Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
rumah Mai part 2


__ADS_3

Aku menatap Maisaroh yang sedang asik bercengkrama dengan Dimas.


Lalu beralih ke foto masa kecil Maimunah.


Perasaan ku saat ini sungguh tidak enak.


Aku pamit ke toilet. Selesai buang air aku bertemu Tante Sofia sedang asik di pijat oleh pembantu nya di samping rumah.


Ku beranikan diri bertanya ke Tante Sofia.


Langkah kaki ku semakin dekat. Ku geser pintu kaca transparan rumah itu dan langsung di suguhi pemandangan indah di samping rumah nya Mai.


"Maaf Tante mengganggu, saya mau nanya sesuatu boleh?" pinta ku


"Eh. Nak Lily, tentu boleh dong sayang, mau tanya apa?" Tante sofia membetulkan posisi duduk nya dan bibi di suruh pergi untuk sementara waktu.


"Apa Maimunah dan Maisaroh punya tanda lahir yang sama?" tanya ku


"Hem punya sih cuma letak nya ajja yang beda" jawab Tante Sofia.


"Tanda lahir Maisaroh ada di mana Tante?" tanya ku lagi.


"Di lengan sebelah kanan, kalau Maimunah di sebelah kiri. Ada apa sayang?" jawab Tante Sofia sambil tersenyum ramah.


"Gak ada apa apa Tante cuma nanya ajja" jawab ku sambil pamit kembali bermain bersama Mai dan Dimas.


Sepanjang perjalanan ke arah mereka kepala ku selalu berpikir.


"Ah apa yang ku pikir kan sih. Bisa bisa nya aku meragukan ke asli an Maisaroh. Jelas jelas Tante Sofia sendiri tidak meragukan nya. Tanda lahir yang ku lihat memang benar Maisaroh punya di sebelah kanan. Yang di foto sebelah kiri. Jelas berbeda" batin ku.


"Hey. Lagi mikir apa sih, serius amat" dimas lagi lagi mengganggu ku.


"Iya nih, ke toilet lama banget, pasti boker Lo kan" kocak Maisaroh menimpali.


Dimas tertawa terbahak bahak.


"Ih apaan sih, nda biasa aku bab di rumah orang" protes ku.


"Haha, santai dong, anggap ajja rumah Maisaroh " seru Dimas.


"Memang rumah nya kali" jawab ku.


"Haha anggap ajja rumah sendiri" ujar Mai.


"Tegang amat sih Lo. Kenapa? pms?" tanya Dimas.


Aku hanya menggeleng pelan.


"Aku main ke kamar Maimunah lagi boleh?" ijin ku ke Mai.


"Hmm, boleh sih, cuma gak ada sesuatu yang menarik di sana, seperti yang kamu lihat tadi" jawab Mai.


"Gpp, banyak buku, aku suka" seru ku.


"Baik lah, tapi jangan di hambur yah, nanti di marah mamah" seru Mai.

__ADS_1


Mungkin karena Dimas Mai lebih memilih untuk bercengkrama dengan Dimas sehingga ia membiarkan aku sendiri masuk ke kamar Maimunah.


Seketika langkah ku terhenti. Apa yang aku lakukan? dan apa yang aku cari? mau asli atau gak ini bukan urusan ku kan?


Tapi langkah ku semakin dekat ke kamar Mai.


Sekali lagi cari petunjuk, aku gak suka penasaran seperti ini.


Sesampai nya di sana aku lalu duduk sejenak di kasur itu. Bola mata ku mulai berputar. Mengelilingi kamar itu. Ku buka laci nakas yang ada di samping tempat tidur.


Tidak ada apa apa. Kosong.


Aku kembali melihat buku buku milik Maimunah.


Buku cetak besar biologi kelas 1.


Perlahan ku buka buku itu,tiba tiba sebuah foto terjatuh dari dalam nya.


Ku pungut foto yang jatuh di lantai itu.


Ini foto lama, Maimunah sebelum operasi dan Maharani?


Dua dua nya menyeramkan, wajar saja mereka bisa berteman. Aku sampai merinding melihat nya. Seolah mata mereka di dalam foto hidup dan memandang ku.


Ku tutup kembali buku itu. Tapi ada yang janggal. Ku buka kembali dan ku lihat tanda lahir milik Maimunah. Aku jadi penasaran melihat foto Mai sesudah operasi.


Ku raih album foto mereka yang tadi. Mencari foto Mai yang setelah Operasi.


Pasti ini', batin ku saat ku lihat foto gadis cantik dengan mata indah. Kulit nya putih persis Maisaroh saat ini. Ku lihat di kedua pergelangan tangan nya tidak ada tanda lahir. Apa Maimunah menghilangkan nya saat operasi yah, bisa saja. Jadi inti nya maimunah tidak punya tanda lahir lagi. Ok terjawab sudah. Yang hidup sekarang adalah Maisaroh.


Ah sudah lah, aku lelah berpikir. Aku pun ke luar menghirup udara segar.


Maisaroh menatap ku bingung.


"Tuh muka mu Napa kusut banget kayak sedang ujian nasional ajja", celetuk Mai.


"Eh. Iya nih, lagi memikirkan kerumitan duniawi haha" balas ku.


Menjelang sore aku dan Dimas pun pulang. Aku minta di jemput oleh supir. Aku tidak enak minta putra menjemput karena rumah Mai lumayan jauh. Kasihan putra nanti kalo kecapean pasti mimisan lagi.


Sementara Dimas bawa motor sendiri. Aku juga tidak enak merepotkan Dimas.


......🌺🌺🌺......


Sesampai nya di rumah, aku segera bersih bersih diri.


Menjelang malam, selepas sholat isya.


Putra ke kamar ku. Kali ini aku yang terkejut karena biasa nya putra ketuk pintu dulu. Kini ia masuk tiba tiba dan aku masih memakai handuk.


"Astagfirullah, maaf yah" ujar putra sembari berlari keluar dan segera menutup pintu.


Ada apa ya putra datang?


Segera aku pakai baju dan ke kamar putra.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya ku.


"Papa suruh kita siap siap. Beliau mau ajak kita makan di luar dan jalan jalan" jelas putra.


"Apa, jalan jalan? angin apa? tumben" balas ku


"Loh kok ngomong gitu sih, jarang jarang loh kita jalan sekeluarga" ujar putra.


"Hem iya juga sih. Ok lah, aku siap siap dulu" seru ku.


Setelah siap kami berkumpul di ruang tamu.


"Wah sudah siap semua, ayo" ajak papa.


Ku tatap wajah nya. Ada apa kali ini? apa yang dia rencana kan.


Papa hanya tersenyum pada ku.


Kali ini papa sendiri yang menyetir mobil.


Aku dan putra duduk di belakang.


"Kita mau kemana sih" tanya ku memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Restoran, kita makan malam di luar" seru papa.


Sepanjang jalan aku ngobrol dengan putra.


"Lihat tuh" seru putra sembari menunjuk langit dari balik jendela kaca mobil.


"Apaan" tanya ku.


"Masya Allah langit nya indah sekali malam ini" seru putra.


Aku pun menatap langit dari balik jendela kaca mobil. Iya memang indah, bulan di temani bintang bintang. Malam ini cerah sekali.


Namun aku kembali menatap putra. Justru dia lah anugrah terindah yang Tuhan kasih ke aku.


Putra tersenyum manis.


Ku Raup wajah nya dengan tangan ku.


"Apaan sih senyum senyum" protes ku.


"Kenapa, emang gak boleh senyum?" tanya nya.


"Em, boleh sih tapi kalo keseringan bisa diabetes tau" ujar ku.


Putra mengerutkan kening nya.


"Kok diabetes?" tanya nya bingung.


"Karena senyum mu itu mengandung gula, manis banget" goda ku.


Ku lihat semburan merah di wajah nya. Merona seketika. Aku pun tertawa. Preman sekolah ternyata polos juga. Pikir ku.

__ADS_1


__ADS_2