Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Happy night


__ADS_3

Perginya Jonathan tentunya membuat Amaira patah hati, pasalnya dia mengetahui kalau perasaan nya tidak terbalaskan dengan baik.


Dia mengira selama ini perhatian Jonathan padanya, sikap lembut Jonathan padanya karena Jonathan juga menyukainya tapi itu semua salah, Jonathan hanya menganggap Amaira sebagai temannya saja bahkan tidak lebih dari itu.


Jonathan telah pergi tanpa berpamitan pada kedua sahabatnya yaitu Devita dan Puspa.


Minggu berlalu dengan cepat dan bulan pun berganti dengan bulan selanjutnya.


Tibalah saatnya hari bahagia kedua pasangan yang sudah menjalin hubungannya mengadakan acara pertunangan nya hari ini, mereka adalah Zen dan Linda.


Linda sudah tampil cantik dengan balutan gaun putih lengkap dengan mahkotanya, bak seperti ratu dan Zen sudah memakai setelan tuxido nya.



Pertunangan mereka berjalan dengan lancar dengan di hadiri berbagai macam orang, dari pembisnis sampai teman-teman dari Zen juga Linda, semua di undang nya.


Daniel yang juga ikut andil dalam acara itu bisa bernafas lega karena tugasnya sudah terpenuhi semuanya.


Daniel bisa tersenyum bahagia kali ini, begitu juga Devita yang selalu berharap Daniel bisa tersenyum seperti saat ini.


'' Daniel, terimakasih sudah mau mengurus pertunangan kami,'' ucap Zen dengan sungkan.


'' Jangan percaya diri dulu kamu, aku anggap ini sebagai hutang yang harus kau bayar suatu saat nanti,'' jawab Daniel dengan rasa gengsi nya, ya Daniel sosok yang tidak mau di anggap baik terkecuali pada istrinya sendiri.


'' Ya, ya. Catatlah semua hutang ku,'' merekapun semua tertawa bahagia.


'' Dev, Ayah pulang duluan ya nak' ayah lelah,'' ucap Mahendra berbisik pada anaknya.


'' Oh ya sudah Yah, ayah mau di antar supir ku?'' tanya Devita.


'' Tidak perlu, ayah sudah menghubungi supir ayah, oh ya biarkan saja kakak mu di sini, biar dia bisa mendapatkan jodohnya juga,'' bisik Mahendra lagi membicarakan Reno yang entah berada dimana.


'' Oke yah, hati-hati ya yah.'' Mahendra pun berlalu pergi tanpa Reno yang berada jauh dari mereka.


Ya Reno saat ini sedang berada di sudut ruangan dengan segelas anggur di tangannya.


'' Tuan Reno kalau begitu saya kesana dulu ya,'' ucap seseorang buang sedari tadi mengganggu Reno yang sebenarnya ingin sendiri.


'' Ah iya,'' jawab Reno.


'' Sedari tadi saja pergi,'' gerutu Reno.


'' Sedang apa kau disini sendirian?'' tanya seseorang yang kebetulan sedang mengambil minuman untuk nya.


Reno menoleh dengan cepat karena merasa tidak asing dengan pemilik suara itu.


'' Oh kau,'' jawab Reno.


'' Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya,''


'' Tidak, saya tidak suka keramaian,'' jawab Reno dengan singkat.


'' Oh, kalau begitu lebih baik kau pulang dan mengunci diri di dalam kamar,'' ucap orang itu dengan Ngalang.


'' Ck, lagi-lagi kau mengusir ku,'' decak Reno dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


'' Ya kan kau bilang tidak suka keramaian,''


'' Ya tapi tidak perlu mengusir ku juga, kalau bukan karena tuan Mahendra juga aku tidak akan kesini,''


'' Bahkan Tuan mu sudah pergi saja, kau tidak tau,''


'' Ayah sudah pergi?'' ucap Reno dengan terkejut.


'' Hah Ayah?''


'' Ah maksud saya Tuan Mahendra,'' ucap Reno mengkoreksi panggilan nya pada Mahendra.


'' Ya,''


Saat Reno ingin beranjak pergi, Devita menghampiri Reno dan mencegah nya.


'' Kaka ingin kemana?'' tanya Devita.


'' Menyusul Ayah mu,''


'' Tidak perlu, ayah bilang kakak tetap disini saja,''


'' Lho Kenapa?''


'' Entahlah, kalau begitu aku kesana lagi ya, ka Dinar temani kakak aku ya,'' ucap Devita berbicara pada orang yang sedari tadi bersama Reno yang ternyata adalah Dinar.


Dinar hanya menggeleng kan kepalanya melihat sikap adik iparnya yang menggemaskan baginya, selama kehamilan nya, Devita kerap sekali bermanja-manja padanya bukan pada Daniel.


'' Devita itu sangat menggemaskan,'' ucap Dinar.


'' Menggemaskan apanya, menyebalkan iya,'' celetuk Reno.


'' Oh ya, ikutlah'' ucap Dinar lagi yang sudah berlalu pergi meninggalkan Reno.


Reno yang entah kenapa menurut saja ikut membuntut Dinar merasa aneh, kenapa juga aku ikut membuntut. Pikir Reno.


'' Kenapa kau mengajak ku ke sini?'' tanya Reno.


Ya Dinar mengajak Reno ke area kolam renang yang tempatnya jauh dari keramaian.


'' Kah bilang tidak suka keramaian, ya aku mengajak mu kesini,''


'' Oooh, oke.''


'' Kalau begitu aku permisi,'' Dinar sudah ingin berlalu pergi namun Reno mencegah nya.


'' Kau ingin kemana?''


'' Kembali pada yang lainnya, kenapa Memang nya,''


'' Astaga, kau membawa ku kesini, dan kau malah mau meninggalkan ku?''


'' Ya kan aku hanya sekedar membantu,''


'' Astaga, kau benar-benar ya, pokonya kau harus tanggung jawab.''

__ADS_1


'' Lho tanggung jawab apa? memangnya kau terluka apa kau hamil,'' ucapan Dinar membuat Reno semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Dinar.


'' Aku kan hanya membantu mu, kau bilang kau tidak suka keramaian ya aku bawa ke tempat sepi, lalu salah ku apa?''


'' Astaga, kau bisa diam tidak.'' Ucap Reno yang sudah menutup mulut Dinar dengan telapak tangannya.


Mata mereka bertemu tapi dengan cepat Dinar menepis tangan Reno agar menyingkir dari mulutnya.


'' Tidak sopan, usia ku jauh di atas mu ya, dan seharusnya kau memanggilku kakak, tapi kau malah bertindak tidak sopan,'' omel Dinar.


Reno tersenyum geli melihat Dinar yang sedang mengomelinya.


'' Jodoh tidak memandang usia,'' gumam Reno dengan pelan namun ternyata Dinar mendengar itu.


'' Apa kau bilang!'' teriak Dinar


'' Ah tidak,'' elak Reno dengan cepat.


Dinar memicingkan matanya, meneliti wajah Reno yang nampak santai setelah berucap seperti itu.


'' Baiklah, kakak Dinar lebih baik kau tetap disini temani aku mengobrol, aku kan tamu disini, sangat tidak sopan kan membiarkan tamunya duduk sendirian tanpa ada yang menemani nya,'' ucap Reno yang sebenarnya sedang menahan tawanya karena menurut memanggil Dinar dengan sebutan kakak.


'' Bagaimana kalau kita berkenalan lagi,'' usul Reno.


'' Hah?''


'' Iya namaku Reno, usia ku 31 tahun,''


'' Ck, Dinar,'' jawab Dinar dengan ketus.


'' Usia?''


'' Apa perlu?''


'' Ya aku kan menyebutkan usia ku,''


'' Tiga puluh tiga, puas!''


Merekapun berbincang dengan sesekali ada perdebatan kecil di sana, tapi sejujurnya Reno sangat menikmati perbincangan nya, ia bahkan tidak pernah serilex ini kalau berbicara pada lawan jenisnya tapi kali ini sungguh berbeda.


'' Kita berteman?'' ucap Reno yang sudah mengulurkan tangannya.


'' Hubungan pertemanan masih jauh,'' jawab Dinar.


'' Mau berteman saja ada waktunya,'' gumam Reno.


'' Aku tidak bisa berteman dengan sembarangan orang,''


'' Hei, aku pria baik-baik,'' ucap Reno yang tidak terima dengan ucapan Dinar.


'' Itu menurut mu kan,''


'' Ah terserahlah,'' pasrah Reno yang bahkan tidak bisa lagi berucap apapun.


'' Tuan Reno kau disini?'' tanya seseorang yang menghampiri mereka.

__ADS_1


'' Oh hai Nona Dinar, kau juga disini,'' ucapnya lagi.


TBC..


__ADS_2