
Keesokan hari nya aku ke sekolah tidak pakai seragam, aku langsung memakai kaos voli ku. Karena hari ini semi final.
Sekolah kami masuk di semi final, 3 besar dari puluhan SMA di kota ini.
Suatu prestasi yang membanggakan bagi kami. Pihak sekolah pun tidak percaya atas kemampuan club' voli saat ini.
Mereka yang terus mencemooh kami kini berubah menjadi fans dadakan, mereka kagum kepada kami.
Sekolah pun akhir nya rutin menonton pertandingan kami, bahkan jam mengajar di istirahat kan oleh pihak sekolah untuk sementara waktu.
Karena sudah masuk babak semi final pertandingan tidak lagi di mulai siang tapi pagi sekitar jam 09.00.
Jam 7.30 aku memasuki kelas untuk mengambil buku yang tertinggal kemarin. setelah itu aku langsung berkumpul dengan tim voli di gedung olahraga untuk breefing.
Saat baru memasuk kelas tiba ada yang melempari ku kertas.
Aku menoleh ke arah nya.
Aku terkejut di papan tulis kelas sudah terpampang wajah dan tubuh lama ku.
"Apa itu benar kau?" tanya seseorang di kelas ku.
Aku hanya diam tidak menjawab. Mereka mulai menyerang ku.
"Haha, gak nyangka yah. Kau palsu. Dasar monster plastik!!!" pekik tari.
Teman teman sekelas mulai menyoraki ku.
Dan melempari ku sampah.
Botol air mineral berhasil mendarat di kepala ku. Aku menutup wajah ku dari serangan mereka. Aku berbalik arah ke papan tulis untuk merobek gambar wajah ku di masa lalu. Aku berusaha kuat, dan tidak menangis sama sekali.
Aku berlari keluar ternyata sekolah sudah heboh melihat Mading, before after wajah dan badan ku yang dulu.
Ponsel ku berbunyi. Ada chat masuk.
@devil: Sudah ku peringatkan sejak kemarin, dan kau tidak datang, selamat menikmati kesombongan mu itu.
Aku syock membaca nya. Ini adalah hal terbesar yang aku takut kan selama ini. Ketika aib operasi plastik ku terbongkar.
Aku segera mencabut foto foto yang beredar itu. Sebagian mulai menyoraki ku.
Menertawakan ku bahkan melempari ku sampah.
Adit datang dan melindungi ku dari mereka.
"Ada apa ini!!!" pekik nya.
"Tanya ajja sama monster plastik di belakang mu itu, berlagak cantik, sombong, ternyata palsu hahaha" teriak salah satu murid.
__ADS_1
Maisaroh pun memarahi mereka.
"Memang nya kenapa?!!! apa itu merugikan kalian?!!" bentak Mai ke anak anak yang menyoraki ku.
"Heh, dia itu selama ini sok jual mahal, ternyata murahan" seru anak dari kelas lain yang dulu sering menggoda ku.
Aku hanya diam menahan tangis yang sejak tadi ingin keluar tapi tidak keluar.
"Brengsek!!! apa kau bilang!!!" bentak Dimas dan tiba tiba menyerang Roni dari kelas lain itu. Dimas tidak terima Roni menghina ku.
Mereka berkelahi hebat tepat di depan ku. Adit sampai kesulitan memisahkan mereka.
Mai memisahkan aku dari tempat itu.
Kaos voli ku basah karena siram anak anak.
Ku lihat Mai menangis di depan ku.
"Kenapa mai?" tanya ku bingung. Aku yang di bully kenapa dia yang menangis?
"Aku teringat Maimunah, aku gak bisa bayangkan betapa sakit nya dia ketika di bully dulu dan gak ada seorang pun yang bersama nya.
"Sudah lah, Mai pasti sudah tenang di alam sana" jawab ku.
"Dia kan bunuh diri bagaimana bisa tenang" seru Maisaroh.
Hem benar juga yah. Aku terdiam sesaat.
"Ada masalah apa kalian, kenapa berkelahi di sekolah!!" kata pak kadek. Wakil kepala sekolah, saat itu pak kadek sedang lewat di koridor tempat mereka berkelahi.
"Dia tiba tiba memukul aku pak" jawab Roni.
"Benar itu Dimas?" tanya pak kadek.
"Dia yang mulai duluan, gak mungkin ada asap kalo tidak ada api" jawab Dimas.
"Maksud nya bagaimana itu Dimas, apa yang dia lakukan hingga kamu memukul nya duluan" tanya pak kadek.
Ku lirik jam sudah jam 8. sebentar lagi pertandingan di mulai. Sebagian sudah berangkat ke SMA cahaya untuk mendukung kami. Tapi aku justru dapat masalah di saat seperti ini.
Baru saja aku hendak menjelaskan awal Masalah nya tiba tiba rombongan dari club' voli datang ke ruang ini.
"Kamu kemana saja Li!!! pertandingan sebentar lagi akan di mulai, kita harus segera berangkat" pekik Wulan.
"Maafkan aku kali ini Wulan. Seperti nya aku tidak bisa bertanding, lihat lah keadaan ku. seragam ku basah seperti ini" jawab ku.
Wulan geleng geleng kepala.
"Cepat lah ganti baju, pakai baju olahraga biasa saja" bentak wulan memaksa ku untuk ikut dengan nya.
__ADS_1
Aku menggeleng.
Pelatih mengejar Wulan dan tim. Memaksa mereka untuk naik ke mobil. Aku merasa bersalah. Aku segera meminta maaf ke pak pelatih.
Pak pelatih seperti nya mengerti keadaan ku saat ini.
Pak wakil kepala sekolah itu masih menceramahi Mereka.
"Ada hubungan apa kamu dengan Lidya, mengapa sebegitu marah nya kamu ketika Roni menghina nya, jangan merusak masa depan hanya untuk hal sepele seperti ini" seru pak kadek.
"Sepele???" bentak Dimas tiba tiba.
Aku menahan Dimas yang di kuasai amarah.
"Sudah dimas" bisik ku.
Pidato berlangsung lama, mereka berdua di beri hukuman membersihkan toilet selama seminggu ke depan. Ah syukur lah, setidak nya mereka tidak di skors. Aku akan membantu Dimas selama seminggu ke depan.
Kami pun keluar ruang guru. Maisaroh dan adit sudah menunggu kami di depan.
"Pertandingan bagaimana!!" pekik Mai panik.
Ku lirik jam tangan mai, sudah jam 08.45.
15 menit lagi di mulai. Semua tim juga sudah berada di sana selain aku.
"Aku tidak ikut bertanding" jawab ku.
"Tidak Li, kamu harus lanjutkan perjuanganmu" seru Adit.
"Sudah terlambat, biarlah, percayakan saja pada mereka. Kan ada cadangan" jawab ku santai.
"Jadi kau mau menyerah begitu saja" pekik Dimas.
"Lihat penampilan ku, kaos seragam ku basah begini, aku juga tidak bawa baju olahraga lain, tidak akan sempat" jawab ku pasrah.
Dimas berlari ke arah loker nya di dalam kelas. Ia segera mengambil baju olahraga nya pada ku.
"Cepat ganti baju, sekarang!!!" bentak Dimas sambil mendorong ku ke toilet.
Aku mau tidak mau menurut saja.
Tidak lama kemudian aku keluar memakai baju olahraga Dimas yang kebesaran.
Klakson mobil Mai memecah keheningan di sekolah saat ini. Isyarat agar aku segera masuk ke dalam mobil.
Kami berempat segera meluncur ke SMA cahaya. Sudah Jam 09.15 menit.
"Percuma, tidak akan sempat, pertandingan sudah di mulai. Kita jadi penonton saja di sana" seru ku.
__ADS_1
"Diam!!!" Jawab mereka ber 3 hampir bersamaan.