
Suasana cukup ramai di SMA pelita saat ini.
Aku tidak membawa si kembar karena sedang liburan dan berkunjung ke rumah kakek nya.
Ku lihat sekeliling. Ah rindu nya. Masa masa SMA dulu yang menyenangkan dan penuh cerita.
Seseorang menepuk pundak ku.
"Hay. Li, apa kabar lama tak jumpa, ya ampun kamu gak berubah deh. Masih sama seperti saat SMA dulu, tambah cantik ajja memakai hijab" ujar wulan, teman satu tim voli ku dulu.
"Ah bisa ajja kamu, mana yang lain? belum datang?" tanya ku.
"Kumpul di aula mungkin, ah rindu nya, gak terasa yah kita udah dewasa" seru wulan.
"Ia, yuk kesana" ajak ku.
Kami melangkah menuju aula.
Mulai berdatangan tamu alumni SMA pelita.
Terlihat panitia acara reuni ini sibuk mondar mandir memakai seragam mereka. Yah mereka adalah siswa siswi yang masih belajar di sekolah ini, Usia 17 tahun. Kami pun pernah di masa itu.
Meski pun gak ada kisah cinta yang menarik di masa sekolah ku dulu tapi aku menikmati nya, menikmati masa sekolah. Cinta monyet dengan saudara tiri ku sendiri. Ah aku malu jika mengingat nya. Tapi wajar sih. Putra sangat baik, siapa sih yang tidak suka dengan nya? yah tentu saja dengan ku sebagai saudara. Gak lebih. Meski pernah ada perasaan yang tidak semestinya di antara kami. Biar lah itu hanya menjadi kenangan dan masa lalu.
......🌺🌺🌺......
Sebenarnya Author tim Dimas ,tapi supaya adil, author hadirkan lah sosok peran baru yang menjadi jodoh lidya.
......🌺🌺🌺......
"Lidya?" sapa seseorang pada ku.
Aku menoleh.
Ia sedikit ragu untuk menyapa ku.
Aku mengerutkan kening ku.
"Siapa?" tanya ku.
Karena wanita di hadapan ku ini memakai masker dan kacamata hitam.
"Maharani" jawab nya malu malu sambil membuka masker dan kacamata nya. Sinar matahari terik membakar kulit.
Kami masih berada di luar gedung aula sekolah.
"Oalah, Masya Allah ukhti" seru ku ketika melihat Maharani sekarang mulai memakai hijab.
"Lid, aku kesana dulu yah, alumni tim voli kita yang dulu sudah datang" ucap mulan.
"Ok" jawab ku.
Aku mendekati Maharani dan kami berpengalaman.
"Kangen banget deh, aku seperti kembali ke masa sekolah dulu ketika menginjak kan kaki ku di sini lagi. Tidak banyak yang berubah. Hanya guru guru kita terlihat semakin tua" ujar Maharani.
__ADS_1
"Iya, aku juga sedih melihat nya, semoga saja mereka di kuatkan. Mereka itu pahlawan tanpa tanda jasa yang wajib kita hormati" jawab ku.
"Selepas dari sini seperti nya kita harus menjenguk mai" ujar Maharani.
"Iya setuju" jawab ku.
"Masuk yuk. Panas nih" ujar rani.
Kami pun mulai memasuki gedung.
Ku lihat Roni, adit, dimas melambaikan tangan nya ke arah kami.
Aku tersenyum.
Kami berkumpul lagi seperti dulu.
Acara reuni akbar akan segera di mulai.
Acara di mulai dengan jalan santai.
Setelah itu kami kembali berkumpul di sekolah. Banyak jajanan di sediakan di luar.
Kami minum dan makan kue untuk ganjal perut.
Setelah itu kami kembali ke aula. Berjejer kamu memakai kaos khusus alumni untuk reuni akbar ini.
Kaos merah les biru. Bertuliskan Reuni akbar tahun 1999 - 2021.
Aku mengamati sekeliling ku. Banyak kenangan di tempat ini.
Ku pandangi langit langit aula yang tinggi menjulang.
Disaat orang lain sibuk nonton konser aku malah asik jajan di luar.
"Gak ikut nonton?" tanya Dimas.
Aku menggeleng.
"Aku gak suka, lebih asik kayak nya jajan, sudah lama gak jajan masa masa SMA seperti ini. Jadi mengenang masa lalu" jawab ku.
"Iya sih, banyak yang berubah. Tapi syukurlah kita semua masih bisa bertemu seperti ini" seru dimas.
"Iya pak dokter" ujar ku.
"Ah kamu, di sini aku sebagai alumni sekolah pelita, bukan dokter" sanggah dimas.
"Baik lah" jawab ku.
Adit , roni, dan Maharani mendekati kami.
"Gak asik nih, malah jajan di luar. Kan seruan di dalam nonton konser" ujar roni.
"Serah lo deh, kan gak ada paksaan ikut jajan kesini, aku cuma pusing ajja di dalam, sumpek. Telinga ku rasa nya peka' akibat teriakan orang orang yang mengidolakan band itu" protes ku.
"Iya sih, lebih baik kita keliling sekolah deh, mengenang masa lalu, makasih yah lidya, berkat kamu masa sekolah ku lebih berwarna. Sebelum kamu punya pindah kemari hidup ku monoton. Membosankan, tidak ada yang mau mendekati aku" ujar Maharani.
__ADS_1
"Sama sama, teman sekaligus sepupu ku" seru ku.
Maharani lalu memeluk ku.
"Dunia emang sempit yah, gak nyangka kita sepupuan, oh ya aku ada kejutan nih buat kalian" ucap Maharani bersemangat sambil kami berjalan sepanjang koridor sekolah membawa jajanan.
Maharani mengeluarkan Undangan dari dalam tas nya.
"Tara...." ia pun membagi undangan itu.
"Masya Allah, akhir nya. Selamat yah" ucap ku.
Adit dan dimas mulai mengejek Roni.
"Cieh yang mau nikah, masih sempat yah jalan jalan reunian" celetuk dimas.
Roni hanya tersenyum malu malu.
Minggu depan Maharani akan menikah dengan Roni.
"Sebenarnya aku sudah tau sih, om rado sudah ngabarin ini jauh jauh hari sebelum nya" seru ku.
"Benarkah, hmm maaf yah, aku cuma ingin ngasi kejutan buat kalian.
"Wah berarti bulan ini banyak undangan dong" seru ku.
"Emang siapa lagi mau nikah?" tanya Maharani.
"Putra juga akan segera menikah" seru ku.
"Apa? benarkah, sama siapa?" tanya mereka hampir serempak.
"Ada deh rahasia" jawab ku.
Mereka mulai protes dan memeluk ringan lengan ku.
"Ampun deh, nanti aku ceritakan setelah semua nya beres deh. Masih lama juga, Akhir bulan Insya Allah" ujar ku.
"Ah, senang banget dengar nya, putra orang baik, pasti dapat yang baik juga" ujar Maharani.
Dimas dan adit terdiam.
"Eh ngomong-ngomong, kalian berdua ini belum ada dekatin cewe? kalian normal kan" celetuk ku.
Mendengar itu mereka pun protes dan melemparkan aku jajanan snack sambil tertawa.
"Ih mubazir tau!!" protes ku.
"Loe emak beranak 3 diem ajja deh, nanti juga kami bakal nikah kok" seru dimas. Adit mengiyakan.
"Haha iya ya, aku uda emak emak beranak 3 karena nikah muda, hm gpp nikah enak kok" jawab ku.
"Tapi badan masih oke yah bun padahal anak udah 3" seru Maharani.
"Iya dong, meski emak emak harus jaga badan dan perawatan wajah say biar gak kalah bohay sama gadis. Haha" canda ku.
__ADS_1
"Iya lah tu emak muda, jadi pengen jadi emak" ujar Maharani melirik roni yang salah tingkah.
"Sabar, minggu depan kan udah di proses pembuatan nya wkwkwkwkwk" tawa Adit dan dimas.