Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Masih misteri


__ADS_3

Aku diam sejenak. Ku tatap wajah sumi dan devan bergantian.


"Sari itu korban bunuh diri di toilet wanita yang pernah Sumiati cerita kan, Sumiati hamil hasil hubungan nya dengan dosen nya, pak Samuel. Tapi itu hanya mimpi. Bukan berarti kebenaran nya kan" protes ku.


Sumiati menutup mulut nya tidak percaya.


Seketika ia merinding hebat.


"Kok panas yah" ujar sumi tiba tiba.


"Panas? gak kok" jawab ku.


Sumiati tiba tiba terjatuh pingsan. Aku terkejut setengah mati. Apa lagi saat sumiati mulai meraung. Senam jantung pagi pagi di buat nya. Tapi aku mencoba untuk tenang dan tidak takut .


"Sumiati" panggil ku.


Ia tidak menyahut . Ada yang tidak beres di sini. Ini pasti bukan Sumiati. Batin ku.


"Eh si sumi kenapa nih" pekik devan.


"Entah lah, seperti nya dia kesurupan lagi" jawab ku.


Sumiati lalu menatap ku tajam. Aku membalas menatap nya biasa saja tak ada rasa takut sama sekali.


"Bantu aku atau aku makan anak mu" desis nya hampir tidak terdengar.


"Kenapa aku harus menuruti kata kata mu" jawab ku.


Sumiati seperti hendak menyerang tapi aku menepis nya dan ia pun mulai mencakar tembok. Kampus di buat heboh lagi karena Sumiati kerasukan.


Pihak kampus mulai waspada lagi.


Kegiatan belajar mengajar di hentikan mendadak, seluruh mahasiswa/i di minta untuk pulang ke rumah masing-masing karena takut hal serupa yang terjadi beberapa hari yang lalu terjadi lagi.


Mereka pun mulai berhamburan keluar kampus tergesa gesa karena ketakutan. Sementara di kampus tinggal beberapa dosen dan mahasiswa saja yang masih ada di dalam. Termasuk aku dan devan.


"Siapa kamu" tanya ku.


"Arya" seru nya. Aku dan devan terkejut. Aku pikir yang merasuki Sumiati adalah sari.


"Jin qorin nya kakak mu nih" ujar ku pada devan.


Devan terdiam.


"Kenapa kau mengganggu teman ku" tanya ku.


Arya tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah lab biologi.


Aku dan devan pun bersamaan langsung menatap ke arah ruangan itu.


Dari dalam lab keluar lah pak samuel sedang berbincang dengan dosen lain nya.


"Syukur lah hanya Sumiati yang kesurupan, bawa gih teman mu ini ke ruang kesehatan" ujar bu sinta, dosen jurusan ekonomi manajemen.


"Tapi bu, sumi belum sadarkan diri" jawab ku.


Aku lihat Sumiati pingsan lagi dan devan menggendong nya ke ruang kesehatan.


"Sumiati langganan kesurupannya yah. Kok aku baru tau" seru devan.


"Aku juga gak tai. Baru baru ini sih dia sering begini , dulu kan gak, apa karena dia penakut yah" tanya ku.


"Mungkin" jawab devan singkat.


Aku berusaha menyadarkan sumiati..

__ADS_1


Tidak lama kemudian Sumiati pun bangun.


"Aduh jari ku kok sakit yah" keluh Sumiati.


Huft aku bernafas lega karena ini benar Sumiati.


"Tadi kamu kesurupan lagi" jelas devan.


"Apa?!!" pekik nya.


"Pantas badan mu rasa nya berat banget dan panas" ujar sumi.


"Udah, gak usah terlalu di pikir kan," jawabku.


"Seperti nya kita dapat petunjuk" ujar devan senang.


Sumiati menatap nya bingung.


"Semua pasti ada hubungan nya dengan sari yang meninggal karena bunuh diri, pasti ada hubungan nya dengan kakak ku yang meninggal karena keracunan" tegas devan.


"Duh malas mikir nih" seru ku.


"Tenang saja kamu gak usah banyak pikiran, cukup aku dan Sumiati saja yang beraksi" seru devan.


"Yee, ge er banget loe, siapa juga yang mau bantu loe" seru Sumiati.


"Loh kok gitu, dulu bersemangat mencari tau tentang aku" protes devan.


"Itu kan dulu, yuk lid, kita pulang" ajak sumi.


"Eh tunggu" pekik devan.


"Apa lagi sih" jawab ku.


Baru kami akan melangkah keluar ruang kesehatan kami bertemu pak Samuel.


"Kalian belum pulang?" tanya pak Samuel.


"Eh, ini baru mau pulang pak" jawab devan.


"Ya sudah buruan pulang" ucap pak Samuel seperti mengusir dan tidak senang kami berlama lama di kampus.


"Baik pak. Permisi" jawab ku.


Kami bertiga pun keluar ruangan. Pak Samuel terlihat gelisah.


"Aku akan menyelediki semua ini. Aku tidak akan tinggal diam sampai pelaku nya di temukan" seru devan.


Aku melirik nya sesaat.


"Terserah kamu sih" jawab ku


Kami bertiga berjalan keluar bersama.


......🌺🌺🌺......


Dimas baru saja keluar dari kampus nya itu.


Sesekali memperhatikan nya dari balik mobil.


Ia mengikuti dimas.


Dimas tidak langsung pulang melainkan singgah ke sebuah toko buku.


Pria itu pun ikut masuk hendak menemui nya.

__ADS_1


"Ada apa mengikuti ku?" tanya dimas kesal karena ternyata ia sadar telah di ikuti sejak tadi.


"Eh, adik ku yang manis, apa kabar?" tanya james.


Dimas menangkap gelagat aneh kakak nya. Ia sempat mengira itu yugo.


"Kak yoga?! pekik dimas.


"Sttt, pelan pelan ajja ngomong nya" seru james.


"Kapan kamu balik?" tanya dimas, ia tidak menyangka akan bertemu dengan yoga lagi.


"Sudah sekitar 2 minggu yang lalu" jawab yoga.


"Kok gak ngabarin sih" seru dimas.


Yoga menggeleng.


"Gpp kok, kamu sudah makan? yuk aku traktir, mumpung lagi di sini" ajak yoga.


Dimas mengangguk dan mengikuti kakak nya.


Mereka pun nongkrong disebuah cafe yang tidak jauh dari toko buku.


"Lama sekali gak ketemu kak yoga. Apa kabar?"tanya dimas polos yang tidak tau menahu masalah yoga dengan papah nya.


Dia satu satu nya orang di keluarga mereka yang tidak tau masalah di perusahaan.


"Baik kok, kamu sehat ajja kan, kamu mau ikut aku ke luar negeri? kuliah di sana saja, nanti aku yang tanggung" ajak yoga.


Bagaimana pun juga dimas adalah adik nya. Ia tidak mau adik nya hidup susah.


"Hmm gak deh, di sini ajja, kenapa kak yoga gak pulang ke rumah?" tanya dimas polos.


"Pulang? ke rumah?" seru yoga.


Dimas mengangguk.


"Apa aku punya rumah di sini? aku kan tinggal di luar negeri. Aku kemari hanya untuk liburan" jawab yoga.


"Maksudnya?".tanya dimas tidak mengerti.


"Kelak kau juga akan tau maksud dari perkataan ku ini" seru yoga.


Dimas melirik jam tangan nya.


"Maaf kak, gak bisa lama, ada urusan penting nih, kapan kapan lagi kita ngobrol nya yah" seru dimas sembari memberi nomer ponselnya ke devan.


......🌺🌺🌺......


Beberapa hari kemudian.


Aku ke rumah papah dan meminta untuk membeli perkebunan teh dan villa milik keluarga yugo yang sudah terjual itu.


"Aku sudah banyak nurut apa kata papa, jadi tolong bantu aku kali ini, tolong cari tau siapa pemilik nya sekarang" seru ku pada papa.


Papah berpikir sejenak.


"Untuk apa kita perkebunan teh? toh kita gak bisa juga mengolah nya" tolak papa.


"Iya tapi kan itu aset pah, yang bisa di jual sewaktu waktu jika perlu" rayu ku.


"Lebih baik kita beli tanah di kota saja" kata papah.


"Gak mau, aku mau nya itu, boleh yah pah" seru ku merengek seperti anak kecil minta belikan mainan sama ayah nya.

__ADS_1


Papa menatap ku heran. Tidak biasa nya aku bersikap manja begini. Ah aku lupa memberi tahukan kehamilan ku ini.


__ADS_2