
Beberapa saat kemudian setelah Zen mematikan sambungan telpon, pintunya di ketuk dari luar.
''Masuk!!'' teriak Zen.
Pintu terbuka di barengi seorang gadis yang memakai kemeja putih masuk dengan sebuah paperbag di tangnnya.
''Kau telat lima belas menit dari biasanya.'' Ucap Zen dengan nada bicara seperti biasanya, dingin.
''Jalanan bukan hanya aku yang melewatinya,'' jawab Linda dengan sikap cueknya.
Linda yang sudah menaruh paperbag diatas meja, segera berpamitan namun Zen menahannya.
'''Linda, Nona Dinar menelpon ku.'' Ucap Zen yang berhasil menghentikan langkah Linda.
''Lalu, urusan ku apa? kau yang di telpon Nona muda, kenapa harus melapor padaku,'' ucap Linda yang tidak berselera berbicara dengan Zen.
''Yang melapor pada mu siapa? aku hanya ingin menyampaikan, Devita sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan mu, itu yang nona Dinar katakan padaku,'' ucap Zen dengan senyum yang di sembunyikan nya.
''Nona Devita sudah sadar? haaahhh, syukurlah, baik aku akan kesana.'' Linda berlalu begitu saja meninggalkan Zen yang masih duduk di sofa.
''Tidak sopan, ya sudahlah aku lapar.'' Zen yang tidak mau memikirkan Linda segera meraih paperbag di depannya dan membukanya.
''Kelihatan nya enak,'' Zen pun melahapnya dengan rakus, karena memang sudah lewat dari jam makan siangnya, bisa saja ia makan di kantin kantor atau di restoran manapun yang dia inginkan tapi Dinar melarang nya.
Hanya memerlukan waktu sepuluh menit makanan yang di bawakan Linda sudah tandas tak tersisah karena Zen memang sudah kelaparan.
''Sebaiknya aku juga ke Rumah Sakit, aku ingin melihat keadaan Devita.'' Zen beranjak setelah membereskan kembali kotak makan dan di masukan kembali ke paperbag.
Zen berjalan dengan sejuta pesonanya, para karyawan wanita seperti tersihir saat melihat wajah tanpa expresi itu.
Seperti candu bagi mereka melihat wajah dingin Zen yang sangat dikenal sebagai pria berbahaya di kantor selain Daniel.
Mata Zen menangkap seseorang yang sedang berada di depan kap mobil yang terbuka.
__ADS_1
''Ada apa dengan mobilnya?'' gumam Zen yang berinisiatif menghampiri nya.
''Hei, ada apa dengan mobil mu?'' tanya Zen pada orang itu yang ternyata ia adalah Linda.
''Entahlah Tuan, mobilnya tidak ingin menyala,'' Linda masih berusaha memperbaiki nya.
''Memangnya kau memakai mobil tahun berapa, bisa-bisanya maogok dengan tiba-tiba,'' ledek Zen dengan sengaja.
Mata Linda memicing menatap Zen, ucapan Zen sungguh membuat telinganya sakit mendengar nya.
''Akan saya sampaikan keluhan mu pada Tuan besar,'' jawab Linda dengan cuek.
''Kenapa Tuan besar?''
''Ya karena mobil ini pemberian beliau untuk ku,'' jawab Linda yang tertawa dalam hati karena melihat sikap Zen yang salah tingkah mendengar ucapannya.
''Ya sudah lupakan saja, menyingkirlah, saya akan memeriksanya.'' Zen mengambil alih yang Linda kerjakan untuk memeriksa mesin mobil nya, Linda menyingkir beberapa jarak memberikan ruang untuk Zen.
''Ini harus di bawa ke bengkel,'' jawab Zen yang menutup kembali kap mobil Linda.
''Kau tidak bisa memperbaikinya?'' tanya Linda.
''Bisa, hanya saja aku tidak mempunyai alatnya,'' jawab Zen.
''Haahh, alasan, bilang saja tidak mampu,'' gumam Linda yang terdengar dengan samar-samar ke telinga Zen.
''Siapa yang kau maksud itu?'' ucapnya dengan rasa tidak terimanya karena di ejekan Linda.
''Tidak, aku tidak mengucapkan apa-apa,'' elaknya.
Zen berdecak kesal mendengar Linda yang mengelak, sudah jelas-jelas memang dirinya sedang menggerutu tapi tidak mengakuinya.
Para karyawan yang melihat Zen sedang bersama Linda diparkiran menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda, ada yang mulai bergosip, ada yang menatapnya iri dan tidak sedikit juga ada yang beranggapan bahwa Zen dan Linda sangat cocok kalau sebagai sepasang kekasih.
__ADS_1
Para karyawan yang tidak sengaja lewat pun ikut berbisik-bisik.
''Tuan Zen mau berbicara dengan lawan jenisnya se'intens itu?''
''Iya selama ini kan, dia hanya berbicara dengan singkat,''
''Iya bahkan ada sebagian karyawan yang tidak pernah mendengar suaranya,''
Itulah kasak-kusuk para karyawan yang melihat Zen dan Linda berbicang di parkiran, bisa di bilang bukan berbincang melainkan hanya berdebat.
Zen melihat kesekeliling dan dia baru menyadari kalau mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian para karyawan disana.
''Sudahlah lebih baik kau memesan taxi dari ponsel mu,'' usul Zen yang tidak mau berlama-lama menjadi bahan perbincangan mereka yang melihat nya.
''Ponsel ku hilang, apa boleh aku memesan taxi dari ponsel mu,'' ucap Linda dengan pelan.
''Yang benar saja, mana mungkin aku mempunyai aplikasi semacam itu,'' ketus Zen menanggapi ucapan Linda.
''Ya sudah kalau gitu, aku akan mencari taxi di sekitar sini,'' Linda ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Zen tapi lagi-lagi Zen menghentikan langkah Linda.
''Disini susah mencari taxi, kau ikut mobil ku saja, kebetulan aku juga ingin menjenguk Devita.'' Ucap Zen yang sudah berlalu begitu saja.
Linda masih berdiri di tempat nya, melihat punggung Zen yang semakin menjauh menuju mobil, tanpa mengajak nya.
Cara Zen menawari tumpangan untuk nya membuat Linda merasa kesal, menawari tapi tidak mengajaknya, sungguh konyol.
Linda terperanjat saat mendengar suara klakson yang berasal dari mobil Zen.
''Kau mau berdiam diri disana atau mau naik?'' tanya yang sudah berada di dalam mobil.
Dengan hati yang kesal dan rasa keterpaksaan akhirnya Linda mau masuk ke dalam mobil milik Zen, satu ruangan yang luas bersama Zen saja sudah membuat Linda kesal apalagi harus satu atap di dalam mobil yang terbatas ruang geraknya.
Tbc..
__ADS_1