
"Mana bukti nya, mana!" pekik Mai.
Maharani diam, ia tidak punya bukti, ia hanya lah saksi, saksi kejadian itu.
Kejadian sesungguh nya.
Hari kejadian.
SMA pelita, Jam 14.01.
Mai memanggil korban ke atap sekolah.
Mereka bertengkar hebat, sebenar nya Mai tidak sengaja mendorong tubuh maisaroh hingga terjatuh karena emosi.
Dengan ketakutan Mai berlari menjauh.
Ia melepaskan nametag milik nya. Maisaroh asli jarang memakai nametag nya.
Kebetulan Maisaroh tidak memakai nya saat itu.
Dengan tangan bergetar Mai mengubur nametag milik nya itu di tanah belakang sekolah.
Maharani saksi saat Maisaroh jatuh, ia melihat mereka dari bawah, ia pun syock melihat siapa di atas sana yang berada bersama saat Mai jatuh. Kejadian itu membuat nya jadi sosok pendiam dan menyeramkan.
Aku terduduk.
"Berarti kita sama? sama sama palsu, plastik seperti kata mereka" seru ku.
Mai hanya diam.
"Silahkan laporkan aku, itu hak kalian" ujar Mai putus asa.
Aku menghela nafas berat. Ku lihat Maharani juga dilema.
"Aku harus apa, aku bisa apa" ujar ku.
"Mungkin aku mati saja menyusul maisaroh, aku tidak akan sanggup menghadapi dunia jika tau siapa aku sebenarnya, aku tidak akan sanggup" seru Mai lirih dengan suara serak menahan tangis nya.
Mai berlari ke atap. Lagi lagi aku mengejar nya.
"Jangan Mai" pekik ku.
Aku dan Maharani berusaha mengejar nya.
"Bukan kah ini yang kau mau?" bentak Mai.
"Jangan Mai, bunuh diri gak menyelesaikan masalah" seru ku membujuk Mai.
"Pergi!!!" bentak Mai.
Aku dan Maharani kerja sama menangkap Mai dan segera menjauhkan nya dari sisi atap sekolah.
Mai berontak hebat.
Kami menenangkan Mai.
Segera kami bawa Mai ke tempat yang semestinya.
......🌺🌺🌺......
Seminggu kemudian.
Ulangan semester pun di mulai di hari Senin yang cerah itu.
Ulangan pertama bahasa Indonesia.
Aku melirik ke arah Maharani seraya mengangguk.
Maharani mengerti maksud ku.
__ADS_1
Aku ingin dia tidak menahan perintah nya lagi dan bersungguh-sungguh mengerjakan ulangan kali ini.
Bel tanda istirahat berbunyi, mengadakan waktu ulangan sudah habis.
"Maisaroh kemana yah, sudah seminggu gak turun, ia bahkan tidak hadir ulangan kali ini, apa dia sakit?" tanya Adit.
Aku hanya diam.
"Iya nih tumben dia hilang kabar, kita jengukkin ajja nanti ke rumah nya" jawab Dimas.
Aku masih diam, aku bingung harus bilang apa ke mereka. Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Setelah aku menyelesaikan ulangan matematika ku, aku kumpul kertas ulangan ku dan pamit ke toilet.
Aku berjalan ke arah toilet. Semua ini membuat ku stress. Asam lambung ku naik, perut ku sakit. Ku pegang perut ku.
Aku pun ijin pulang, syukur aku sudah menyelesaikan ujian ku.
Dimas menatap ku khawatir.
Ku raih ransel ku dan bergegas pulang. Wajah ku pucat. Perut ku sakit sekali rasa nya.
Aku sampai duduk jongkok di depan gerbang menunggu jemputan sambil memegang perut ku.
Supir datang membawa ku pulang.
Dokter keluarga datang memeriksa lambung ku.
"Pemicu mag dan asam lambung naik bukan hanya dari makanan tapi faktor pikiran, stress lah yang menyebabkan penyakit ini, jadi kontrol pikiran nona, jangan stress ya" nasehat dokter sembari memberikan resep obat ke
Aku hanya mengangguk.
Aku terbaring karena efek obat.
Putra baru pulang sekolah dan baru mengetahui aku sakit.
"Putra" seru mama.
"Ada apa?" tanya nya.
"Istirahat lah, ganti baju dan makan, anak itu sudah ada yang mengurus nya" seru mama.
Putra menatap mama hendak berontak saat mama memanggil ku dengan kata anak itu.
"Mama lihat kau sangat perhatian pada nya, jangan berlebihan putra, pikirkan juga diri mu" ujar mama.
Putra terlihat kesal namun ia tidak membantah mama nya, ia lalu masuk ke kamar nya dan menurut.
Aku terbangun, langit sudah gelap.
Ku raih handphone ku. 13 panggilan tak terjawab dari Dimas.
Baru hendak ku balas chat nya Dimas sudah ada di balik pintu kamar ku. Ia pun masuk bersama putra dan Adit.
"Kamu baik baik saja?" tanya Dimas khawatir.
"Iya sudah mendingan kok" jawab ku.
"Kalian gak ke rumah Mai?" tanya ku.
"Sudah, tapi rumah nya kosong, seperti orang pindahan? kami tanya tetangga nya tidak ada yang mengetahui mereka kemana" jawab Adit putus asa.
"Oh begitu, ngomong-ngomong banyak banget nih yang kalian bawa, repot repot" seru ku saat melihat banyak buah Dan makanan.
"Gpp kok, semoga lekas sembuh yah" jawab Dimas sambil mengelus rambut pendek ku.
Adit memukul tangan dimas.
"Modus ajja Lo" seru Adit.
__ADS_1
"Cemburu bilang bos" Jawab Dimas.
Ku lihat putra hanya diam, apa dia juga sakit?
"Putra?" panggil ku.
Putra melamun sehingga tidak mendengar kan ku.
Dimas menepuk pundak putra.
"Kamu kenapa bro?" tanya Dimas Sok akrab.
"Ah, iya, ada apa, gpp kok" jawab putra.
"Makasih yah sudah datang, aku terharu loh" seru ku.
"Lebay Lo, udah biasa kok kami baik" jawab Dimas.
Maafkan aku teman teman, aku terpaksa menutupi apa yang terjadi pada Mai, aku sudah berjanji pada nya untuk tidak memberitahu kan kalian. Batin ku.
Kenyataan.
Ayah Mai pindah tugas dinas di luar kota, Otomatis mereka semua ikut.
Setelah semua terungkap. Mai menyerahkan diri ke kantor polisi dengan catatan ia tidak ingin ada yang mengetahui publik tau. Cukup orang terdekat saja. Termasuk aku dan Maharani.
Orang tua Mai sangat marah dan kecewa. Tapi bagaimana pun juga Mai anak mereka juga, mereka hanya bisa pasrah dan merelakan nya berada di balik jeruji besi.
Masa depan Mai hancur seketika.
Setelah mereka semua pulang tiba tiba Maharani datang menjenguk ku sendirian.
"Kamu baik baik saja?" tanya nya.
"Iya, Alhamdulillah sudah baikan, ran, makasih yah", seru ku.
Maharani tersenyum dan mengangguk.
Putra keluar ketika Maharani masuk ke kamar ku.
"Bagaimana dengan Mai?" tanya Maharani bingung.
"Yah kita doakan saja, semoga dia baik baik saja di sana, nanti selesai ulangan kita jenguk dia yah" ajak ku.
Maharani mengangguk.
......🌺🌺🌺......
Seminggu kemudian.
Ulangan kenaikan kelas akhir nya selesai juga, banyak waktu free di sekolah, beragam lomba olahraga pun di buat untuk mengisi waktu di sekolah, class meeting kali berbeda sekali rasa nya. Seminggu lagi akan pembagian raport.
"Lidya Wijaya" panggil seseorang.
Kau menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa dim?" tanya ku.
"Eh, maaf, apa kamu punya waktu nanti malam?" tanya nya.
"Maksud nya?" balas ku.
"Kamu free gak entar malam, aku mau ajak kamu jalan", jelas Dimas.
Aku sedikit berpikir.
"Em, boleh deh" jawab ku.
"Yes, makasi yah, nanti aku jemput" seru nya senang. Ia pun berlalu sambil bernyanyi.
__ADS_1
Bimo melihat kami dari kejauhan. Tangan nya mengepal.