
Mai menatap punggung Dimas dan Adit semakin menjauh. Ia mulai berdecak kesal. Membuat kedua nya terheran heran dengan sikap Mai saat ini.
"Maisaroh kenapa sih?" tanya Adit.
"Gak tau, pms kali?" seru Dimas.
Maharani duduk sendiri di kantin. Makan roti dan teh tawar. Tatapan mata nya kosong.
Aku mendekati nya, membawa air mineral ku dan duduk di samping nya.
Ibu kantin membawa 2 mangkok bakso ke meja kami. Segera ku sodorkan semangkok bakso itu ke depan nya.
Maharani tetap diam saja, seolah aku tidak ada
"Heh, bengong ajja lu. Entar kesurupan loh!" ku pukul kecil pundak nya.
Ia menatap ku lalu menatap makanan di depan nya.
Mata nya tajam menatap ku.
"Nda usah sok misterius deh di depan ku. Ayo makan" seru ku sambil mulai makan bakso di depan ku.
Maharani masih diam.
Tangan Maharani meraih sendok dan mulai menuruti ajakan ku untuk makan.
Aku tersenyum melihat nya menghargai pemberian ku, padahal espektasi ku Rani akan menolak bahkan melempar mangkok itu. Haha terlalu drama pemikiran ku ini.
Dimas dan Adit menyusul memesan makan dan duduk di depan kami berdua.
"Wah tumben Maharani mau gabung?" celetuk Dimas. Aku langsung memukul tangan dimas.
Maharani terlihat berhenti makan.
Ia minum dan pamit pada ku untuk pergi duluan.
"Makasih" ujar Maharani singkat lalu pergi.
"Tapi ran, makanan mu belum habis!!!" pekik ku.
Maharani terus berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun.
"Ih ini gara gara kamu sih dim, dia jadi pergi kan!!!" bentak ku.
"Kok aku sih, dia ajja tuh yang aneh. Susah juga, dia nyaman nya berteman sama yang tak terlihat bukan kita" protes Dimas.
"Yah maka dari itu, kita harus buat dia nyaman berteman dengan kita ketimbang teman gaib nya itu" seru ku.
"Dah lah, aku lapar" ujar Dimas sambil menyambut nasi goreng dari ibu kantin. Adit pun mulai makan soto ayam nya.
Maisaroh berjalan ke arah kelas. Ia berpapasan dengan maharani.
__ADS_1
Mata mereka beradu. Biasa nya Maharani selalu menunduk ketika melihat Maisaroh tapi kali ini ia membalas menatap mata itu.
Membuat Maisaroh sedikit terkejut.
Entah berapa detik mereka saling menatap dalam diam.
Tiba tiba Bimo menabrak Maisaroh. Membuat kedua nya semakin dekat.
"Aduh maaf yah, aku buru buru" Seru Bimo.
"Iya gpp kok" balas Mai.
Maharani segera masuk ke dalam kelas tanpa sepatah kata pun.
.........🌺🌺🌺.........
Sepulang sekolah aku menuju depan gerbang sekolah menunggu supir menjemput ku.
Bimo turun dari motor dan mendekati ku.
"Aku mau bicara, jadi tolong dengarkan aku sekali ini saja" seru Bimo.
Jujur aku sudah kehilangan minat berbicara dengan nya. Meski dulu kami sangat dekat, meski dulu dia sangat baik pada ku.
"Ya sudah bicara ajja" jawab ku.
Entah apa lagi yang akan dia katakan kepada ku. Belum puas dia menyakiti ku karena Siska, belum puas dia marah dan kecewa pada ku?
"Aku cuma mau minta maaf sama kamu lid, atas semua perlakuan ku dulu, aku sangat menyesal" seru Bimo.
"Maaf karena sudah menghancurkan persahabatan kita" jawab Bimo.
"Sahabat? memang nya kita sahabat? sejak kapan? aku gak punya sahabat seperti mu" ujar ku.
"Lid, lihat aku, aku terpaksa lakukan itu karena...." Bimo terlihat berpikir.
"Karena apa? karena Siska, udah lah bim, yang lalu biarlah berlalu, aku cape, gak ada waktu ladeni kamu" seru ku sambil berjalan menjauh.
Tapi Bimo menahan lengan ku.
"Aku belum selesai bicara, beri aku kesempatan" seru Bimo.
"Kesempatan apa sih, aku gak ngerti" ujar ku.
"Kesempatan untuk jadi teman mu lagi" seru Bimo.
"Mudah yah bagi mu, setelah kamu membuat aku menangis, setelah kamu berkata untuk melupakan semua kenangan dan persahabatan kita, setelah kamu pacaran dengan Siska,orang udah udah bully aku, sekarang kamu datang lagi meminta keadaan seperti dulu lagi, otak mu pintar, tapi sayang gak punya perasaan!!!" jelas ku dengan nada tinggi menahan emosi.
Langit gelap, mendung , seperti nya akan turun hujan.
Kami terdiam sesaat.
__ADS_1
Aku akui aku pernah punya perasaan pada Bimo, aku tau itu Setelah aku cemburu melihat nya dekat dengan Siska. Namun semua berubah karena sikap Bimo berubah setelah dekat dengan Siska, Sejak itu aku tidak tertarik dengan cinta. Aku hanya memikirkan sekolah ku, pendidikan ku.
Gerimis mulai turun, ku tatap langit, air langit jatuh mengenai wajah ku.
Seketika kenangan mulai bermunculan lagi di kepala ku.
"Maafkan aku Lidya, aku sungguh menyesal, semua salah ku" seru Bimo pelan. Aku hampir tidak mendengar nya karena hujan mulai turun lebat.
Dan kami sama sama tidak pergi untuk berteduh. Ku biarkan tubuh ku di guyur hujan. Yah hujan, aku suka hujan, sama dengan Bimo, entah sudah berapa abad kami habiskan dengan mandi hujan sejak kecil.
Bayangkan persahabatan yang begitu lama hancur seketika karena ego masing masing.
Seseorang datang membawa payung untuk ku. Dari belakang, aku berbalik dan menatap siapa dia.
"Putra?" seru ku.
"Masuk lah, nanti kamu sakit" ujar nya, aku pun menurut.
Masuk ke dalam mobil.
"Jika kau datang hanya untuk menyakiti nya lagi kau akan berhadapan dengan ku, ini kesempatan dan peringatan terakhir dari ku !!!" ujar putra sembari pergi meninggalkan Bimo sendirian dalam hujan.
Ku lihat di balik spion mobil Bimo masih berdiri dalam hujan.
"Kamu baik baik saja kan?" tanya putra.
"Iya gpp kok, kenapa jadi kamu yang menjemput ku?" tanya ku.
"Loh gpp dong, sudah biasa" jawab nya.
"Aku gak mau kamu kecapean putra, maka nya aku minta supir yang mengantar jemput ku pulang sekolah.
"Alah lebay, tumben juga Kamu gak bawa mobil?" tanya putra.
"Lagi malas ajja, kok lebay sih, kan aku khawatir nanti kamu mimisan lagi" ujar ku.
"Ih aku gak selemah itu, kemarin kan perjalanan nya jauh banget, 8 jam, ini kan gak sampai 1 jam" protes putra.
"Haha, iya lah tu, oh ya, kenapa Bimo bisa pindah sekolah, kan sebentar lagi ulangan kenaikan kelas?" tanya ku penasaran.
Putra diam sesaat seperti enggan berbicara.
"Apa yang terjadi?" tanya ku.
"Entah lah, aku juga terkejut saat ia pamit pindah sekolah" jawab putra.
"Hanya itu yang kau tau?, Hem sungguh mengecewakan, ku pikir kamu bisa jadi sumber informasi" ledek ku.
"Ih, kau pikir aku badan intelijen negara" balas putra.
Aku melirik ke arah putra.
__ADS_1
Jika putra tidak mau cerita terpaksa aku bertanya langsung ke Siska.
Siska pasti tau, pikir ku.