Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
camping.


__ADS_3

Ku lirik Maharani yang berdiri sendirian di sudut lapangan, seperti biasa dia enggan berbaur dengan yang lain.


Jika begitu kenapa dia ikut?


Tapi jika aku mengajak nya bergabung Maisaroh pasti gak suka.


Dia kan gak suka sama Maharani.


"Em Mai" sapa ku pada Maisaroh yang ada di samping ku.


"Ya? ada apa?" tanya nya.


"Kita ajak Maharani gabung yuk, kasihan dia sendiri an" jawab ku.


"Ih gak ah, gak asik banget gabung sama orang aneh macam dia" protes Mai.


"Jangan gitu dong, bagaimana pun juga dia pernah membantu kita dulu" seru ku.


Mai seperti berpikir.


"Terserah kamu deh" jawab Mai.


Aku memastikan Mai benar benar mau, takut nya Mai malah gabung ke lain jika aku mengajak Maharani.


Mai mengangguk.


Aku pun segera nyamperin Maharani yang berdiri sendirian tanpa ekspresi.


Aku melambaikan tangan ke arah nya.


Maharani hanya diam tidak membalas nya. Ya begitu lah memang Maharani.


"Rani, ikut gabung smaa kami yuk" ajak ku.


Maharani terkejut.


"Em, maksud mu dengan Maisaroh?" ujar nya ragu.


"Ya iya lah, ayo" aku langsung menggandeng tangan Rani menuju ke rombongan ku.


Maisaroh, Adit, Dimas telah menunggu kami.


Terlihat wajah tidak suka dari Mai pada Maharani.


Maharani menunduk takut.


"Sudah gak apa apa kok, Mai kan baik" bisik ku ke Rani yang terlihat tidak nyaman.


Aku jadi penasaran ada apa dengan mereka berdua. Kapan kapan aku harus mencari tahu.


Jam 08.00 bus kami akhir nya datang juga.


Kami segera bergegas masuk ke dalam.


Aku duduk di samping Maharani. Dan Dimas sendiri di belakang ku. Mai bersama Adit.


"Ih harus nya aku duduk di situ, di samping mu" protes dimas dari belakang.


"Bacot, diem ajja, udah terima ajja" balas ku.


Dimas cemberut, mendengar itu Maisaroh terlihat murung dan diam. Aku jadi merasa bersalah.

__ADS_1


"Mai, kok diam ajja, maafin aku yah udah ajak Maharani" ujar ku.


Mai hanya menggeleng kepala dan tersenyum.


Adit menatap ku terus sejak dari lapangan. Aku belum memberi nya jawaban.


Ku pasang headsad lalu menyetel sebuah lagu untuk menghilangkan bosan selama perjalanan panjang.


Bus sudah berjalan sejak tadi. Mungkin sudah 1 jam, aku enggan melirik jam. Mata ku terpejam hendak tertidur di dalam bus.


Aku terhanyut dalam musik Yang ada di handphone ku.


Aku tertidur.


...🌺🌺🌺...


"Lidya, bangun, sudah sampai" seseorang membangun kan ku.


Aku yang masih bersandar di pundak Maharani pun tersadar.


"Loh kok jadi kamu di samping ku, sejak kapan? Maharani mana?" tanya ku pada Dimas yang berada di samping ku.


Jadi sepanjang jalan tadi aku tidur di pundak Dimas?


"Aku minta tukeran tempat ke dia, kasian dia kamu jadikan bantal" seru Dimas.


Aku melirik Maharani yang duduk di belakang ku. Dia tersenyum melihat ku sudah bangun.


Kami sudah sampai tujuan. Sekian lama perjalanan. Sekarang kami berada di Puncak di daerah kota xxx.


Setelah guru selesai data dan lain lain, kami pun masuk, anak laki laki sibuk membawa perlengkapan untuk memasang tenda.


Dimas dan Adit semangat membantu memasang tenda. Ada lumayan banyak pengunjung di sini.


Ku bentangkan tangan ku menghirup udara segar di puncak.


Setelah tenda selesai, kami semua makan dan istirahat di tenda masing masing.


1 tenda terdiri dari 3 orang. Ada juga yang 4 dan 5 orang dalam 1 tenda. Tergantung masing masing kelompok mau nya berapa orang.


Aku ber 3, dengan Maisaroh dan Maharani


Menjelang malam kami semua keluar tenda. Ada api unggun di luar dan kami bebas berfoto foto.


Ada yang main gitar, ada yang hanya tiduran di tenda. Ada yang asik Selfi, dan lain lain.


Udara malam mulai dingin menusuk, ku pakai jaket bulu ku dan mendekat ke api unggun.


Dimas mendekati, dia duduk sebelah kanan ku.


"Dingin yah?" sapa nya.


"Bosan lebih tepat nya" jawab ku datar.


"Kok bosan, asik kok, rame, kapan lagi ada momen seperti ini, nyesel loh kalo gak di manfaatin" seru nya.


"Iya iya.." jawab ku singkat.


Adit pun datang duduk di sebelah kiri ku.


Aku terkejut saat Adit memberi jaket nya pada ku dari belakang.

__ADS_1


"Eh Adit, aku sudah pakai jaket kok, kamu ajja yang pakai" ujar ku.


Dimas lalu mengambil jaket itu dan memakai nya.


"Buat aku saja yah, aku kan gak pakai jaket, makasi Adit" seru Dimas.


Adit mendecak kesal.


Maisaroh memperhatikan kami dari arah tenda yang tidak jauh dari api unggun tempat kami nongkrong.


Maharani entah kemana.


"Lidya Wijaya, apa ada seseorang yang kamu sukai?" tanya Dimas tanpa basa basi.


Adit terkejut mendengar keberanian Dimas bertanya seperti itu.


"Maksud nya?" tanya ku.


"Maksud ku apa ada seseorang yang kau sukai?" tanya nya lagi.


Aku langsung teringat putra, apa perasaan ku pada putra itu bisa di katakan menyukai, sebagai dia saudara atau dia sebagai laki laki remaja seperti ku.


"Entah lah, aku belum yakin" jawab ku.


"Bagaimana jika aku suka sama kamu, apa ada kesempatan untuk memiliki mu?" tanya Dimas.


Adit semakin gelisah melihat keberanian Dimas.


Suasana semakin canggung.


"Eh, aku gak tau Dimas, aku belum pernah pacaran sebelum nya" jawab ku.


Aku tidak enak dengan Adit. Aku pamit menjauh dari mereka karena situasi yang kian tidak nyaman.


Maisaroh mendekati ku, kami ngobrol di luar tenda. Di samping pohon besar.


"Ada apa di antara kalian" tanya Maisaroh.


"Eh, gak ada apa apa kok" jawab ku.


"Ah syukur lah, aku ingin curhat, apa kau mau mendengarkan nya" ujar Mai.


Mai curhat? itu jarang sekali terjadi. Aku dengan bangga mengangguk.


"Tentu saja, mau curhat apa?" tanya ku.


"Jangan beri tahu siapa pun yah, aku sebenarnya sudah lama suka dengan Dimas, sejak kelas 1, tapi karena kami Sahabatan aku pendam saja, apa lagi kami terjebak friendzone " seru Mai.


Aku terkejut. Seorang maisaroh menyukai Dimas yang jahil dan genit. Aku malah mengira Mai menyukai Adit yang perfeksionis, apa lagi Mai lebih banyak menghabiskan waktu bersama Adit dari pada Dimas.


Aku diam saja karena bingung harus menjawab apa.


"Kok kamu diam Li, kamu suka juga dengan nya?" tanya Mai.


"Eh, gak kok" jawab ku.


Ku gigit bibir bawah ku, khawatir jika Mai tau Dimas menyukai ku.


Aku harus bagaimana? aku bahkan tidak menjawab mereka berdua.


Tapi aku mantap akan menolak Adit. Aku juga gak mungkin terima Dimas setelah tau Mai menyukai nya.

__ADS_1



__ADS_2