Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Warung kopi.


__ADS_3

"Tadi kamu pingsan" ucap devan.


"Hah, Sumiati bagaimana?" tanya ku.


"Tadi sudah ada banyak ustadz datang membantu. Jin di tubuh sumi sudah keluar, tinggal dia sadar dari pingsan nya. Syukur nya kamu gak kesurupan juga hanya pingsan biasa" jelas devan.


"Ah syukur lah" ucap ku.


Eh tunggu tunggu.


"Devan, apa ada dosen yang nama nya pak samuel di sini?" tanya ku.


"Iya ada, beliau dosen biologi ku" jawab devan.


"Oh begitu" jawab ku.


"Kenapa?" tanya devan.


"Ah, gak ada apa apa kok" jawab ku.


Jin nya sari pasti memberi tahukan ku lewat alam bawah sadar ku tadi.


Ah aku tidak mau mengurus mereka. Aku menggeleng kan kepala sendiri membuat devan khawatir.


"Cerita saja kalau ada apa apa" ujar devan.


Aku hanya dia.


Perlahan Sumiati pun tersadar.


Ia melihat sekitar.


"Ini di mana? aku kenapa?" tanya sumiati.


Anak anak lain juga mulai sadar dari pingsan nya sejak tadi. Dan semua di suruh pulang oleh pihak sekolah. Untuk mengantisipasi kejadian agar tidak terulang lagi, besok kegiatan belajar mengajar di liburkan untuk sementara.


"Nanti kami cerita kan di luar saja, yuk kita pulang" ajak Devan.


Sumiati hanya mengangguk.


Kami telah sampai di depan gerbang kampus. Suasana sudah sangat hening, sebagian sudah pulang. Kejadian tadi membuat warga sekitar pun heboh.


Devan mengajak kami duduk di warung kopi yang lokasi nya tidak jauh dari kampus.


"Pesan apa mas" seru ibu ibu penjaga warung kopi.


"Kopi hangat nya 1, sama gorengan nya 1 porsi" seru devan.


"Temen temen nya gak pesan minum mas?" tanya ibu itu lagi.


"Oh ya, kalian mau pesan apa?" tanya devan.


"Aku gak suka kopi" jawab ku.


"Nama nya ajja teh yang warung kopi, neng geulis, di sini mah jual yang lain juga, ada teh manis, teh tawar melati, ada es blender coklat juga, ada gorengan sama nasi kuning, banyak atuh" jawab bu penjual.


"Oh, teh hangat nya ajja deh bu" jawab ku.


Sumiati hanya diam seperti orang linglung.


"Eh aku sama deh, teh hangat juga, cocok sama cuaca nya mendung, dingin" ujar sumiati akhirnya.

__ADS_1


Aku dan devan bernafas lega karena Sumiati sudah kembali seperti biasa.


"Ada apa sih, kok kalian ngeliatin aku seperti itu, eh kok badan aku pegel yah, padahal gak ngapa ngapain"ujar sumi bingung.


"Haha kecapean nari kali loh" seru devan.


"Nari? ah , aku tidak pandai menari, jangan sembarang deh, sejak kapan aku menari" protes sumi.


"Ia tadi kamu sinden sambil nari, kamu kesurupan" jelas ku.


"Kesurupan? apa?! kesurupan????" pekik Sumiati membuat heboh seisi warung kopi.


Aku sampai harus menegur untuk mengecilkan suara nya. Sumiati memang punya suara yang nyaring dan lantang.


Aku dan devan lalu menceritakan kronologis cerita nya.


"Astaga, duh aku merinding ,huhu" jawab sumiati.


"Jangan terlalu takut. Itu juga termasuk penyebab mudah nya kemasukan barang halus" seru devan.


"Ya kali barang keras. Halus ajja bikin susah" sumi sempat sempat nya becanda di saat seperti ini.


"Tapi syukur lah sekarang sudah baik baik ajja semua" jawab ku.


"Devan, aku bisa minta tolong sama kamu gak" seru ku.


"Iya, apa?" tanya nya bersemangat.


"Anterin Sumiati pulang" seru ku.


"Apa?" ucap devan seperti tidak mau.


"Pliss" ujar ku.


"Aku di jemput supir" jawab ku bohong.


"Hm. Baik lah" ujar devan akhirnya.


Tidak lama kemudian mobil yugo terlihat parkir di depan warung kopi.


Ia pun turun dari mobil.


"Wah, ganteng pisan mas nya, mau pesan apa mas?" tanya bu penjual.


"Ah, gak bu, saya lagi menjemput istri saya" jawab yugo.


"Loh kok kamu yang jemput? bukan nya supir?" tanya ku.


"Aku denger di berita kampus kamu kena kesurupan massal maka nya aku buru-buru datang menjemput kamu" jawab Yugo.


"So sweet" ujar Sumiati.


"Oh ya Sumiati, devan, kenalin nih, ini Yugo, suami ku" seru ku.


Mereka pun bersalaman, berkenalan.


Sumiati memperhatikan Yugo dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Sumiati menggeleng.


"Kamu kenapa sum?" tanya devan.

__ADS_1


Sumiati tidak menghiraukan pertanyaan devan, ia fokus memperhatikan yugo.


"Kamu serius punya kembaran, kamu gak bohong kan ,awas ya lo nyakitin sahabat ku, abis lo" seru sumiati.


"Jadi ini yang nama nya Sumiati, tidak asing sih, karena aku kan pernah jadi dosen kalian, meski tidak lama, kamu itu salah paham, aku gak pernah berkhianat kok, gak ada waktu" jawab Yugo.


"Oh jadi kalau ada waktu bisa ajja berkhianat begitu?" ujar sumi.


"Gak gitu juga konsep nya" protes yugo.


"Sumiati! mau pulang gak sih, ayo" protes devan.


"Eh tunggu dulu bentar napa sih" ujar sumi.


"Jangan lama lama, dasar, udah numpang mengatur pula" protes devan.


"Iya iyaaa, aduh, pasutri, moon maap nih yah, aku duluan yah, ojek bawel udah ngomel tuh" seru Sumiati pamit sembari berlari mengikuti devan.


"Menyebalkan yah teman kamu itu, kok bisa berteman sama kamu sayang?" tanya yugo.


"Hehe, asli nya dia baik kok sayang" jawab ku.


Aku pun mengikuti yugo masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan wajah yugo khawatir.


"Sayang, kita sudah tidak punya supir lagi yah, mungkin yang tersisa hanya asisten rumah tangga kita, gpp kan" seru yugo.


Aku tersenyum.


"Gpp kok. Aku bisa bawa mobil sendiri" jawab ku.


"Ih gak gak, aku yang antar kamu,kan jauh" seru yugo.


"Yah mau bagaimana lagi?" jawab ku.


"Kita akan segera pindah ke kota, kebun teh dan villa mau papa jual" seru yugo.


"Jadi kita tinggal di mana lagi sekarang?" tanya ku.


"Rumah ku Alhamdulillah sudah jadi" ucap yugo.


"Benar kah, Alhamdulillah" ucap ku penuh rasa syukur.


"Iya walaupun tak semegah rumah kamu, gpp kan" ujar yugo.


"Yah gpp dong, punya rumah sendiri udah lebih dari cukup buat ku. Apa lagi di kota, jadi gak kesulitan jika butuh sesuatu" seru ku.


"Baik lah, tinggal rumah dan mobil itu harta ku yang tersisa, maaf yah, oh aku salah, kamu adalah harta terbesar yang aku miliki saat ini" jawab yugo.


Aku tertawa bukan tersenyum atau tersipu. Karena ucapan Yugo lebih ke arah gombal.


"Kok malah ketawa sih", protes yugo.


"Abis nya kamu gombal sih" jawab ku.


"Hehe, anak ayah gimana nih kabar nya, apa dia baik baik saja, kamu gak kesurupan juga kan tadi?" tanya yugo.


Aku menggeleng.


"Gak kok, aku hanya pingsan ajja tadi mungkin kecapean" jawab ku sambil mengelus perut ku.

__ADS_1


"Ah syukur lah, anak ayah harus kuat yah, jagain mama" ucap yugo sambil satu tangan nya mengelus perut ku.


"Fokus ajja nyetir nya" protes ku.


__ADS_2