Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Villa part2


__ADS_3

Adit dan Roni berusaha melerai adik dan kakak yang sedang berkelahi itu.


"Urusan kita belum selesai anjing!" pekik Dimas ke kakak nya.


Ia memang tidak akur dengan kakak nya.


"Sudah dim, sudah" seru Adit.


Maharani berlarian mencari Lidya.


"Teman teman, Lidya gak ada di mana pun" seru Maharani panik.


Dimas dan kawan kawan terkejut dan mulai berpencar mencari ke seluruh villa. Tapi tidak ketemu.


Hujan di luar semakin deras.


Aku memandang ke langit. Air langit jatuh tepat di wajah ku.


Sementara teman teman sibuk mencari ku di villa tapi tidak ketemu.


"Apa dia nekat pulang? tapi sekarang kan sedang hujan deras!" pekik Roni.


"Bisa jadi" jawab Maharani.


Dimas bertambah murka. Ia berlari dan menyerang Yugo.


Dimas mencengkeram keras baju Yugo.


"Kalo sampai terjadi apa apa pada nya aku tidak akan memaafkan mu!!!" pekik Dimas.


Yugo menghempas tangan Dimas di baju nya.


"Teman mu saja yang bermental lemah" balas nya.


"Anjing!" pekik Dimas marah.


Adit menahan Dimas untuk memukul kakak nya.


"Bukan saat nya bertengkar! ayo sekarang kita berpencar mencari nya di luar!" pekik Adit.


"Maharani! kau di sini saja, jika kau hilang juga akan menambah Masalah lagi, siapa tau Lidya kembali, segera hubungi kami" seru Adit.


Mereka pun segera memakai jas hujan dan membawa payung serta senter.


Maharani hanya bisa pasrah menunggu dengan cemas dan menatap kesal ke arah Yugo yang duduk santai sambil minum kopi hangat nya.


Di luar.


"Lidya!!!" panggil Dimas tapi tak kunjung ad jawaban. Kebun teh terlalu luas.

__ADS_1


Adit dan Roni juga sedang mencari.


Gak usah mendramatisir deh Lidya, ayo kuat yok, kita pulang. Batin ku.


Segera aku langsung melanjutkan perjalanan ku menuju keluar dari perkebunan teh dan mencari jalan besar.


Yes aku sudah keluar dari kebun teh. Terus kemana yah.


Tiba tiba sebuah mobil keluar dari perkebunan teh.


Samar ku lihat sosok pria di depan ku keluar menggunakan payung dan memegang payung lain nya sembari melangkah ke arah ku.


Dingin mulai merasuk ke tubuh ku.


"Heh bocah baperan, nih!" pria dingin itu melempar kan payung pada ku.


"Aku gak butuh" ku lempar balik payung itu.


"Terserah" seru nya sembari melempar lagi payung itu pada ku tapi aku tidak menangkap nya dan payung itu terjatuh.


"Gak usah ge er kamu, aku cuma kebetulan lewat, dan akan segera pulang kota, bye!" seru Yugo sembari masuk kembali ke dalam mobil nya.


Aku memandang kesal ke mobil nya yang kian menjauh. Cih, siapa juga yang ge er hanya karena sebuah payung? dia bahkan tidak meminta maaf atas perkataan kasar nya tadi di villa.


Dimas berlari ke arah ku.


"Ah syukur lah kamu ketemu, Lidya pliss ayo kembali ke villa, aku benar benar minta maaf atas kelakuan Kakak ku" seru Dimas, nafas nya tersengal sengal karena habis berlari.


"Ya ampun Dimas, kamu lari yah?" ujar ku.


"Ya iya lah, panik, takut kamu kenapa kenapa di luar" seru Dimas sembari menarik tangan ku untuk kembali masuk ke dalam villa.


Mau tidak mau aku pun menurut, Dimas segera menghubungi yang lain mengabari bahwa aku telah di temukan.


Semua balik ke villa, dan berganti pakaian yang kering. Kami tengah berkumpul di ruang tengah villa itu.


"Kamu kok nekat banget sih lid" ujar Roni.


"Bukan Lidya nama nya kalo gak nekat, sudah cukup deh buat kami cemas" jawab Dimas.


"Hehe, maaf yah teman teman ,aku menyusahkan yah?" balas ku.


"Sudah tau pake nanya lagi, jangan ulangi lagi yah!" tumben Adit marah?


"Iya Li, kami semua mencemaskan mu" jelas Maharani.


"Hm iya deh, maaf, tapi kan aku udah di sini, sama kalian" kata ku tanpa rasa bersalah.


"Kakak mu memang keterlaluan deh dim, kalo gak suka yah gak usah lihat, gak harus ngomong begitu kan. Sumpah emosi jiwa aku mendengar nya tapi aku tahan, syukur bukan aku yang di gituin, kalo aku, udah aku santet dia" jelas Maharani dengan tatapan serius.

__ADS_1


Semua mata memandang ngeri ke Maharani.


"Eh becanda kok, aku gak bisa santet orang" ujar Maharani gelagapan seperti sedang ketahuan sesuatu.


"Haha, horor banget teman kita satu ini" balas ku sembari tangan kanan ku rangkul ke pundak nya.


Maharani tersenyum tipis merasa salah bicara.


"Wajar tuh di santet Kakak nya si Dimas, haha" tawa Roni.


Ku lempar bantal sofa ke arah Roni.


"Udah deh, semoga ajja kita gak akan pernah lagi ketemu sama kakak nya Dimas, semoga ini yang terakhir" ujar ku.


"Aamiin" jawab Bimo.


Sebenarnya mereka semua geram saat mendengar perkataan Yugo yang menghina ku tapi mereka tidak berani membalas karena itu kakak nya Dimas. Jika orang asing sudah mereka keroyok deh.


Istilah nya badan binasa karena lisan tak terjaga.


Aku sudah memakai pakaian tidur, dengan celana panjang karena udara sangat dingin sekarang.


Kami membuat teh hangat. Dan Dimas mengeluarkan cemilan.


"Sedih ya" ujar maharani tiba tiba.


"Sedih kenapa?" tanya ku.


"Bisa jadi ini kebersamaan kita terakhir kali nya, karena setelah pengumuman kelulusan kita akan hidup masing masing di luar sana" seru nya.


"Ah jangan bilang gitu dong, aku jadi sedih nih" balas ku.


"Yah semoga saja kita gak saling melupakan, setidak nya kita bisa reunian kan, sebulan sekali atau setahun sekali" ujar Dimas.


"Iya sih, Hem, janji akan bertemu lagi" ujar Adit sembari tangan nya di tengah tengah meja.


Aku langsung meletakkan tangan ku ke atas nya, Dimas dan yang lain pun nyusul meletakkan tangan kami di tempat yang sama.


"Janji" ucap kami bersama lalu kami kompak menarik kan tangan kami ke atas.


Kami tersenyum antara sedih atau haru bahagia karena kami akan segera dewasa.


"Kalo pun kita sulit bertemu nanti, kayak nya seru juga deh jika kita bertemu 20 tahun kemudian, kita sudah tua. Eh ambil kamera mu deh dim, kita foto foto, 20 tahun lagi kita foto begini lagi, semoga bisa lengkap, semoga kita panjang umur sehat selalu, Aamiin" ujar Roni.


Dimas mengangguk dan mengambil kamera nya, Dimas atur mengatur detik di kamera, supaya kami bisa berfoto bersama.


Sayang nya tidak ada putra. Tapi putra kan bisa aku temui kapan saja di rumah. Tak perlu reunian.


Setelah kamera di atur pas tepat di hadapan kami. Di letakkan di atas sebuah kursi kayu.

__ADS_1


Kami pun semua mengambil posisi. Aku dan maharani berada di tengah tengah mereka.


Kami semua tersenyum melihat ke arah kamera.


__ADS_2