
Aku hanya bisa terdiam saat mereka memarahi ku.
Sesampai nya di lokasi. Aku mundur.
"Aku malu, kalian tau sendiri aib ku di masa lalu, itu semua benar" ujar ku.
Mereka bertiga tidak terlihat kecewa justru mensuport ku.
"Masa lalu biar lah berlalu, nanti mereka juga cape sendiri" jawab Dimas.
Adit hanya diam sejak tadi.
Sesampai nya di lokasi aku langsung duduk di bangku cadangan. Babak pertama sudah selesai. Tim kami kalah di babak pertama.
Melihat ku datang mereka berhamburan menyambut ku.
Terutama Wulan.
"Syukur lah kau datang, kita kalah di babak pertama, akan berat di babak selanjutnya" seru Wulan lemas.
"Maafkan aku yang gak bisa di andalkan" ujar Widya, cadangan yang menggantikan ku selama babak pertama berlangsung.
"Gpp, Makasih Widya, baru babak pertama kok, kamu harus masuk li, kami membutuhkan mu" ujar Wulan.
"Tapi aku tidak pakai seragam voli kita" seru ku.
"Tidak Masalah dengan seragam, yang terpenting kita lengkap" jawab Wulan.
"Teman teman, monster plastik ikut bertanding, masih punya muka dia, malu maluin, keluarin ajja, bikin malu sekolah, bikin malu club' voli"!!! pekik tari dari tribun penonton menggunakan toa.
Sontak mengundang tanya dari sekolah lain yang mendengar nya.
Aku sungguh malu. Aku ingin sekali pergi tapi Wulan menahan ku.
Bimo terlihat terkejut ketika aib ku terbongkar. Dari kursi penonton dia langsung berdiri mencari ku di lapangan.
Aku menunduk. Wulan mengangkat wajah ku.
"Semua akan baik baik saja, jangan dengarkan mereka" tegas Wulan.
Maisaroh segera mendekati tari. Merampas toa dari tangan tari dan menghempaskan toa nya ke lantai. Sontak menarik perhatian semua orang yang ada di tribun.
"Apa kau sudah gila, kita sedang berada di sekolah lain!!!" pekik Mai.
"Memangnya kenapa!!! memang benar kan dia penipu, menipu publik dengan kecantikan nya yang palsu itu!!!" pekik tari sambil tersenyum menang.
Pelatih terkejut mendengar tari.
Ia lalu bertanya pada ku.
__ADS_1
"Maafkan aku mengecewakan kalian" ujar ku sambil tertunduk malu.
"Tidak apa apa, itu bukan hal kriminal, itu hak mu, itu privasi kamu, tidak ada yang di rugikan, fokus lah ke pertandingan" tegas pak dewa selaku pelatih. Teman teman dari club' pun memeluk ku. Aku terharu. Tangis ku Mulai pecah.
"Mau palsu atau tidak fisik dia, setidak nya dia berguna dan di butuhkan sekolah, sementara kamu??? apa prestasi mu di sekolah??? ada???" bentak Maisaroh menggema ke seisi tribun.
Tari terdiam sesaat merasa malu.
Putra segera mendatangi ku. Setelah mendengarkan itu. Ia tidak menyangka aib itu terbongkar.
Ia menenangkan ku sebelum pertandingan di mulai. Putra memberi ku minum.
Dimas Adit dan Maisaroh turun ke bangku cadangan bergabung bersama putra.
Pertandingan babak kedua akan segera di mulai.
Semua berkumpul di lapangan.
Awal nya aku malu karena berbeda seragam dan baru saja mengalami hal buruk.
Tapi semua mendukung ku mulai dari pelatih, anggota club' dan teman teman ku.
Ku kuncir rambut ku seperti biasa dan ikut memasuki lapangan. Pelatih sedikit mendorong ku agar mau masuk ke lapangan.
Awal masuk lapangan sudah ada yang menyoraki ku. Biasa lah orang orang yang gak tau kenapa suka buat keributan.
Selama pertandingan, pikiran ku tidak fokus, Aku berkali kali gagal mengembalikan smash dari lawan. Tidak seperti biasa nya. Wulan dan kawan kawan Sampai kewalahan.
Aku menoleh ke arah nya sesaat.
"Fokus!!!" pekik nya lagi.
Aku seperti baru tersadar dari lamunan panjang, ku lirik papan skors 11-17 kami kalah 6 poin. Penonton semakin menyoraki kami. Kejadian memalukan di sekolah membuat pikiran ku kacau.
Aku meminta waktu sejenak untuk istirahat. Aku ke bangku cadangan untuk minum air.
Putra menampar ku.
"Apa yang kau lakukan!!!" kata ku marah.
"Harus nya aku yang bilang begitu, apa yang kau lakukan!!! lihat lah teman teman mu sudah berusaha keras, dan berharap banyak pada mu, jangan hanya karena aib mu terbongkar kamu lemah seperti ini, ayo bangkit, ini bukan kau yang biasa nya!!!" tegas putra.
"Hanya aib kau bilang!!!" pekik ku.
Kedua tangan putra memegang bahu ku dari depan.
"Dengar kan aku baik baik Lidya Wijaya, lupakan lah sejenak masalah mu jika di lapangan, jadi lah pemain profesional. Kau bisa marah pada ku, bisa memukul ku setelah pertandingan selesai, kembali lah, bawa kemenangan untuk SMA pelita, sekolah mu" seru putra.
Aku terdiam sesaat, sejak tadi aku menahan tangis. Rasa nya sesak di dada. Bayangkan saja menahan sesak di dada saat pertandingan.
__ADS_1
Aku pun kembali ke lapangan.
Aku mulai tidak peduli dengan ocehan dan sorakan menjatuhkan dari tribun penonton bahkan dari Siswa siswi dari sekolah ku sendiri.
Aku pun mulai fokus melanjutkan pertandingan. Wulan bernafas lega saat aku kembali dengan bersemangat. Apa lagi sekarang skor kami imbang.
Pertandingan babak kedua pun selesai dengan selisih poin yang sedikit. Setidak nya babak ke dua menang.
Skor 25-22.
Aku meraih handuk untuk mengelap keringat ku. Baju olahraga biasa membuat ku sangat gerah. Karena terbiasa pakai celana pendek nya seragam voli, membuat ku sangat gerah memakai seragam olahraga biasa yang bercelana panjang.
Keringat ku membasahi seragam olahraga Dimas yang aku pakai. Meski baju nya kebesaran syukur celana nya pas Pasan. Apa aku mulai gendut lagi?
Aku melirik Dimas, badan nya sedang saja. Apa dia tidak kesempitan memakai seragam olahraga nya ini.
Dimas datang menghampiri ku.
"Li, semangat!!!" seru Dimas.
Aku tersenyum.
"Makasih yah baju olahraga nya" ujar ku.
"cama cama" jawab nya manja.
Waktu istirahat usai, pertandingan babak ke 3 akan di mulai lagi. SMA N 11 bukan lawan biasa, mereka cukup kuat, kami sampai kewalahan di buat nya.
Padahal aku ingin sekali bertanding mengalah kan SMA cahaya tapi SMA cahaya duluan tumbang melawan SMA Negeri 9.
Jika kami menang ini kami akan masuk final dan bertanding melawan SMA negeri 9.
Tidak biasa nya SMA cahaya kalah.
Tapi memang SMA negeri 9 sangat kuat.
Aku sampai pesimis bisa mengalahkan nya.
Pertandingan berlangsung seru dan heboh karena poin kami dekat sekali. 12-11.
Penonton riuh bersorak geram karena skor kami yang sejak awal selalu berdekatan.
"Apa mereka bisa masuk final, sudah berjuang sejauh ini, meski tidak menang tidak apa apa" seru Dimas.
Maisaroh memukul lengan Dimas.
"ih, semangat dong, jangan pesimis gitu" jawab Mai.
Skor masih imbang di angka 20-20.
__ADS_1
Aku dan kawan kawan mulai kelelahan.
Tapi kami saling menyemangati satu sama lain.