
Keduanya beradu pandang cukup lama, Daniel menganggap penolakan Devita bentuk suatu karma perbuatan bejattnya selama ini, ada senyuman yang terlukis dari bibir Devita, itupun tak luput dari tatapan Daniel.
''Kau lelah, kita istirahat ya,'' ucap Daniel dengan sayang.
Devita menggeleng pelan, dia berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke daun telinga Daniel, Daniel yang heran hanya bisa mengikutinya saja dengan cara ikut membungkuk untuk Devita agar tidak kesulitan karena memang tinggi badan keduanya jauh berbeda.
''I Will,'' bisik Devita dengan jelas.
Dani menjauhkan telinganya dari mulut Devita karena ingin melihat wajah Devita langsung untuk meminta penjelasan dengan sejelas-jelasnya.
''Vita,'' ucapnya, Devita tersenyum lagi dan mengangguk malu.
''Katakan sekali lagi,'' pinta Daniel.
''Kamu juga,'' balas Devita.
Daniel menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
''Vita, You Will marry me.'' Ucap Daniel dengan lantang.
''Yes, I Will.'' Jawab Devita yang tak kalah lantangnya.
Daniel langsung memeluk tubuh mungil Devita dengan erat namun tidak membuat Devita sesak, rasa bahagia yang di rasakannya kini, bahagia harapannya yang tidak mlenceng.
''Terima kasih sayang, Terima kasih karena menerima perasaan ku, Terima kasih karena telah menerima cinta tulus ku, aku janji aku akan menjaga mu seumur hidup ku.'' Ucap Daniel begitu tulusnya.
''Aku juga sangat berterima kasih pada mu Daniel, berkat dirimu aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.'' Jawab Devita yang tidak bisa lagi menahan haru nya.
Kecupan berkali-kali Daniel berikan di kening Devita bentuk rasa sayang yang benar-benar tulus darinya, Devita menerima itu dengan hati yang tak kalah bahagia nya, karena dia pun baru menyadari rasa cinta yang begitu besar untuk Daniel. Berkat Daniel, Devita bisa tahu apa itu cinta.
Daniel memasangkan cincin berlian yang sederhana namun bernilai fantastis, kesederhanaan sebuah cinta yang di berikan Daniel mnggambarkan jati diri dan sifat Devita yang sangat rendah hati dan sederhana.
Devita menatap cincin yang melingkar indah di jari manis nya, cincin yang sangat cantik menurut Devita, dia tidak menyangka Daniel akan melamarnya di negara orang seperti ini.
Dengan menatap bintang Devita berkata dalam hati, ''Mah, malam ini aku sangat bahagia, pria yang menarik ku dari lubang neraka saat ini melamar ku, aku harap Mama di sana turut merestui hubungan ini.'' Gumam nya dalam hati.
Daniel memeluk kembali tubuh Devita dari belakang, kedua manusia itu sedang hanyut di buai asmara, menatap indahnya langit malam dan angin yang menerpa menambahkan kesan romantis di dalamnya.
.
__ADS_1
Keesokannya. Daniel sudah bersiap-siap untuk check out dari hotel, begitu juga Devita.
Keduanya saat ini sedang berada di restoran untuk melakukan sarapan terlebih dulu sebelum melakukan perjalan jauhnya.
''Aku tidak bisa makan kalau ingin bepergian jauh, Daniel.'' Ucap Devita mendorong piring yang ada di hadapannya.
''Setidaknya kau makanlah sedikit untuk mengganjal perut kosong mu.'' Bujuk Daniel, Daniel berniat untuk menyuapi Devita agar Devita ingin memakan sarapannya.
''Daniel kau sungguh pemaksa,'' cebik Devita, dengan terpaksa Ia membuka mulutnya.
Baru saja dua suapan, Devita berkata sudah kenyang, Daniel yang tidak ingin terlalu memaksa Devita hanya menurut saja, karena Ia juga tidak ingin Devita kenapa-kenapa karena dia.
''Ya sudah, kalau begitu kau harus minum air mineral yang banyak ya,'' ucapnya dengan lembut, Devita hanya menganggukan kepalanya.
''Aku ke toilet sebentar ya.'' Pamit Devita, Daniel mengangguk.
''Hati-hati,'' jawab Daniel.
Devita berlalu menuju toilet. 'Daniel ini, ke toilet saja di pesan hati-hati, seperti ingin menyebrang jalan saja,' gumam Devita dalam hati.
Di toilet Devita menuntaskan hajatnya, saat selesai keluar dari bilik toilet, Devita mencuci tangan nya du wastafel, disana ada seorang gadis sedang merapihkan rambutnya yang terlihat acak-acakan.
''Ah iya, saya punya, Sebentar.'' Devita merogoh sling bag nya untuk mengambil sisir yang biasa Ia bawa selalu di dalam tasnya.
''Ini Nona,'' ucap Devita memberikan sisir itu.
''Ah iya Terima kasih, maaf merepotkan.'' Gadis itu menerima sisir Devita dan menyisir rambut panjangnya.
''Nona wisatawan kah?'' tanya gadis itu.
''Ah tidak juga, saya disini untuk mengunjungi makam orang tua saya,'' jawabnya.
''Oohhh,, oh iya ini sisir nya. Terima kasih banyak, perkenalkan saya Risa.'' Gadis itu mengembalikan sisir yang di pinjamnya dan mengajak Devita berkenalan.
''Saya Devita,'' balasnya.
''Maaf sekali lagi merepotkan mu, Devita,'' ucap gadis yang bernama Risa itu.
''Tidak masalah, Risa.''..
__ADS_1
''Kalau begitu saya pergi duluan ya, senang bisa bertemu dengan mu,'' pamit Risa dan di angguki Devita.
Setelah gadis itu berlalu, Devita melanjutkan mencuci tangannya dan merapihkan kembali penampilan nya, tapi ada sesuatu yang membuat matanya mengarah ke samping wastafel, sebuah ponsel tergeletak yang di yakini adalah milik gadis yang bernama Risa tadi.
''Astaga ponsel Nona itu.'' Ucap Devita setelah melihat wallpaper ponsel menampilkan potret wajah Risa sendiri.
Di meja resto, Daniel masih stia menunggu Devita, sevuah tepukan di pundaknya membuat Daniel menoleh ke belakang.
''Kau disini,'' ucap seorang pria yang ternyata Dimas.
''Jangan sok akrab dengan ku,'' ketus Daniel.
''Kita memang pernah akrab Tuan Carroll,'' balas Dimas.
''Tidak lagi,'' jawab Daniel lagi.
''Come on Daniel, itu hanya kesalah pahaman dan kau tidak lagi menganggap ku sebagai teman mu.'' Ucap Dimas dengan serius.
''Aku sangat membenci penghianatan, kau mengerti.'' Jawab Daniel.
Saat Dimas ingin menjawab nya, suara wanita memanggil namanya.
''Ka Dimas,'' panggil seseorang itu.
''Kemarilah Ris,'' jawab Dimas dengan lembut.
Gadis itu mendekat ke arah Dimas.
''Perkenalkan, beliau Daniel Carroll kolega ku sekaligus teman lama ku.'' Ucap Dimas memperkenalkan Daniel pada gadis itu.
''Aku Risa, Tuan.'' Ucapnya dengan tangan yang mengulur tapi Daniel tidak berniat untuk membalas jabatan tangan itu, gadis itupun menarik kembali tangannya karena jabatannya tidak di balaskan.
''Nona Risa, ini ponsel mu, tertinggal di wastafel toilet'' Ucap Devita yang baru saja datang.
''Ya Tuhan, Terima kasih Nona Devita, untung lah ada dirimu.'' Jawab Risa mengambil ponsel dari tangan Devita.
Devita tersenyum, matanya melirik ke arah dua pria yang sedang duduk itu. ''Dimas, kau disini?'' tanya Devita, Risa heran dari mana Nona itu mengenal Dimas.
''Devita, iya tadi aku tidak sengaja melihat, Tuan Daniel.'' Jawab Dimas.
__ADS_1
''Kau mengenalnya, Kak?'' tanya Risa.