Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 51.


__ADS_3

Keesokan hari nya aku kembali ke rumah.


Karena harus turun sekolah.


Ku pakai seragam ku, ku sisir rapi rambut


panjang ku. Seperti nya aku harus potong rambut.


Bercermin untuk ke sekian kali nya.


Hari senin, hari yang tidak menyenangkan.


Karena harus upacara bendera.


Ku pakai topi sekolah. Maisaroh berdiri di samping ku. Upacara berlangsung khidmat.


Tidak ada yang pingsan seperti biasa nya.


Selesai upacara Mai, Adit dan Dimas menyerbu ku.


"Kemana saja kamu, gak turun sekolah, dan gak bisa di hubungi" kata Mai.


"Eh maaf, aku ada urusan mendadak kemarin" jawab ku.


"Kenapa tidak beri tahu kami?" tanya Adit.


"Urusan pribadi, maaf yah" jawab ku.


Adit mendengus kesal.


Dimas menjitak kepala ku.


"Sok sibuk banget sih!!!" kata Dimas.


"Ih beneran sibuk, sakit tau, kebiasaan deh" protes ku sambil memegang kepala ku.


"Aduh kebelet, aku ke toilet dulu yah" kata ku.


Aku sedikit berlari ke arah toilet sekolah.


Setelah itu aku bercermin.


Maharani terlihat keluar juga dari toilet.


"Makasi yah" ujar nya.


"Maksud nya? terima kasih untuk apa nih?" tanya ku.


"Untuk semua nya, berkat mu kasus maimunah terungkap dan selesai dengan baik, sekolah ini jadi lebih aman sekarang" ujar Rani.


"Eh, bukan berkat aku sih, itu juga karena kamu dan teman teman yang lain", jawab ku.


Aku bercermin lagi. Merapikan ikatan rambut ku.


"Kembali lah berprestasi seperti dulu. Kau bisa cari kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sekolah mu dan adik mu. Tidak dengan cara instan menjual sesuatu yang tidak seharus nya. Jadi lah manusia yang lebih baik dan jujur" nasehat ku.


"Persaingan di kelas itu ketat, meski mereka tidak pernah memperlihatkan nya, di luar sekolah mereka ikut les tambahan dan lain lain" ujar Rani.


Akan tidak peduli. Lalu ku ajak Maharani kembali ke kelas.


Ku pandangi Fika, gadis yang berada di peringkat ke 2 dikelas. Gadis yang membeli rangking nya Maharani.

__ADS_1


Fika memandang ku tidak suka saat aku masuk kelas bersamaan dengan Maharani.


Maisaroh lalu menyambut ku.


Ada beberapa teman yang tidak suka melihat kedekatan ku dengan maisaroh, karena memang selama ini Maisaroh adalah anak pintar sombong yang tidak mudah di dekati.


Tapi dengan ku si anak baru ini bisa dengan mudah akrab dengan nya.


"Lihat tu, si tukang cari muka di depan saroh, muak aku melihat nya" bisik tari ke anak anak lain.


Beberapa mengangguk setuju.


Sebenar nya mereka iri karena selama ini tidak bisa mendekati primadona sekolah itu.


Maharani yang mendengar itu langsung menegur mereka.


"Jangan berprasangka, dia tidak seperti itu" kata Maharani tiba tiba.


Sebagian murid pun terkejut, seorang pendiam seperti maharani bahkan membela lili sekarang.


"Bukan urusan mu Rani, pergi lah" kata tari.


Mereka memperhatikan ku yang sedang asik ngobrol dengan Maisaroh.


Dimas datang dengan Adit lalu ikut ngobrol juga. Banyak yang mereka bahas selama aku tidak turun sekolah. Cerita mereka lucu sehingga aku tertawa.


"Lihat saja, akan aku cari kelemahan mu, sampai kapan kau bisa tetap tertawa seperti itu" ujar tari sambil menatap ku sinis.


Sepulang sekolah ku lihat putra tengah meletakkan barang barang nya di Bantu oleh pembantu.


Kamar nya tepat di sebelah kamar ku.


Ia masih memakai seragam sekolah nya.


Rindu? Tidak. Satu satu nya yang ku rindukan hanya Bimo sahabat ku.


Aku pun masuk ke kamar ku, meletakkan tas ku. Membuka kaos kaki ku.


Lalu keluar melihat putra dan beberapa pembantu yang sibuk mondar-mandir.


Ku lirik sekilas kamar putra yang masih berantakan.


Ku beranikan diri melihat isi kamar nya.


Barang barang itu, sudah terlihat tua, kenapa dia tidak membuang nya?


Selesai berpindah, aku masuk ke kamar putra.


"Eh, masih berantakan dan berdebu, jangan masuk" cegah nya.


Tapi aku tetap masuk karena penasaran.


Bola mata ku berputar melihat isi kamar nya.


Kamar se mewah ini jadi terlihat kumuh karena barang barang putra.


"Kenapa tidak tinggalkan saja barang barang ini di rumah lama mu, kan bisa beli baru" ujar ku.


"Sudah kok, tapi ada hal yang tidak bisa aku tinggalkan, ini berarti bagi ku" jawab nya.


"Hmm, gitu."

__ADS_1


Ku pandangi barang barang itu. Semua sudah usang, baju baju putra juga. Kecuali seragam sekolah nya.


Ku lihat baju putra yang sudah tidak layak pakai. Di dalam kardus.


"Ini baju kamu?"pekik ku histeris.


"Lebay, kenapa emang?" Tanya nya.


Sebenar nya aku tidak tega melihat nya.


"Ada apa sih" protes nya.


Bahkan kain lap di rumah ini lebih baik dari pada semua baju milik nya di kardus itu.


Aku seketika bersyukur bisa hidup mewah selama ini, aku melihat foto putra yang Ia letakan di atas meja belajar, foto nya di kampung halamannya.


"Ini di mana?" Tanya ku.


"Tarakan, kampung halaman ku", jawab nya.


Putra harus beli baju baru dan segala perabotan baru untuk kamar nya. Aku tidak tega jika harus melihat pemandangan ini. Aku seperti masuk dalam dimensi waktu di mana aku sedang tidak berpijak di rumah ku tapi di sebuah tempat pengungsian.


"Pilih mana yang sangat penting, selebih nya akan ku taruh di gudang" perintah ku.


"Maksud nya? Semua ini penting lah" balas nya.


"Pilih sekarang atau aku singkirkan semua barang barang ini ke gudang" ancam ku.


"Maksud mu apa, aku pakai apa jika semua kau singkirkan, kau mau aku tinggal di gudang?" Tanya nya.


"Bukan gitu juga konsep nya bambang, masalah baju dan lain lain kita beli baru, semua yang ada di sini kita beli baru," pekik ku.


Tanpa jawaban aku perintahkan beberapa pembantu untuk menyingkirkan barang barang itu ke gudang.


Putra hanya pasrah. Yang tersisa hanya seragam sekolah, dan perlengkapan sekolah nya, juga foto di kampung halaman nya. Selebih nya sudah lenyap dari pandangan.


Ku amati seisi kamar yang perlu di beli baru. Lemari masih bagus. Sih tapi cuma 1, tempat tidur dan meja belajar juga baru di beli papa memang khusus untuk kamar putra.


"Lemari segitu cukup?" Tanya ku.


"lebih dari cukup lah, itu kan besar banget" jawab nya.


"Gak deh kita beli 1, lagi" kata ku.


Kami yang masih pakai seragam pun ganti pakaian lalu meluncur ke bawah. Menuju parkiran mobil.


Syukur nya putra bisa bawa mobil.


"Kok kamu bisa bawa mobil?" Tanya ku.


"Dulu bapak ku supir angkot, dan dia mengajari ku menyetir mobil, maka nya aku bisa menyetir" jawab nya.


"Ohh" balas ku lalu mengarahkan putra ke toko furniture. Setelah itu ke toko baju terbesar di kota ini.


Aku menyuruh nya memilih banyak banyak baju baru.


"Kenapa aku harus beli baju baru?" Tanya nya.


"Pilih saja, jangan banyak tanya", kata ku.


Karen putra bingung aku pun memilih kan untuk nya, kaos, boxer, bahkan pakaian dalam ku pilihkan untuk nya hingga ber lusin lusin banyak nya.

__ADS_1


"Kamu mau belanja atau jualan sih ,itu kan kebanyakan" protes putra.


__ADS_2