Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Rumah sakit.


__ADS_3

Maaf jika novel ini terlalu panjang dan tidak tamat tamat. Up nya juga jarang, kadang 2 hari sekali. πŸ™


......🌺🌺🌺.......


Yugo terlihat diam saja di sudut lantai rumah sakit. Ia sangat terpukul kehilangan calon bayi nya dan melihat kondisi istri nya yang sedang tidak baik baik saja


Sudah 2 jam lebih mereka menunggu.


Akhirnya dokter keluar.


"Operasi nya berjalan lancar, tinggal menunggu pasien siuman, saya permisi dulu yah" ucap dokter sembari pamit.


Yugo pun segera masuk ke dalam untuk melihat keadaan istri nya, saat ini hanya yugo yang di perbolehkan masuk.


Karena pasien belum di pindahkan ke ruang perawatan. Itu pun hanya sesaat saja.


Perawat memindahkan lidya ke ruang rawat.


Semua menunggu dengan cemas.


Setelah selesai pindah, mereka pun satu persatu boleh masuk.


Yugo menatap lekat wajah istri nya. Ia membelai rambut istri nya. Kesedihan mulai menyeruak di dalam hati nya.


Ia menangis dalam diam. Putra yang berada di samping nya pun hanya mampu mengelus pundak yoga.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap putra mengingat kan.


Yoga masih menangis.


"Segala sesuatu terjadi atas izin Allah, mungkin Allah sedang menguji kalian dengan musibah ini, bersabar lah" ucap putra lagi.


"Bagaimana nanti jika dia bangun, apa yang harus aku katakan pada nya?" jawab yoga.


"Jika berat biar aku saja nanti yang menjelaskan pada nya, kamu gak usah khawatir" seru putra menenangkan.


Yoga dan putra keluar ruangan, giliran Sumiati dan devan yang masuk.


"Lidya, kamu kuat, bertahan lah, semoga lekas pulih" ucap sumiati.


Meski pun lidya tidak belum sadar mereka tetap saja bicara.


"Maafkan kami tidak cepat menolong mu saat itu. Harus nya kami selalu berada di dekat mu" seru devan menyesal.


Setelah puas melihat keadaan lidya mereka pun pamit pulang karena sudah larut malam.


Yugo dan putra kembali masuk ke dalam ruangan. Putra sedang mengaji di sofa sudut ruangan vviv sesuai pesan dari pak rudi.


Suara derap langkah kaki semakin mendekati ruangan tempat lidya di rawat. Pak rudi wijaya telah sampai.

__ADS_1


Perlahan ia membuka pintu ruangan itu dan masuk.


Yugo sedikit terkejut. Putra masih mengaji.


Yugo langsung mundur untuk mempersilahkan pak rudi melihat anak nya.


"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya pak rudi marah.


Yugo lalu menjelaskan lidya sedang mengalami kekerasan dari seseorang yang tidak lain adalah saudara kembar nya.


"Papa kecewa sama kamu yoga, kamu tidak bisa menjaga putri ku dengan baik sampai ia harus menderita seperti ini? aku bahkan kehilangan cucu ku, berada di dekat mu, seperti nya lidya tidak aman, bisa saja si brengsek itu kembali menyakiti nya dengan dalih balas dendam pada mu dan keluarga mu, aku tidak bisa membiarkan lidya menderita lagi, setelah ini aku akan membawa nya pulang. Selesai kan urusan mu dengan orang itu atau terpaksa aku memisahkan kalian demi kebaikan dan keselamatan anak ku" seru pak rudi.


Putra selesai mengaji. Ia tutup Al-Qur'an mini yang ia bawa. Ia mendengar semua percakapan mereka.


"Maaf pah, tidak baik kita memisahkan istri dengan suami nya" seru putra.


"Tau apa kamu? ini anak ku, anak kandung ku, sudah seharusnya aku melindungi dia dari ancaman bahaya di luar sana termasuk suami nya?" jawab papa.


Yugo menunduk.


"Maafkan aku pah telah gagal menjaga nya, tapi tolong jangan pisahkan kami, aku janji akan menjaga nya lebih baik lagi" jawab Yugo.


"Apa kau yakin bisa membahagiakan nya? lihat sekarang? kau justru membebani nya, aku tidak yakin kau menafkahi nya dengan baik sekarang" ujar pak rudi.


"Astagfirullah, maaf pak, meski aku miskin, aku tetap memberikan nya nafkah, walau tidak banyak, dan tidak hidup mewah seperti biasa nya. Kami hidup bahagia" jawab yugo.


"Bahagia? apa kau yakin dia bahagia? maaf yugo, cari lah dulu pekerjaan dan selesai urusan mu dengan saudara kembar mu itu, aku tidak ingin anak ku menderita hidup bersama mu, karena aku yang telah menjodohkan kalian, aku juga berhak mengambil nya kembali ketika kamu tidak mampu menjaga dan membahagiakan nya" tegas pak rudi.


Yugo menunduk. Ia merasa gagal menjadi suami yang baik bukan karena kelakuan nya yang tidak baik tapi karena kelakuan saudara kembar nya yang menyusahkan.


Pak rudi lalu menelpon polisi dan anggota nya untuk mencari keberadaan james.


"Cari orang itu sampai dapat meski ia sembunyi di ujung dunia pasti kan ia tidak bisa lolos, aku tidak menerima kegagalan kalian. Harus berhasil!" seru pak rudi mengakhiri telepon nya.


"Baik pak" jawab seseorang di ujung telepon.


.......🌺🌺🌺.......


Keesokan hari nya.


Patricia sudah berkemas hendak pulang kembali ke negara asal nya.


Ia menatap bingung ke arah james.


"Kamu yakin tidak mau ikut aku? aku yakin sekarang kamu sedang di cari cari di luar sana, aku tidak mau terlibat dengan kasus mu yang keterlaluan ini, aku pamit" ujar Patricia sambil mendorong koper nya keluar dari hotel.


James memandang patricia yang semakin menjauh.


Ada kegelisahan yang menggelayut di dalam hati nya.

__ADS_1


Namun ia membiarkan Patricia pergi sendirian.


Bandara dan pelabuhan yang ada di kota itu sedang di jaga oleh polisi dan orang-orang suruhan pak rudi.


Seolah pelaku adalah penjahat sekelas bandar narkoba, ini lah akibat nya mencari masalah dengan pak rudi wijaya.


Di rumah sakit.


Aku membuka perlahan mata ku, samar samar ku lihat langit langit rumah sakit.


Kepala ku rasa nya berat sekali.


"Lidya, kamu sudah bangun nak?" seru pak rudi yang berada di samping nya.


Aku menatap sekeliling.


"Ini di mana pah?" tanya ku.


"Rumah sakit nak, kamu kecelakaan, jangan banyak gerak dulu yah" pinta papa


"Kecelakaan?" seru ku panik lalu memegang perut ku.


"Pah, apa kandungan ku baik baik saja?" tanya ku.


Papa diam, ia tidak tega memberi tahukan bahwa lidya kehilangan janin nya.


"Pah? kenapa diam? yugo mana? yugo mana pah" tanya ku.


"Kamu istirahat ajja dulu yah, jangan banyak pikiran dulu" seru papa.


Aku menggeleng.


"Papa belum menjawab pertanyaan ku" ujar ku.


Putra lalu mendekati ku.


"Maaf lidya, ini mungkin berat bagi mu, bersabar lah" ujar putra.


"Ada apa sih, anak ku baik baik saja kan putra? tolong jawab" seru ku.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, kamu keguguran, bersabar lah, Allah bersama orang-orang yang sabar." ucap putra.


Air mata ku mengalir. Aku menggeleng kan kepala ku.


"Gak, gak mungkin, anak ku kuat kok, ia pasti baik baik saja" kata ku.


"Lidya tenang lah, sabar yah nak, semua akan baik baik saja" seru papa.


"Gak, gak mungkin, bayi ku......anak ku......." teriak ku histeris. Air mata ku tak terbendung lagi. Aku tidak menyangka akan kehilangan calon anak yang sedang aku kandung.

__ADS_1


Maafin mama sayang, dulu sempat tidak menginginkan mu, mama gak bisa menjaga mu dengan baik. Maafin mama. Batin ku di seka tangisanku yang meledak.


Papa dan putra berusaha menenangkan ku.


__ADS_2