
"Lidya, kamu bisa gak sih pisah sama Sumiati. Kita bagi kelompok biar tugas kita capat kelar tanpa drama" seru desta.
Meski tidak ada pemilihan ketua dalam kkn ini desta seperti bertanggung jawab atas kegiatan kkn yang kurang lebih 2 bulan ini karena dia lah yang menentukan tempat ini.
"Gak, kenapa sih, memang nya kalo kami bersama banyak drama nya?" protes Sumiati tanpa sempat aku menjawab nya.
Desta mengetuk kepala Sumiati dengan kertas.
"Kalian harus di pisah biar kerja nya fokus, ok" tegas nya.
Sumiati tidak ada pilihan lain selain menerima.
"Gpp kok, kan kita masih bisa bertemu di sini, di rumah nya mbah" ucap ku menyemangati Sumiati.
"Ya sudah" jawab Sumiati pasrah.
Untuk memudahkan, desta lalu membuat kelompok untuk melakukan tugas nya masing masing, ada masa nya nanti mereka bertemu semua untuk ikut kegiatan atau acara di balai desa.
Mereka pun berpencar. Terbagi jadi 3 kelompok.
Sumiati menghela nafas berat karena dia 1 kelompok dengan desta yang bawel.
Aku dan kelompok ku berjalan menuju rumah pak kepala desa mencari informasi lebih di desa ini.
Semua berjalan lancar hingga tidak terasa kkn kami sudah 1 bulan lama nya, semua hal mistis di sini aku tepis kan, meski terkadang Sumiati suka kesurupan. Kami menganggap nya sudah hal biasa karena di kota saja Sumiati sering kesurupan apa lagi di sini, di desa terpencil, di kampung orang.
Dan kami benar benar tidak ada yang keluar malam malam sesuai permintaan mbah dan desta yang selalu menjaga keberadaan kami di malam hari, ia sampai harus mengabsen kami satu persatu.
"Aku gak mau kkn kita kacau karena satu dua orang, maka nya aku tekan kan untuk nurut dan jangan aneh aneh, 1 bulan lagi, aku gak segan segan mengeluarkan orang yang tidak disiplin di kkn ini, cari saja tempat kkn lain jika ingin bebas" Tegas desta.
Kalimat desta itu bukan main main, itu lah yang membuat semua nya takut dan menurut pada nya. Tapi aku tau itu semua demi kebaikan bersama.
"Tapi mbah, kenapa tidak boleh keluar malam malam? apa desa ini tidak ada kebutuhan saat malam hari?" tanya wawan.
"Ya karena gelap, pokok nya jangan keluar malam malam, mbah nggak tanggung jawab jika terjadi sesuatu di luar sana sama kalian" jawab Mbah.
Malam itu kami semua berkumpul di ruang tamu.
Semua yang perempuan tidur di kamar, sementara yang laki laki tidur di luar, ruang tamu.
Brukk!!
Tiba tiba suara sesuatu jatuh di dapur, bunyi nya keras membuat kami semua terkejut di buat nya.
Lagi lagi Sumiati bertingkah aneh di dapur.
Aku dan yang lain bergegas melihat nya
__ADS_1
Karena keseringan seperti itu kami sudah tidak ada yang heran dan takut lagi.
Sumiati menggeliat seperti ular yang kepanasan.
"Apa teman kalian itu memang selalu seperti itu?" tanya mbah.
"Iya mbah, dia memang mudah kemasukan jin, entah lah, mungkin karena rasa takut nya yang begitu besar" jawab ku.
Mbah lalu mendekati nya.
Sumiati pingsan dan di bawa ke ruang tamu.
"Dasar menyusahkan!" umpat desta.
Aku menatap desta tajam dan mendekati nya.
"Jika kamu di posisi itu, apa kau akan senang kalau kami bilang kau menyusahkan?!" balas ku.
"Urus saja teman mu itu, selalu saja kesurupan heran deh, kenapa duku tidak di Rukiah saja sih" jawab desta.
Aku menghirup nafas dalam dalam dan ku hembuskan untuk menenangkan diri agar tidak emosi dengan desta.
"Lihat lah, teman teman lain tidak pernah kesurupan seperti dia, berarti dia yang bermasalah" ujar desta lagi.
"Terserah lo deh!" jawab ku tidak mau berlama lama meladeni desta.
Suara pintu di ketuk.
Desta bergegas keluar dan membuka pintu, Siapa yang bertamu larut malam begini?
"Ini sudah larut malam kenapa kalian belum ada yang tidur?" tanya mbah.
"Biasa mbah, ini kan malam minggu, besok libur, jadi bebas deh Bangkong dan bebas dari kegiatan kkn" Jawab wawan.
"Siapa yang datang?" tanya mbah.
Desta hanya diam saja dan kembali menutup pintu.
Wajah nya pucat pasi.
Aku hanya diam saja.
Wawan mendekati desta.
"Ada apa sih?" tanya wawan.
"Gak ada apa apa kok, kunci pintu dan semua nya tidur, jangan ada yang keluar yah" pesan desta.
__ADS_1
Jika Desta memberikan perintah semua nya berdiri dan langsung menuju tempat tidur.
Yang aku syukuri, di rumah mbah ini ada kamar mandi nya, karena aku sempat khawatir tidak ada kamar mandi dan toilet di rumah ini.
Soal nya saat pertama kali ke desa ini aku melihat ada kamar mandi umum di luar sana. Huft. Lega sekali rasa nya seperti menemukan emas berlian permata saat pertama kali aku tau di rumah ini ada kamar mandi nya.
Keesokan hari nya, pagi, selepas sholat subuh aku tidak terbiasa tidur lagi, lebih tepat nya setelah menikah kebiasaan buruk ku yang suka Bangkong telah hilang, aku duduk duduk di teras rumah mbah. Menatap warga yang bolak balik mengambil air di sumur dekat kamar mandi umum, pagi pagi buta.
"Cuma kamu yang selalu terjaga pagi buta begini, ini minum teh" tawar mbah sembari duduk di samping ku.
Ini pasti pahit?
"Hm, makasih mbah" jawab ku.
Mbah tersenyum melihat raut wajah ku yang aneh.
"Itu manis kok, nggak seperti teh favorit mbah, minum lah" seru mbah seolah tau isi hati ku.
Mungkin terbaca dari raut wajah ku.
"Hehe, tau ajja mbah, aku nda kuat minum pahit" jawab ku.
Ku hirup ara teh melati di cangkir.
Tidak lupa ku bacakan doa sebelum meminum dan memakan apa pun di sini mau pun di mana saja. Bukan suuzon tapi di mana pun kita berada kan harus mengingat Allah. Termasuk makan dan minum.
Setelah selesai membaca basmalah dan Alfatihah aku mulai menyeruput teh itu.
"Hmm enak, makasi mbah" jawab ku.
Mbah salimah tersenyum.
"Kalau masih hidup mungkin anak nya mbah sudah sebesar kamu" seru mbah.
"Sabar ya mbah, hidup mati kita kan sudah di tentukan, Allah yang mengatur semua nya. Kita pun hanya menunggu giliran kapan akan di panggil" jawab ku.
Ups aku lupa, mbah kan penganut agama hindu.
Di desa ini banyak penganut agama hindu dan budha . Ada Muslim tapi minoritas.
Masjid pun tidak ada maka nya aku kesulitan saat mengetahui jam sholat. Handphone kami sudah tidak ada yang bisa di pakai. Cuma kamera yang tersisa untuk dokumentasi.
Aku tidak suka pakai jam tangan sehingga aku tidak membawa nya, ada sih hadiah dari teman teman, aku tidak pernah beli jam tangan.
Aku selalu bertanya kepada wawan jika ingin mengetahui jam. Sayup sayup terdengar suara adzan dari kejauhan kampung sebelah, meski sangat jauh, suara nya kadang sampai ke desa ini dan itu membuat ku senang, Masya Allah.
Aku lirik mbah perlahan takut beliau tersinggung. Tapi mbah justru tersenyum.
__ADS_1