
Aku balik ke kelas. Mengambil tas dan hendak pulang. Karena tidak ada jam belajar mengajar setelah ulangan, kami bisa pulang kapan saja. Aku juga tidak tertarik ikut lomba apa pun.
Langkah ku di tahan Bimo di depan pintu kelas.
"Minggir!" bentak ku.
"Harus bagaimana lagi supaya kamu mau memaafkan aku?" tanya Bimo.
"Aku kecewa sama kamu, kecewa itu level di atas marah, itu gak mudah, mengembalikan semua seperti dulu lagi seperti nya mustahil" balas ku.
Aku pun pergi ,Bimo menahan lengan ku.
"Ada apa ini bro?" tanya dimas ke Bimo sembari menarik ku dari pegangan Bimo.
"Bukan urusan mu" jawab Bimo.
"Tapi kau sudah mengganggu wanita ku, berarti itu menjadi urusan ku" seru Dimas lantang.
Apa? wanita mu?
Aku menatap bingung ke arah Dimas.
"Maksud nya? kalian pacaran?" tanya Bimo.
"Iya, ayo sayang kita pulang" jawab ku tiba tiba. Dimas yang lebih kaget mendengar ku.
Bimo memukul tembok kelas.
Setelah agak jauh dari kelas Dimas langsung menyerang ku dengan pertanyaan.
"Kamu serius?" tanya Dimas.
"Ya gak lah, maaf yah, kamu ngapain juga bilang ke dia aku wanita mu" protes ku.
"Eh itu karena seperti nya di suka mengganggu mu, aku hanya membantu mu menjauh dari nya" jawab Dimas.
"Hem, makasih yah dim" seru ku.
"Gpp kok beneran juga gpp, aku suka" jawab nya.
Aku mencubit lengan nya.
"Ya udah, kalo gitu kita pura pura pacaran ajja gimana?" tanya Dimas.
Aku berpikir sejenak.
"Hmm, boleh tuh, pura pura, menarik juga" jawab ku.
Dimas menari kesenangan, meski hanya pura pura.
"Ya sudah, kali ini aku antar kamu pulang yah, pacar" kata Dimas sambil menyalakan motor nya.
Aku juga memang belum minta jemput.
Aku mengangguk dan naik di atas motor Dimas yang siap meluncur keluar sekolah.
__ADS_1
Bimo hanya bisa menatap cemburu ke arah kami.
"Peluk dong, pura pura nya harus totalitas" seru Dimas di depan ku.
"Ih modus ajja Lu" protes ku tapi aku menurut.
Ku peluk Dimas sepanjang jalan pulang.
Ku pandangi indah nya pemandangan. Daun yang jatuh berguguran, angin berhembus ringan, pohon yang bergoyang di tiup angin.
Aku sungguh menikmati nya.
Sesampai nya di depan gerbang aku turun dari motor.
"Makasih dim" seru ku.
"Sama sama permaisuri ku" jawab nya ngasal.
"Apaan sih, garing, udah sana, hati hati yah" ujar ku sambil melambaikan tangan.
Setelah dimas agak jauh aku pun masuk.
"Cieehh di anterin sapa non, pacar nya yah" ejek satpam penjaga rumah ku.
"Ih, pak Imin bisa ajja, kepo deh" jawab ku sambil berlari ke dalam rumah.
Pak Imin membuka kan gerbang, karena mobil putra datang. Mobil memasuk pekarangan rumah. Putra melihat ku berjalan kaki masuk.
Ia lalu memarkirkan mobil nya, lalu menemui ku.
"Oh tadi aku di antar Dimas, aman" jawab ku.
Kami sama sama masuk ke dalam rumah.
......🌺🌺🌺......
Aku menatap ke luar melalui balkon rumah ku.
Entar malam pakai baju apa yah, ih kok aku sibuk sih, ini kan jalan sama Dimas doang, biasa mah itu, bukan kencan. Ah apa yang aku pikirkan. Kenapa juga aku memikirkan nya.
Tapi langkah kaki ku masuk ke dalam dan memilih milih pakaian di lemari.
Ya ampun ini kan masih sore, lagian juga cuma jalan biasa bukan ke acara resmi kondangan gitu.
Aku menggeleng pelan saat ku lihat baju berserakannya di tempat tidur.
Putra mengetuk pintu kamar ku.
Aku panik dan langsung menggulung baju itu dan memasukkannya ke dalam lemari.
"Masuk ajja" teriak ku.
"Lama banget jawab nya, ngapain sih", tanya putra.
"Tadi aku di balkon, gak denger" jawab ku
__ADS_1
"Oh begitu" seru nya.
"Ada apa?" tanya ku.
"Papa sudah bilang? Minggu depan setelah pembagian raport kita berangkat liburan" ujar putra.
"Belum ada sih? wah gercep juga papa" jawab ku
*Gercep\= gerak cepat.
"Ok, makasih info nya" seru ku bersemangat.
"Bahagia banget kayak nya nih, apa karena Bimo pindah ke sekolah mu?" tanya putra.
Senyum ku langsung memudar.
Bimo? hah, aku bahkan tidak mau melihat wajah nya.
Aku menggeleng pelan.
Apa benar wajah ku terlihat bahagia?
Karena apa yah? OMG masa iya karena Dimas. Tidak tidak, no.
"Hey, kok malah melamun?" putra menepuk tangan ku.
"Hem ,bukan kok, ada sesuatu ajja di sekolah, aku sudah gak tertarik dengan motif apa Bimo pindah sekolah, bikin bertambah saingan ajja di kelas" celetuk ku.
"Haha, benar, bisa tersingkir deh peringkat kalian semua, kalo aku sih gak peduli dengan peringkat" kata putra.
Aku mengangkat bahu ku seraya pasrah.
"Gpp, gak peringkat, yang penting naik kelas dan lulus sekolah nanti" putra menyemangati ku.
Menjelang malam, aku sudah bersiap siap untuk jalan dengan Dimas.
"Wah cantiknya, tumben mau kemana, tapi itu rok kurang bahan yah, ganti." perintah putra.
Aku menceritakan akan jalan dengan Dimas.
Putra tidak mengejek ku seperti satpam di luar ia malah memperhatikan penampilan ku.
Dengan kesal aku mengganti rok mini ku dengan celana panjang.
Tidak lama kemudian Dimas datang menjemput ku.
"Hati hati yah" seru putra pada Dimas.
"Siap bos" jawab Dimas lalu tancap gas menuju jalan besar.
......🌺🌺🌺......
Kayak nya author gak bisa update nih, soal nya abis vaksin. Bawaan nya ngantuk banget. Author istirahat dulu yah🙏
__ADS_1