
Kesunyian menyergap ruang sempit di mobil sport Zen, Linda yang membuang wajahnya ke jendela mobil memandang jalanan ramai yang di laluinya, dan Zen yang terfokus dengan kemudinya.
''Emmm, Tuan apa boleh saya pinjam ponsel Anda,'' ucap Linda yang mengumpulkan keberanian nya.
Tanpa menjawab dan tanpa bilang tidak, Zen merogoh saku jasnya dan memberikan ponselnya yang di ambil di sakunya pada Linda.
''Terima kasih,''
Zen membiarkan Linda yang menelpon seseorang dengan ponsel nya tapi Zen merasa aneh karena Linda berbicara dengan berbisik-bisik, sebenarnya siapa yang di hubungi Linda? pertanyaan itu bermunculan di pikiran Zen.
''Baiklah nanti akan ku hubungi lagi, tapi kau jangan menghubungi nomor ini ya, ya sampai ketemu.'' Hanya ucapan Linda itu yang di dengar Zen, selebihnya sama sekali tidak terdengar.
''Ini, terima kasih.'' Linda pun mengembalikan ponsel Zen ke pemilik nya lagi.
''Kau menelpon siapa?'' tanya Zen yang ingin tau siapa yang Linda hubungi.
''Apa saya harus membayar biaya telpon?'' pertanyaan Linda menyisakan heran di benak Zen.
''Membayar? apa maksudnya?''
''Kenapa anda ingin tahu siapa yang saya hubungi? apa saya harus membayarnya agar terbebas dari pertanyaan Anda itu.'' Zen diam tidak menanggapi ucapan Linda, menyerah? bukan, hanya saja Zen merasa menanggapi ucapan Linda tidak akan ada habisnya.
''Terserah, lupakan saja.'' Ketus Zen dengan memutar matanya malas.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di Rumah Sakit tempat Devita berada.
Berjalan dengan berdampingan membuat sebagian orang yang melihat nya beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Linda yang merasa risih karena di perhatikan mulai menjauh dari posisi ia berjalan yang lumayan dekat dengan Zen, tapi berbeda dengan Zen yang memang notabene nya pria yang tidak peduli dengan sekitar hanya berjalan dengan membusungkan dadanya dan mengangkat kepalanya.
Zen melirik sedikit kearah Linda yang berjalan menjauh darinya, gelengan kecil kepala Zen karena merasa heran dengan sikap Linda.
__ADS_1
''Kekanakan,'' gumam Zen.
Berjalan menuju pintu lift yang sudah terbuka, Zen lebih dulu masuk tapi Linda hanya berdiri tanpa ingin melangkah masuk ke dalam lift.
''Kenapa?'' tanya Zen.
''Tuan duluan saja, saya akan menaiki lift berikutnya.'' Tolak Linda karena sebuah alasan yang dirasanya sangat enggan mendapatkan tatapan aneh dari beberapa orang yang ada disana.
''Terlalu repot,'' tanpa di duga, Zen menarik tangan Linda agar masuk, Linda yang terkejut mendapatkan perlakuan itu yang dengan tiba-tiba, hanya bisa membesarkan matanya tanpa mengucapkan apapun.
Kini keduanya sudah berada di dalam lift menuju lantai dimana Devita berada.
Zen melirik Linda yang masih diam dengan tatapan kosong nya wajah polosnya membuat Zen tanpa sadar sedikit mengangkat bibirnya membentuk bulan sabit.
Bunyi suara lift yang telah tiba di lantai tujuan membuat Zen tersadar dengan ketidaksengajaan nya yang tersenyum hanya melihat wajah seorang ketua pelayan itu.
Zen keluar dengan segera, sungguh ia takut jika Linda memergokinya melihat wajah nyai.
Tanpa mengucapkan apapun, Linda keluar lift dan berlalu begitu saja meninggalkan Zen, tanpa mau berdebat dan tanpa mau berbicara banyak lgi Linda berjalan dengan cepat.
''Dia kenapa?'' gumam Zen yang merasa heran dengan sikap Linda.
''Linda!!'' panggil seseorang yang menghentikan langkah cepat Linda.
''Nando,'' jawab linda malas.
''Dia lagi,'' gumam Zen dengan jengkel.
''Kau ingin ke ruangan Nona Devita kan?'' tanya Nando dan Linda hanya mengangguk sebagai jawabannya.
''Iya, kau tau?''
__ADS_1
''Tentu saja tau, ya sudah ayo aku juga ingin keruangannya.'' Nando dan Linda berjalan dengan berdampingan.
''Kau Dokter yang menanganinya?'' tanya Linda dan Nando hanya mangangguk pelan.
Zen yang masih berdiri di dekat lift menatap mereka berdua dengan jengkel nya.
''Pantas saja jalannya terburu-buru ternyata ingin bertemu kekasihnya,'' gumam Zen yang melanjutkan jalannya menyusul Linda dan Nando.
Linda sudah sampai di depan pintu ruangan itu ia mengetuk pelan dan membukanya setelah ada sahutan dari dalam.
''Permisi,'' ucap Linda dengan sopan.
''Linda, kemarilah,'' ucap Devita dengan excited.
Linda melangkah mendekat ranjang Devita, di ruangan hanya ada Pasien, Daniel dan Mahendra dan kalau Puspa, dia pamit undur diri karena mendapatkan telpon dari Citra agar ke toko segera.
''Permisi sebentar ya, saya ingin memeriksa Pasien,'' ucap Nando yang baru masuk ke ruangan.
Tidak lama Nando masuk, seorang pria yang punya tatapan tajam itu ikut masuk dan mendekat ke arah Devita untuk memeriksa nya.
Daniel menghampiri Zen dan langsung memeluk nya, tindakan Daniel membuat Zen sangat risih.
''Ada apa Tuan?'' tanya Zen yang melepaskan pelukan dari dengan perlahan.
''Lamaran ku diterima,'' ucapan Daniel membuat Zen tersentak, sakit sekali rasanya saat mendengar cintanya sudah bercap milik orang lain.
''La-lamaran,'' gumam Zen.
''Iya, aku akan segera menikahi Vita,'' tanpa peduli dengan perasaan Zen, Daniel berucap dengan entengnya sedangkan ia tahu Zen mencintai Devita juga, satu, sengaja. Itulah Daniel agar semua pria yang menaruh hati pada Devita tau kalau Devita akan menjadi miliknya seutuhnya.
Kabar yang di sampaikan Daniel entah berita baik atau buruk bagi Zen, tapi yang pasti Zen berusaha tersenyum dan berlapang dada menerima kenyataan itu.
__ADS_1
Tbc..