Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Hanya figuran.


__ADS_3

"Oh" jawab ku singkat.


"Kamu gak marah?" tanya putra.


"Untuk apa aku marah? toh kejadian nya juga sudah lama berlalu" seru ku.


......🌺🌺🌺......


Bel sekolah berbunyi. Aku duduk sendiri melamun. Jam istirahat bingung mau ngapain.


Dimas menarik tangan ku tiba tiba dan mengajak ku ke kantin.


"Apaan sih dim?" protes ku.


"Temani aku makan" seru nya.


Sesampai nya di kantin Dimas memesan 2 mangkok bakso dan 2 es teh manis.


"Aku gak lapar" seru ku.


"Yeee, ge er banget sih, aku makan 2 mangkok lah." seru Dimas.


Aku tertawa mendengar nya.


"Minum juga 2 gelas? Lo abis belajar apa abis lari maraton sampe kelaparan gitu" ejek ku.


"Entah lah, perut ku pusing, otak ku lapar" seru Dimas.


Kocak in the world memang si dimas ini. Benar benar cuma minta temani makan.


Ku lihat lihat galeri di handphone ku, melihat foto saat liburan di Tarakan.




Dimas melirik ponsel ku.


"Wah cantik banget foto jodoh ku ini" seru Dimas.


Ku pukul pundak nya hingga hampir saja pentol bakso keluar dari mulut nya.


"Eh maap, sengaja!" ujar ku.


Tiba tiba Bimo mampir ke meja kami. Membawa nampan berisi makanan nya.


"Boleh gabung?" tanya nya.


"Boleh dong, ini kan tempat umum" jawab Dimas polos.


Lagi lagi ku cubit lengan Dimas hingga tangan nya merah.


"Auh, sakit banget tau, penganiayaan ini mah" protes Dimas.


Aku berdiri hendak pergi tapi Dimas menahan ku, ia menangkap lengan ku dan memaksa ku untuk duduk kembali.


"Sudah ada teman mu makan kan, untuk apa aku di sini?" pekik ku.


"Loh,kamu gak makan?" tanya Bimo.


"Diet! puas Lo!" jawab ku.


Bimo mengeluarkan roti isi coklat kacang favorit ku ketika di SMA cahaya dulu, sudah lama sekali aku tidak memakan nya.


"Makan lah walau sedikit" tawar Bimo.


Aku menatap nya tidak suka.


"Kalori nya besar, aku gak mau" tolak ku.


"Gak boleh loh nolak rejeki" seru Dimas.


Dengan ragu aku menerima roti itu. Tapi aku berikan ke Maharani yang sedang lewat.


Bimo sedikit kecewa. Ia dan Dimas pun lanjut makan.


Dimas benar benar menghabiskan 2 mangkok bakso nya.

__ADS_1


Dimas berdiri sejenak untuk membayar makanan nya.


Ia membawa susu kotak dan memberikan nya pada ku.


"Tenang ajja, itu low fat, pokok nya rendah kalori deh" seru Dimas.


Aku memandang gemas ke arah Dimas.


"Makasih yah dim" seru ku.


Ku minum susu itu.


Bimo menatap kesal ke arah kami.


Ia juga sudah selesai makan.


"Maafkan aku sudah menyebar rumor itu" seru Bimo.


"Sudah ku duga gosip itu tidak benar, apa tujuan mu sebenarnya?" tanya Dimas.


"Aku hanya ingin Lidya kembali seperti dulu lagi" jawab Bimo.


"Jangan pernah menyakiti nya, kau akan berhadapan dengan ku" tegas Dimas.


Bel tanda masukan berbunyi.


"Duh apaan sih, dim, yuk balik ke kelas, udah bunyi bel tuh" ujar ku sembari menarik tangan Dimas.


Dimas senyum senyum sendiri melihat tangan ku menarik tangan nya.


"Pulang sekolah jalan jalan yuk" ajak Dimas.


"Gak ah" tolak ku.


"Ih jahat banget, aku kan ulang tahun" ujar Dimas bohong.


"Ah benar kah?" tanya ku.


Kasihan juga gak ada yang mengingat ulang tahun nya.


"Hem baik lah, ok" jawab ku akhir nya.


"Yess!!" seru dimas girang. Ia mulai menari nari sepanjang koridor.


.......🏵️🏵️🏵️......


Sepulang sekolah kami benar benar jalan.


Maafkan aku putra.


Aku di bonceng naik motor nya Dimas. Ia lebih nyaman bawa motor dari pada mobil ke sekolah atau kemana pun.


Angin berhembus ringan, cuaca bersahabat, tidak mendung, tidak juga panas.


Pohon seolah menari tertiup angin.


Dimas menambah laju motor nya sehingga aku harus memeluk nya di belakang. Dimas tersenyum bahagia.


Sesampai nya di tujuan.


Danau?


"Kita ngapain kesini?" tanya ku.


"Cuci piring" jawab Dimas ngasal.


Aku tersenyum ringan, Dimas memang aneh.


Ku lihat ia sibuk membuka jok motor nya, mengeluarkannya sebuah tikar kecil dan beberapa cemilan.


"Piknik dong sayang" seru nya.


Sumpah geli banget aku dengar nya.


Putra saja tidak pernah memanggil ku seperti itu.


Setelah tikar super mini itu digelar, Dimas mulai menyusun cemilan nya.

__ADS_1


"Aduh lupa beli minuman dingin nya" seru dimas.


Syukur banyak ajja jajanan di sekitar danau ini. Banyak pedagang cemilan tradisional.


Dimas pamit sejenak untuk membeli minum.


Aku menikmati pemandangan indah nya danau.


Danau ini dulu tempat ku mencurahkan kegundahan dan kegelisahan hati ku.


Aku baru sadar ,sudah lama sekali aku tidak kemari.


Dimas pun datang kembali membawa 2 botol soft drink dingin dan telur gulung se plastik penuh.


"Ya ampun, bisa bisulan kita makan telur sebanyak ini" protes ku.


"Ih makan ajja deh, bismillah, insya Allah aman" seru Dimas.


Hanya kami satu satu nya pengunjung yang kesini pakai seragam putih abu-abu.


Kami ngemil sambil ngobrol.


Ku lepas sepatu ku dan duduk santai di karpet itu.


Kami menikmati pemandangan indah danau itu.


"Lidya Wijaya" panggil nya.


"Yah" jawab ku.


"Aku tau aku hanya figuran di cerita hidup mu, tapi bisa kah pertimbangan kan lagi perasaan ku? sebentar lagi kita lulus sekolah, aku ingin kau ingat masa putih abu abu kita ini" seru Dimas sedih. Mata nya berkaca kaca.


Aku menatap nya, tatapan Dimas lurus ke arah danau, raut wajah nya sedih, bukan sedih di buat buat seperti di sekolah tadi, tapi kesedihan yang sesungguhnya.


Sedih aku mendengar nya, Dimas merasa diri nya hanya figuran?


Belum sempat aku menjawab ponsel ku berbunyi.


Aku angkat telepon itu.


"Lagi di mana?" seru putra.


Aku harus jawab apa? apa aku jujur saja jalan dengan Dimas? atau bohong saja.


Aku jalan juga karena Dimas ulang tahun. Aku kasihan melihat nya merayakan ulang tahun sendirian.


"Ada tugas kelompok di sekolah, aku ke tempat teman" jawab ku bohong.


"Baik lah" putra lalu mematikan telepon nya.


Dari kejauhan putra melihat ku sedang ngobrol berdua dengan Dimas di tepi danau.


Ia cemburu tapi tidak bisa berbuat apa apa, putra pun masuk ke dalam mobil dan pulang.


"Main tebak tebakan yuk" ajak dimas.


"Males ahk, kamu kan suka Ngadi Ngadi" jawab ku.


"Ih ayo lah, tebak nih,  apa bedanya matahari dengan bulan?


"Beda lah, matahari ada dia siang hari, kalo bulan ada nya di malam hari" seru ku.


"Salah, jawaban nya kalo matahari ada diskon, di bulan nggak ada. Haha" jawab Dimas.


"Sudah ku duga jawaban nya pasti ngadi Ngadi, garing ahk" protes ku.


"Kayak kita, kamu bulan aku matahari, kita gak bisa bersama kan?" seru Dimas pesimis.


"Jangan kek sad boy gitu deh dim" ujar ku kesal.


"Hehe, 6 bulan lagi kebersamaan kita di sekolah, setelah itu kita akan hidup masing masing di luar sana, apa kita masih bisa seperti ini?" tanya Dimas.


Aku terdiam.


Dimas benar, meski banyak drama disekolah aku nanti pasti akan merindukan masa masa indah dan buruk nya.


"Entah lah dim, semoga saja kita masih bisa berteman setelah lulus sekolah nanti, aku sih belum ada planing akan kuliah di mana" jawab ku.

__ADS_1


__ADS_2