
Daniel sudah tidak bisa lagi menahan rasa bahagia nya, respon Devita membuat nya sangat yakin kalau Devita akan segera sadar.
Pintu besar itu terbuka dengan di barengi seorang pria berkaca mata itu keluar dan dua orang suster yang berada di belakangnya.
''Bagaimana?'' tanya Daniel dengan tidak sabarnya.
Senyum di wajah Dokter itu membuat Daniel bernafas lega.
''Masuklah dia mencari mu.'' Ucapan yang sudah lama di nanti Daniel, tanpa mengucapkan apapun Daniel berlalu dengan terburu-buru karena tidak sabar melihat sang kekasih hati yang di rindukan nya.
Dokter itu berlalu setelah berpamitan pada Puspa dan Jonathan, setelah dokter itu pergi dengan dua susternya, Puspa dan Jonathan ikut masuk karena ingin melihat keadaan Devita.
Senyum yang sangat di rindukan Daniel, binaran mata yang menyejukan hati seorang Daniel saat ini sudah kembali, perlahan Daniel melangkah mendekati ranjang itu.
''Sayang, kau sudah bangun,'' pertanya bodoh macam apa yang saat ini Daniel layangkan, ya karena tidak ada lagi yang bisa Daniel ucapkan karena rasa bahagianya itu.
''Daniel,'' lirih Devita.
28 hari Devita mengalami masa koma, mimpi panjang nya berakhir hari ini, rasa rindu pada orang-orang yang di sayanginya membuat ia berusaha kembali ke dunia fana ini.
Bujukan demi bujukan dari seorang wanita parubaya di dalam mimpinya berhasil membuat Devita meng'iyakan permintaannya untuk kembali dari mimpi indahnya.
''Kau nakal, kenapa lama sekali bangun dari tidur mu,'' ucap Daniel yang sudah tidak bisa membendung cairan bening dari kelopak mata tajamnya.
''Apa kau merindukan ku?'' pertanyaan Devita membuat Daniel memukul pelan kepala Devita.
''Pertanyaan macam apa itu, tentu aku sangat merindukan mu.'' Omel Daniel, pukulan yang Daniel layangkan tentu tidak membuat Devita merasakan sakit, dia tertawa walau rasa pusing di kepala nya menyerang.
''Jangan tertawa kalau sakit, bodoh.'' Omel Daniel, sungguh Devita baru mengetahui kebawelan Daniel hari ini, yang dia tahu, Daniel hanya seorang pria dingin serta arogan.
__ADS_1
''Apa hari ini kau menangis di toilet lagi,'' ucap Devita, Daniel tersentak mendengar nya, kenapa Devita tahu kegiatan Daniel setiap hari.
''Kau tau itu,'' muka Daniel sudah memerah malu karena ketahuan menangis padahal dia sengaja bersembunyi.
Devita tertawa kecil melihat wajah merah Daniel, wajah yang seperti ketahuan mengintip para gadis di toilet umum, itulah yang Devita pikirkan.
Pintu terbuka di barengi Puspa dan Jonathan yang masuk ke dalam, Devita menoleh ke arah pintu, sungguh dia juga sangat merindukan para sahabatnya.
''Pu, Jo.'' Devita merentangkan tangannya karena ingin memeluk para sahabat nya.
''Devi,'' rasa bahagia Puspa juga tidak terkira, ia berlari dan langsung memeluk tubuh lemah Devita.
''Maafkan aku, kalau saja saat itu aku bisa menyelamatkan mu,'' ucap Puspa yang sudah menangis merasa bersalah di dalam pelukan Devita.
''Sudah Pu, kau tidak salah, aku ingat kau juga terluka, bagaimana keadaan mu?'' masih sempat-sempatnya Devita mempertanyakan keadaan sahabat nya sedangkan dirinya saja baru saja sadar dari komanya.
''Bodoh, kenapa kau mempertanyakan keadaan ku, aku bahkan sangat baik-baik saja,'' Puspa melepas pelukannya dan menghapus air mata kerinduannya.
''Jo, apa kau tidak senang aku kembali,'' tangan Devita menjulur ingin memeluk Jonathan, Jonathan tersenyum dan melangkahkan kakinya ingin menghampiri Devita.
Daniel yang melihat itu sontak saja langsung berdiri dan menghalangi jalan Jonathan, tatapan tajamnya menghujam Jonathan yang melihat nya dengan datar.
''Mau apa kau?'' tanya Daniel dengan tangan yang bersedekap di atas perut nya.
Devita dan Puspa tertawa kecil melihat tingkah posesif Daniel yang tidak ingin kekasihnya di sentuh pria lain selain dirinya dan tentu dengan Ayah-nya juga.
''Daniel, Ayah ku mana?'' tanya Devita yang sengaja mengalihkan perhatian Daniel agar berhenti menatap Jonathan dengan tatapan membunuhnya.
''Astaga aku lupa mengabarinya, sebentar ya.'' Daniel menjauh dan menelpon sang calon mertua untuk mengabari sadarnya anak gadisnya.
__ADS_1
''Kau tau Dev, betapa aku takut kehilangan mu.'' Ucap Puspa yang menekuk wajahnya.
''Benarkah? aku kira kau akan senang.'' Goda Devita.
''Jangan berbicara melantur kau,'' Puspa yang tidak terima dengan tuduhan Devita, membuang wajahnya dengan kesal.
''Aku hanya bercanda, Pu.'' Tawa Devita.
''Sudah-sudah, jangan terlalu menguras tenaga mu untuk sekedar tertawa,'' timpal Daniel yang baru saja selesai dengan ponselnya.
''Ayah?''
''Ayahmu sedang berada di perjalanan,'' jawab Daniel mengusap lembut pipi Devita.
''Dev kenapa sih kau mempunyai golongan darah yang sangat langka, kenapa tidak yang lain,'' gurau Puspa.
''Memangnya aku bisa menentukan golongan darah apa yang aku punya,'' tawa Devita.
''Kami hampir putus asa mencari darah yang cocok untuk mu, kau tau itu.''
''Benarkah? apa aku separah itu,'' gumam Devita.
''Tapi untung ada Nona Linda,'' ucapan Puspa membuat Devita tertarik.
''Linda? Linda yang aku kenal kan?'' tanya Devita dengan menoleh ke arah Daniel, Daniel mengangguk pelan karena mengerti pertanyaannya Devita di layangkan untuk nya.
''Lalu dimana Linda?'' tanya Devita yang ingin sekali bertemu dengan dewi penolongnya.
''Nanti akan ku hubungi, kau tidak perlu berlebihan seperti itu, hem.'' Ucap Daniel dengan lembut.
__ADS_1
''Iisshh kau Daniel, berlebihan bagaimana, aku hanya ingin berterima kasih pada Linda,'' ketus Devita.
Tbc