Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 53.


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, sudah ramai. Papa sudah pulang, Oma juga.


Terlihat papa sedang duduk santai ngobrol dengan Oma.


Tante Mona entah kemana.


"Aku sebenar nya tidak setuju kau nikahi gadis miskin itu, gak selevel sama kita, apa kontribusinya untuk membantu karir mu" kata Oma.


Aku dan putra tak sengaja mendengar nya.


Putra terlihat sangat marah mendengar nya, ia hendak mendekati Oma. Tapi aku menahan nya.


Terlihat tante Mona sedang membawakan teh ke mereka seperti pembantu.


"Eh kalian sudah pulang, cepat ganti baju dan makan siang" ujar Tante Mona.


Aku menatap sinis ke arah Oma. Segera ku tarik tangan putra menuju ke lantai atas kamar kami.


Di atas putra menonjok dinding.


"Ini baru permulaan, aku sering mengalami nya, Oma tidak menginginkan ku, beliau bahkan dia tidak menganggap ku cucu nya" ujar ku.


Putra terlihat sangat kesal.


"Sudah lah, ayo ganti baju dan makan siang" ujar ku sambil mendorong nya untuk masuk ke kamar nya.


Setelah itu aku ke kamar ku. Ku ganti baju ku. Ini sih bukan makan siang lagi,karena sudah jam 2 lewat.


Ku lirik ke bawah, Oma sudah tidak ada di sana. Lalu aku ke kamar putra.


Aku buka pintu kamar nya, ku lihat ia telanjang dada. Hanya memakai boxer.


Ia buru buru menutupi tubuhnya


"Astaga, maaf yah!!!" pekik ku lalu berlari menjauh dari kamar itu.


Selesai pakai baju putra pun keluar mengikuti ku.


"Ada apa?" tanya nya.


"Ayo makan" tawar ku. Putra menurut saja.


Ku bawa dia turun ke meja makan tempat biasa nya aku makan.


Meja besar tanpa penghuni. Biasa nya aku sendirian makan di sini.


Yah setidaknya sekarang aku punya teman makan.


Bi Minah dan pembantu lain membawakan kami makanan.


Putra terkejut melihat makanan yang ada di meja, banyak lauk.


"Perasaan kita cuma berdua kok banyak banget makanannya, Mubazir loh kalo gak habis" putra memperingatkan ku.


"Sudah lah makan saja. Biar gendut hehe" kata ku.


Kami pun makan. Setelah selesai putra hendak menyimpun piring piring itu.


"Eh, ngapain sih repot repot" kata ku.


Bi Minah datang dan segera membersihkan meja kami.


"Aku terbiasa mandiri. Aku kaget saja jika semua di layani" kata putra polos.


Melihat bibi kewalahan aku berteriak ke Lastri.

__ADS_1


"Lastri, bantuin Bu Minah" teriak ku.


Lastri pembantu termuda di rumah ini. Usia nya masih 20an. Pembantu baru sebulan di rumah ku.


Lastri segera datang dan membantu Bu Minah.


Di ruang tamu papa dan Tante Mona sedang asyik ngobrol. Oma sudah tak terlihat di sana.


"Eh Lidya, putra, sini kita ngobrol ngobrol", ajak papa.


Aku menurut.


Kami pun duduk di antara mereka.


"Lidya, mulai sekarang panggil nama ya, jangan Tante Mona lagi" ujar Tante Mona.


"Eh, iya Tante, eh mama" jawab ku.


"Kamu juga panggil papa, jangan om lagi" kata papa ke putra.


Tante Mona memang cantik, kulit nya putih bersih khas Kalimantan. Tante Mona selalu berhijab jika di luar rumah. Tapi aku juga sudah pernah melihat nya buka hijab, saat aku ke rumah mereka dulu.


Semakin aku berontak semakin sulit hidup ku, maka nya aku pasrah dan terima kenyataan kehadiran keluarga baru ku.


Keesokan hari nya Om dan opa kembali ke Jakarta. Aku bernafas lega.


Papa juga sudah kembali bekerja. Sungguh aku canggung dengan mama nya putra.


"Apa kabar bimo,?" tanya ku pada putra yang lagi sibuk membaca di kamar nya.


"Kebiasaan deh masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dulu" protes putra.


"Hehe maaf, gak pernah punya saudara soal nya, harap maklum" kata ku.


Putra memegang dahi ku.


"Tinggal jawab ajja susah ya" ujar ku.


"Aku sedang sibuk, tanya sendiri bagaimana kabar nya" putra pun melanjutkan membaca nya.


Aku mendesah kesal.


Ia memang menyebalkan. Ku lempar bantal ke arah putra. Ia tidak menghiraukan ku sama sekali.


Ku lirik buku apa yang sedang putra baca.


Novel horor, KKN desa penari karya simple man.


Aku sudah baca novel itu ,seru sekali.


"Buku dari mana?", tanya ku.


"Pinjem, di perpustakaan" jawab nya.


"Oh" ucap ku singkat sambil melangkah pergi dari kamar putra.


Putra menatap punggung ku yang semakin menjauh. Ia menyembunyikan sesuatu.


Aku pun keluar rumah sore itu, memakai baju joging seperti biasa.


Aku mengitari jalan rumah Bimo. Tapi ia tidak terlihat. Apa dia belum pulang? ah ini kan sudah sore, putra saja sudah pulang.


Karena tidak ketemu aku pun ke taman sambil berlari ringan.


Aku melihat Bimo sedang duduk bersama wanita, apa itu Siska lagi? tanya ku dalam hati.

__ADS_1


Aku pun sedikit mendekat untuk memastikan siapa wanita itu.


Wah, benar, Siska lagi.


Aku pura pura tidak melihat mereka.


Ku lihat Siska mengelap keringat Bimo,


Kenapa begitu mesra?, Hal itu kan yang selalu kami lakukan saat bersahabat dulu.


Perasaan apa ini, rasa nya sesak sekali di sini, di dada ku.


Tiba tiba seseorang menepuk pundak ku sambil membalik kan badan ku ke arah nya.


"Putra" kata ku lirih.


Suara ku tiba tiba bergetar.


"Kau kemana saja, ayo pulang" putra berusaha menjauhkan ku dari pemandangan itu.


Aku menghempas tangan putra.


"Kenapa kau kemari? kau menyembunyikan sesuatu dari aku?!" pekik ku.


Bimo melihat sekilas ke arah kami.


"Putra!!!" panggil nya.


Putra menarik tangan ku menjauh dari tempat itu. Tapi Bimo mengejar kami.


Dan aku tidak mengerti kenapa putra membawa ku.


"Kenapa kau malah pergi setelah aku memanggil mu?" tanya Bimo.


Putra hanya diam, apa lagi aku.


Siska pun datang menyusul dari belakang.


Suasana semakin canggung.


Ada apa sebenar nya.


Tidak ada yang mau mulai berbicara.


"Putra? kau mengenal Lily?" tanya Bimo.


"Iya, dia adik ku" jawab putra.


Ternyata putra juga merahasiakan pernikahan orang tua kami ke teman teman sekolah.


"Oh aku baru tau kalian bersaudara" kata Bimo.


"Terus. Ngapain sih kita ngejar mereka, gak penting banget" bisik siska ke Bimo.


Siska masih menggandeng lengan Bimo.


Aku ingat jelas perlakukan siska kepada kami dulu, ia juga sering mengatakan Bimo culun. Tapi setelah Bimo berubah, tidak memakai kacamata nya lagi, Siska mulai menyukai Bimo. Yah seperti sekarang ini aku melihat nya nempel ke Bimo di mana pun seolah takut kehilangan.


Siska lalu menarik Bimo untuk menjauh dari mereka.


Putra pun menarik tangan ku untuk pulang.


Ku hempas kan lagi tangan putra.


"Aku gak ngerti kenapa kau menarik tangan ku, aku juga gak ngerti kenapa kau tiba tiba ada di sini?" pekik ku pada putra.

__ADS_1


Putra menatap ku kasihan.


"Maaf, sebenar nya...


__ADS_2