
Banyak typo nya π . Maaf. Keyboard nya ngadi Ngadi. Lain di ketik lain yang muncul. Ngakak sendiri pas baca ulang.
......πΊπΊπΊ......
Selesai pengajian malam itu aku duduk sendirian di sudut belakang rumah Oma.
Menyendiri. Aku tidak nyaman jika berkumpul di khalayak ramai, apa lagi banyak orang tua rese yang suka sekali bergosip.
Ku pandangi layar handphone ku.
Putra tak kunjung menghubungi ku.
Ku tatap langit malam itu, biasa saja. Angin semilir meniup pepohonan di belakang rumah Oma ini. Rambut ku pun bergerak tertiup angin.
"Kamu ngapain sendirian di sini?" tanya Yugo tiba tiba.
Aku menatap nya sesaat dengan malas.
Tanpa ekspresi.
"Bukan urusan mu" jawab ku.
Yugo menatap ku sambil tertawa mendengar jawaban ku.
Apa yang lucu sehingga dia tertawa seperti itu. Aneh.
Tapi aku tidak menghiraukan nya.
"Lidya Wijaya, kamu ini memang tidak tau terima kasih yah, udah di tolong masih jutek begitu sama aku" seru nya.
"Kau tau nama ku? tapi kenapa kau tidak menyebut nya saat bersaksi di depan opa?" tanya ku.
"Jadi kamu mau aku meyebutkan nama mu?" jawab nya.
"Gak sih, kita kan gak kenal" ujar ku.
Yugo lagi lagi tertawa tanpa ada sebab.
Bagi ku tidak ada yang lucu saat ini.
Aku berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Hey, kenapa kau selalu menghindari ku?" ujar Yugo.
"Aku gak ada urusan sama kamu, lagian aku benci pada mu" jawab ku menoleh ke arah nya.
"Benci? sama! aku juga benci, jangan berpikir aku menolong mu tadi karena aku tertarik. Jangan pernah ge er dan tetap lah seperti itu!" seru nya.
"Ok, berarti yang aku lakukan benar kan? menghindar lebih baik ,karena jika bertemu aku tidak yakin bisa menahan rasa benci ku atau tidak, sebaik nya kita tidak pernah bertemu lagi" seru ku.
Yugo tersenyum sinis.
"Sejak awal kau pasti tau kan kalau kita di jodoh kan, maka nya kau selalu ada di sekitar ku, kau pasti penasaran dan ingin tau tentang aku orang nya seperti apa?" ujar Yugo percaya diri.
"Aku memang tau perihal perjodohan itu tapi aku menolak nya dan aku tidak pernah mencari tau tentang kau sama sekali, berhenti lah untuk ge er dan terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mu, bahkan aku benci, jadi enyah kah dari hadapan ku!" pekik ku.
__ADS_1
"Heleh, jomblo ajja Sok jual mahal, pake acara menolak segala, harus nya aku yang bilang begitu, aku kan punya pacar jadi harus nya aku yang menolak keras, kau juga tidak ada apa apa nya dengan pacar ku" balas Yugo.
"Aku tidak peduli, inti nya aku tidak Sudi di jodohkan dengan orang seperti mu!" pekik ku sambil sedikit berlari ke kamar.
"Kau pikir aku sudi!" teriak nya.
Sesampai nya di kamar aku memeriksa handphone, lagi lagi tidak ada kabar putra.
......πΊπΊπΊ......
Seminggu sudah aku meliburkan diri dari kuliah ku karena sedang di Jakarta sejak Oma meninggal.
Aku melihat mama berkemas kemas di kamar nya saat itu, aku melihat nya dari pintu kamar nya yang terbuka.
Aku memberanikan diri menyapa dan masuk ke dalam kamar nya.
"Mau kemana? kan belum saat nya pulang kembali ke kota x?" tanya ku.
Mama sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan ku.
"Mama akan ke Jerman menemui putra, ada hal yang harus mama urus di sana" jawab nya.
"Hal apa? putra kenapa?" tanya ku.
"Tidak apa apa, mama gak lama kok" jawab nya.
Aku melihat raut wajah khawatir di muka nya.
"Baik lah, salam sama putra" seru ku.
"Aku juga akan segera balik ke kota x, karena aku harus melanjutkan kuliah ku" ujar ku.
"Belajar yang baik yah, semangat" kata mama.
"Papa ikut ke Jerman?" tanya ku.
"Tidak, papa mu harus kembali ke kota x karena sudah 1 bulan lebih ia meninggal kan kantor nya, syukur ada sekertaris yang bisa ia andalkan" jawab mama.
"Ya sudah aku pulang sama papa saja nanti" ujar ku.
"Doakan putra ya" seru mama tiba tiba.
Seketika saja perasaan tidak enak menggelayut di hati ku.
"Doakan apa, apa terjadi sesuatu pada nya?" pekik ku.
"Doakan dia sukses kuliah nya di sana, tidak ada masalah kok, mama hanya rindu pada nya" ujar mama.
Papa sudah mengurus kan segala keperluan mama untuk berangkat ke Jerman.
Keesokan hari nya mama pun berangkat ke Jerman. Aku dan papa menemani nya ke bandara.
......πΊπΊπΊ......
3 hari kemudian aku dan papa pun pulang kembali ke kota x.
__ADS_1
Om Eric sekeluarga sudah pulang. Mereka hanya menginap sehari saja di Jakarta.
Aku kembali menghirup udara segar sekitar rumah ku.
Ku dorong koper setelah turun dari mobil.
Pak Dadang membantu membawakan barang barang ku ke atas kamar.
Ku bersihkan diri dan tertidur.
Besok aku akan kembali masuk kuliah.
......πΊπΊπΊ......
Pagi itu aku bangun, memakai kemeja abu abu dan celana semi formal berwarna hitam. Sepatu sneaker putih menghiasi kaki ku.
Ku bawa ransel berisi laptop dan beberapa buku besar juga alat tulis dan lain lain.
Sudah semangat mau belajar eh dosen nya malah mendadak tidak bisa hadir. Nasib.
Sembari menunggu mata kuliah yang lain aku pun bersantai di kantin kampus.
"Lama gak keliatan, dari mana saja?" tanya maharani.
Aku menoleh ke arah sumber suara.
"Oma ku meninggal , jadi aku ke Jakarta, sory gak sempat ngabarin" jawab ku.
"Kebiasaan deh, suka banget menghilang" seru nya.
"Oh ya apa kabar Tante Sifa, apa dia baik baik saja?" tanya ku.
Maharani mengerutkan kening nya.
"Tumben nanyain dia?" tanya maharani balik.
"Eh, gpp cuma kangen ajja sama ke bar bar an nya, gak boleh?" ujar ku.
"Hem boleh sih cuma agak aneh ajja" jawab nya.
"Hehe" aku tersenyum simpul.
Setelah menunggu sekian lama akhir nya mata kuliah hukum ekonomi tiba juga.
Aku memasuki ruang kelas perkuliahan. Beda saat masih SMA.
Ibu Atik memasuki ruang, seketika kelas hening.
"Selamat siang semua, maaf saya tidak bisa mengajar untuk saat ini dan 3 bulan ke depan karena saya akan cuti melahirkan, jadi untuk sementara waktu akan di gantikan oleh dosen sementara, silahkan masuk pak dan perkenalkan diri" seru Bu atik sembari mempersilahkan dosen sementara itu masuk.
Seketika mata kami semua tertuju pada dosen baru itu.
Aku menatap lekat siapa pria yang ada di depan ruang saat ini.
"Selamat siang semua, saya Yugo Hindarto Abidal, saya akan menjadi dosen kalian untuk sementara menggantikan ibu Atik yang akan cuti melahirkan, salam kenal" ujar nya.
__ADS_1
Aku melongo, kenapa harus dia sih jadi dosen pengganti nya? kenapa harus ketemu dia terus sih, ya Tuhan. Dia kan baru selesai S1 dan baru akan mengurus kuliah untuk S2 nya, kok bisa dia jadi dosen di sini, nyebelin banget!"Batin ku.