Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Villa.


__ADS_3

Aku menatap pemandangan dari jendela kamar itu.


Siapa itu yang berada di luar? dari belakang sekilas seperti tidak asing.


Pria itu menoleh ke arah jendela kamar ku, segera aku tutup gorden agar tidak terlihat oleh pria dingin itu.


Harus nya aku gak ikut kesini, kenapa ada dia lagi sih.


Aku menghembuskan nafas berat.


"Kamu kenapa?" tanya Maharani bingung.


"Ah, itu, ada Mr.galak" jawab ku.


Maharani penasaran dan langsung menoleh ke arah luar jendela.


Ia lalu tersenyum.


"Oh mr.galak tapi tampan, iya kan" goda Maharani.


"Percuma tampan kalo gak baik" ujar ku.


"Haha, awas jangan benci benci entar jatuh cinta" nasehat Maharani pada ku.


"Apa?! ih najis!" jawab ku sembari merapikan barang barang ku.


Maharani tertawa.


Menjelang malam.


Selesai menyimpun aku berbaring sejenak.


Tiba tiba pintu kamar kami di ketuk.


"Ih siapa sih,baru juga aku baring, kan cape habis perjalanan jauh, mager nih, kamu ajja yang buka pintu nya yah" pinta ku ke Maharani yang juga berbaring.


Ia pun bangkit untuk membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Maharani ke orang di balik pintu.


"Ayo makan dulu baru istirahat" ajak Dimas.


"Oh oke, bentar aku ajak Lidya, pergi lah duluan, nanti kami nyusul" jawab Maharani.


Maharani Kembali menutup pintu.


Aku hampir tertidur.


Maharani membangun kan ku.


"Di ajak makan tuh, kata Dimas kita semua makan dulu baru istirahat" seru nya.


Aku pun berusaha mengumpulkan nyawa lagi untuk bangun.


"Ah aku ingin tidur saja, tapi lapar juga sih, ayo deh" jawab ku.


Karena hanya memakai tangtop dan celana pendek aku segera mengganti baju kaos berlengan tapi tetap celana pendek memamerkan paha dan betis jenjang mulus ku. Jika ada putra dia pasti marah, haha, gpp, dia sedang tidak berada di sini. Sementara aku bebas berpakaian.


"Waduh aku lupa nanya di mana ruang makan nya?" ujar Maharani.


"Yah gimana sih, kamu tau sendiri villa ini luas banget" protes ku.


"Bentar bentar, kita telepon ajja yah" jawab nya.


Maharani bergegas menelpon dimas dan kami mengikuti instruksi nya.


Sesampai nya di ruang makan.

__ADS_1


Dimas Adit Bimo dan Roni sudah berada di sana.


Dimas membuka salah satu kursi dari bawah meja.


"Silahkan duduk tuan putri" ujar nya pada ku.


"Gak usah lebay, aku bisa dorong kursi sendiri" jawab ku tapi tetap duduk di kursi yang di sediakan Dimas untuk ku.


"Wah siapa yang masak nih, keliatan nya enak banget" puji ku.


"Kami dong, selama kalian di kamar tadi kami masak masak" seru Bimo yang akhir nya bersuara.


"Oh" jawab ku singkat.


"Ayo di cobain" jawab Adit antusias.


"Eh tunggu tunggu, ini kan ada 4 menu, masing masing beda yang masak loh, jadi kamu cobain satu satu deh, dan beri komentar menu mana yang paling kamu suka, gimana?" ujar Roni.


Dimas mengangguk setuju dengan ide Roni kali ini. Ia mengacungi jempol.


"Juri nya cuma aku nih? Maharani ayo kita sama sama nilai masakan pria pria kesepian di hadapan kita ini hahaha" canda ku.


"Yee siapa yang kesepian" bantah Dimas.


"Ya udah aku mulai dari ayam teriaki ini yah" ujar ku.


Aku mulai mencoba nya. Enak. Aku gak nyangka mereka pintar masak?


Ada telur sambal balado. Ada capcay udang, dan cumi goreng tepung.


Maharani pun mulai mencoba masakan mereka.


"Bagaimana?" tanya Dimas.


Semua memandang ku.


"Yah, kok gitu, di nilai dong, 10 sampai 100" protes Roni.


"Hm, ya udah menurut ku nih yah, aku paling suka ayam teriaki ini, tapi bukan dari rasa yang aku nilai tapi karena aku memang suka makan ayam hahaha, nilai nya 100 deh" jawab ku.


"Yes!!" pekik Bimo senang.


Aku mengerutkan kening ku.


"Makasih" seru Bimo senang.


Yah, jadi yang masak ini Bimo.


"Nilai yang lain juga dong" seru Dimas.


Aku seperti berpikir.


"Baik lah, capcay nilai nya 80, telur sambal balado nya 85, cumi goreng tepung nya 90" jawab ku.


"Wah beda tipis ajja, hebat hebat, haha" jawab Roni.


"Emang kamu masak yang mana Ron?" tanya ku.


"Cumi goreng tepung" jawab nya.


Adit dan Dimas merasa kalah.


Dimas masak capcay. Dan Adit masak telur sambal balado.


"Aku suka telur sambal balado nya" seru Maharani.


Adit tersenyum puas mendengar nya.

__ADS_1


"Ayo deh di makan, keburu Dingin nih" seru ku.


Mereka pun menempati kursi masing-masing. Dimas dan Roni berebut mau duduk di samping ku, hanya Adit dan bimo kalem duduk tenang di kursi nya.


Di sela makan tiba tiba mr.galak datang.


"Jangan menghambur yah dim, kasi tau teman teman mu itu, aku gak suka berantakan" seru nya.


Terus terang banget sih, kami kan sedang makan, emang gak bisa apa di bilang nanti ketika kami gak ada di sini sehingga tidak perlu mendengar nya.


"Iya, iyaa, ayo ikut makan" tawar Dimas.


Yugo menatap makanan yang ada di meja.


"Buatan siapa?" tanya nya.


"Kami masak sendiri" jawab Dimas.


Yugo menatap ku, tapi aku pura pura tidak melihat nya.


Yugo tersenyum sinis.


"Teman mu itu gak punya baju lain yah? murahan!!!" seru Yugo sembari menatap ku dari atas hingga bawah kaki ku.


Sontak mereka semua melihat ke arah ku dan terdiam.


Aku berdiri dan menyiram wajah nya dengan air minum ku.


Lalu aku berlari ke kamar.


"Brengsek!" umpat Yugo.


Suasana makan malam kami menjadi kacau karena ada kakak nya Dimas di villa saat ini.


Yugo mengambil minum dari kulkas. Mengambil gelas dan menuangkan nya ke dalam gelas.


Dimas yang merasa gak enak, mengejar ku.


"Lidya, maaf kan kakak ku, dia memang begitu, jarang bicara, sekali bicara sangat kasar, tolong jangan di ambil hati" jelas Dimas panik.


"Aku mau pulang sekarang dim!" bentak ku.


"Jangan dong, pliss, dia cuma sehari kok di sini, besok dia pulang karena mengurus wisuda nya" jelas Dimas.


"Aku gak bisa dim, kakak mu keterlaluan" seru ku sembari berlari ke kamar mengepak kembali barang barang ku.


Dimas mendatangi kakak nya dan mereka berkelahi. Dimas tidak terima kakak nya itu mengata ngatai aku.


Ia berusaha menonjok Yugo tapi Yugo dengan mudah menepis nya.


"Kau bahkan melawan ku sekarang, sehebat itu kah wanita yang kau sukai?" ledek Yugo.


Dimas terdiam, Yugo tau dari mana ia menyukai Lidya?


Hujan turun tiba tiba.


Aku jadi ragu untuk pulang, petir mulai terdengar bersahutan.


Nyali ku ciut seketika.


Dan lagi aku tidak bawa mobil sendiri. Mau minta jemput putra kasian jauh banget.


Terserah deh nanti juga pasti ada taksi di jalan besar ketika keluar dari perkebunan teh ini.


Aku menerobos hujan, pergi diam diam.


Aku sudah melangkah semakin jauh, dan hanya memakai jaket parasut. Setidak nya anti air. Pikir ku. Aku benci kakak nya Dimas!

__ADS_1


__ADS_2