarkan berkas itu langsung pada ku.'' Suara yang sangat di kenal Linda itu berasal dari belakang tubuh Linda dengan segera Linda berbalik menghadap sang pemilik suara barinton itu.
'' Selamat pagi Tuan Zen,'' sapa Linda dengan hormat.
'' Emmm, ikut aku,'' Zen berlalu pergi mendahului Linda menuju ruangannya.
'' Tuan tunggu, ini berkasnya,'' panggil Linda tapi tidak di gubris Zen.
'' Dia benar-benar menyebalkan,'' gerutu Linda kesal karena panggilan nya tidak di jawab Zen.
Linda menyeret kakinya menuju ruangan Zen dimana Zen sudah duduk di kursi kerjanya, mengetuk pintunya dahulu barulah ia membukanya.
__ADS_1
'' Ini Tuan berkasnya, kalau begitu saya langsung pergi, permisi,'' Linda sudah berbalik berniat untuk segera pergi dari ruang Zen, tapi suara Zen lagi-lagi menghentikan langkah nya.
'' Apa yang kau dengar dari mulut ku sendiri tadi malam?'' tanya Zen yang berhasil menghentikan langkah Linda.
'' Aku tidak mendengar apapun,'' jawabnya tanpa menghadap langsung ke wajah Zen.
'' Sebenarnya aku tidak peduli kau mendengar atau tidak, tapi perlu kau ketahui apa yang kau dengar dan ketahui itu tidaklah benar, kau mengerti,'' Ucap Zen yang sudah berada di hadapan Linda.
Linda memicing merasa ucapan Zen sangatlah melampaui batas nya.
'' Tuan Zen, aku sangat mengerti posisi ku, aku hanyalah seorang pekerja rendahan tapi perlu kau tahu aku juga berhak mendapatkan kata Terima kasih dan Maaf, bukan.'' Jawab Linda dengan tegasnya.
'' Terima kasih untuk apa, dan maaf? maaf untuk apa?'' ucap Zen dengan rasa bingungnya.
Linda terkekeh namun dengan nada yang berbeda.
'' Ya aku sangat mengerti sekarang, kau pria yang angkuh dan pantas di panggil dengan Mr, Monster.'' Ucap Linda sembari telunjuknya yang di tekan didada bidang Zen dengan emosinya, telunjuknya ia lepaskan dari dada Zen dan berlalu melewati tubuh Zen.
'' Linda!!'' panggil Zen dengan nada kencang, tangannya meremat kencang lengan Linda, ia benar-benar tidak terima Linda memanggilnya dengan panggilan Mr, Monster.
'' Apa! kau tidak terima di sebut Mr Monster? mestinya kau berpikir bukan malah marah.'' Jawab Linda yang sedang berusaha melepaskan tangan Zen yang mencengkram lengannya.
Zen masih mencengkram kuat lengan Linda tapi Linda juga tidak menyerah untuk melepaskan diri dari Zen, tatapan keduanya menyiratkan kebencian di antara mereka, dan pada akhirnya Linda berhasil melepaskan tangan Zen yang sudah di pastikan menyisahkan tanda merah di lengannya kalau Linda menggulung lengannya karena ia juga merasakan sakit di area tempat Zen cengkram.
'' Aku tidak salah bukan menjuluki kau sebagai Monster,'' setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, Linda berlalu begitu saja dari hadapan Zen yang menatap tajam pundak Linda yang menghilang dibalik pintu.
'' Aarrhhhggg, kurang ajar!!'' teriak Zen.
Airmata Linda menetes karena ini pertama kalinya ia berkata kasar pada seseorang selain itu ia juga merasakan kesakitan di area bekas Zen cengkram.
Berbeda dari suasana memanas di antara Zen dan Linda, sepasang kekasih yang baru saja berganti status menjadi pasangan suami dan istri itu sedang menghabiskan waktunya berduaan di sebuah pantai.
'' Apa kau senang sayang?'' tanya Daniel pada Devita.
'' Sangat senang, terima kasih,'' ucap Devita dengan senyum manisnya.
'' Apa kau tidak lelah sayang, kita sudah berkeliling dari danau, taman bunga, taman hiburan sampai ke pantai tapi kau tetap ceria seperti itu,'' ucap Daniel, ya mereka sudah berjalan-jalan seharian dan saat ini sudah menjelang petang.
__ADS_1
'' Aku tidak akan lelah karena ada kau di samping ku, Daniel.'' Ucap Devita dengan manjanya.
'' Istri ku ini sudah pandai merayu,'' keduanya terkekeh bersama sembari meminum air kelapa dari kelapa nya langsung.
Keduanya terus berbincang dengan mesranya di pinggiran pantai dengan menduduki bebatuan di sana, beberapa orang yang melintas melihat ke arah pasangan itu dengan rasa irinya, pasangan yang berparas sempurna itu berhasil membuat beberapa orang merasa iri sampai ada turis yang meminta berfoto bersama dengan mereka.
Sampai pada akhirnya tempat itu sudah semakin sepi hanya tinggal mereka berdua saja.
'' Maaf,'' ucap Devita dengan tiba-tiba.
'' Maaf untuk apa sayang?''
'' Soal tadi pagi,'' ucap Devita, Daniel pun langsung mengerti arah ucapan Istrinya itu.
'' Tidak apa sayang, aku mengerti pasti kau takut kan, aku akan menunggu tiba saatnya kau siap, oke.'' Jawab Daniel dengan lembut.
'' Bukan seperti itu, aku menolaknya karena,'' Devita menggantung ucapannya, Daniel menunggu kelanjutan ucapan Devita dengan sabar.
'' Apa?'' tanya Daniel
'' Eemmm itu, issshhh aku malu,'' ucap Devita dengan manja.
'' Malu? malu kenapa, coba katakan,''
'' Aku sedang kedatangan tamu bulanan,'' ucap Devita dengan sangat pelan.
'' Tamu? tamu siapa, siapa dia?'' tanya Daniel yang tidak mengerti maksud dari istilah yang Devita ucapkan.
'' Daniel, bukan itu maksudku,''
'' Lalu apa?''
'' Aku sedang datang bulan, Menstruasi kau tau itu,'' ucap Devita dengan geram karena Daniel yang tidak mengerti dengan istilah-istilah sederhana yang di katakannya.
Mata dan mulut Daniel terbuka karena Devita mengatakan sesuatu yang privasi bagi seorang wanita dengan jelasnya, tapi setelah itu Daniel tertawa terbahak-bahak karena gemas melihat wajah Devita yang memerah.
Tbc..
__ADS_1