
Menjelang malam.
Aku, papa dan Yugo menuju butik baju pengantin. Ah aku tidak tau nama nya jika di tempat kalian.
Harus kah dia ikut?
Aku keluar mencoba baju pertama untuk akad.
Kok jadi begini pasrah nya sih aku. Harus nya kan aku menolak untuk ke tempat ini. Ih kok aku bego banget. Batin ku.
"Kurang bagus, ganti!" perintah Yugo.
Papa hanya duduk menemani, yang menentukan akan pakai baju apa itu yugo.
Aku memandang nya kesal.
Hampir 9 gaun aku coba tapi yugo masih kurang puas.
Aku pun protes.
"Aku gak bakal coba gaun lagi. Terserah mau pakai apa!" pekik ku.
"Hey, kok gitu" jawab nya.
"Kau pikir gak cape apa bolak balik ganti baju, lo ajja sana yang pakai!" bentak ku sembari menarik tangan papa untuk pulang.
Papa yang kebingungan pun menurut saja karena hampir 2 jam kami habiskan hanya untuk mencoba pakaian di sana dan itu melelahkan, papa sampai tidak protes saat aku ajak pulang.
Yugo tertawa. Seperti nya dia berhasil mengerjai ku.
Tidak terasa 2 minggu lagi hari H.
Putra dan mama juga akan segera datang kembali ke rumah. Entah mereka sempat melihat acara ini atau tidak.
Aku tidak berani memberitahu kan putra jadi papa yang memberi tahukan kabar ini ke mama dan mama menceritakan nya ke putra.
Kata mama putra tidak terkejut dan biasa saja.
Mama juga mengusahakan agar bisa segera pulang sebelum acara di mulai.
Papa dan om eric sudah mengatur semua nya, ia juga memesan hotel bintang lima untuk pesta pernikahan ini.
......🌺🌺🌺......
Seminggu sebelum hari H.
Maharani menggeleng kan kepala nya tidak percaya melihat undangan di tangan nya.
Aku memang tidak menceritakan apa pun pada nya.
"Kamu yakin?" tanya Maharani.
"Gak lah, aku tidak pernah yakin!" jawab ku.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu terima perjodohan ini?" tanya Maharani khawatir karena dia tau sendiri betapa kasar nya yugo kakak nya dimas.
"Huft, aku gak bisa menentang papa" jawab ku lesu.
"Ya ampun, kasihan sekali kamu" ujar Maharani.
Kami sedang duduk di taman di belakang kampus.
Yugo terlihat sedang berjalan membawa buku. Dan beberapa mahasiswi yang memuja nya berada di belakang mengikuti nya.
"Gak nyangka yah ternyata dia jodoh kamu" seru Maharani.
Aku dan maharani berjalan ke arah depan kampus. Rencana aku akan mengantar Maharani pulang dan ada tugas yang aku ingin minta bantuan Maharani.
Sesaat aku terdiam lagi di lapangan karena di depan gerbang ada lagi pria tua itu.
Samperin gak yah. Dari pada penasaran tapi kalo dia psikopat gimana?
"Kok melamun?" Maharani menepuk pundak ku.
"Eh, kamu tau orang tua itu gak ran? ini ke dua kali nya aku melihat nya di depan gerbang kampus" tanya ku sambil menunjuk ke arah depan.
Maharani pun menurut melihat. Tapi ia menggeleng kan kepala nya.
"Tidak, aku tidak mengenalnya, dari penampilan nya mungkin orang gila atas pengemis?" tebak Maharani.
"Menakutkan yah" seru ku.
"Iya sih, wajah nya ada codet atau bekas luka yang cukup panjang" jawab Maharani.
Setidak nya ada Maharani di sini, aku tidak perlu terlalu takut.
Ku tancap gas keluar gerbang, kampus sudah sepi karena sebagian sudah pulang. Pria tua itu sudah menghilang.
Tapi baru keluar sekitar 20 meter dari gerbang kampus.
Tiba tiba saja pria tua itu pun muncul dan menghalangi mobil ku, aku terpaksa rem mendadak membuat Maharani terkejut.
"Shiit!! apaan sih kakek itu!" pekik ku.
Ku klakson berkali kali tapi ia tidak beranjak dari depan mobil, membuat ku semakin kesal.
Aku pun memberanikan diri untuk turun dari mobil dan bertanya.
"Kakek ngapain di sini, menghalangi mobil saya untuk berjalan" pekik ku.
Akhir nya aku berhadapan langsung dengan nya.
Tatapan nya datar namun aku tidak sadarkan diri karena di beri obat bius.
Maharani segera merekam kejadian itu di handphone nya tapi Ketahuan oleh orang itu. Ia lalu masuk ke mobil dan merebut handphone Maharani dan menarik Maharani keluar dari mobil. Jalanan sangat sepi hari ini. Kakek itu mengangkat tubuh ku dan memasukan nya ke dalam mobil.
Maharani mengambilkan kayu di pinggir jalan dan hendak memukul kakek itu tapi kakek itu dengan gesit menghindari nya. Ia mengambil alih mobil ku.
__ADS_1
Maharani hanya bisa melihat ku di culik kakek itu.
Maharani segera berlari mencari pertolongan. Ia berlari masuk kembali ke kampus menyampaikan informasi ini pada yugo dan berharap yugo akan segera menghubungi papa.
......🌺🌺🌺......
Aku tersadar, mengerjapkan mata ku, kepala ku terasa berat dan pusing. Aku ada di mana?
"Kamu sudah bangun?" sapa nya.
Seorang pria bertopeng menghampiri ku.
Apa yang terjadi? apa aku bermimpi? aku tidak ingat apa pun.
Eh tunggu tunggu terakhir aku bicara dengan kakek tua di depan mobil ku.
"Siapa kau! ini di mana!" jawab ku.
"Tenang lah" seru nya.
Aku tetap berontak tapi anak buah dari pria bertopeng itu menghentikan aksi ku.
"Siapa kau sebenarnya?" bentak ku.
Pria itu membuka topeng nya.
Kakek tua yang tadi?
Kakek itu menghampiri ku.
"Sudah lama sekali aku mencari mu" seru nya.
Kali ini ia duduk di hadapan ku dan membuka topeng selanjutnya. Ternyata wajah Kakek kakek itu palsu.
Wajah asli kakek itu ternyata masih muda. Seperti papa. Tapi lebih tua dari papa. Usia nya sekitar 40 tahun. Dan aku tidak mengenal nya sama sekali.
"Kenapa mencari ku?" tanya ku.
"Bukan hanya kamu, aku sedang mencari semua keluarga kita yang terpencar. Sudahi penderitaan mu hidup bersama si rudi wijaya brengsek itu" umpat nya.
"Maksud?" ujar ku bingung.
"Aku paman mu, aku adalah kakak dari leni. Sayang sekali adik ku itu harus meninggal dalam kesendirian nya saat melahirkan mu" jelas nya.
"Mama benar meninggal?" tanya ku.
"Iya, maafkan aku datang terlambat. Nama ku rado, aku juga sangat kesulitan mencari kalian. Karena rudi wijaya membawa mu cukup jauh dari kampung halaman kita. Ia pindah ke kota ini dan menjalankan bisnis nya di sini" jelas paman rado.
"Aku tidak mengerti, tolong pulang kam saja aku" pinta ku.
"Pulang??" pekik nya.
Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membiarkan rudi menyiksa mu lagi" jawab nya.
"Aku ingat benar cara rudi memperlakukan adik ku ketika ia hamil, ia pergi tanpa bertanggung jawab. Ia tidak mau menikahi leni, ia takut pada orang tua nya, ia hanya memberi leni sejumlah uang untuk persalinan, ia laki laki pengecut yang hanya mau enak nya saja, ia tidak pernah menganggap mu anak, ia bahkan hampir pernah membunuh mu kan, dan kau ingin kembali pada orang tua seperti itu?" bentak om rado. Aku lebih suka memanggil nya om dari pada paman.