
Langit mulai gelap. Menandakan malam telah tiba.
Suasana malam kian mencekam.
Uca bahkan sekarang memeluk lengan kak Samsul karena takut.
Maharani terus berjalan lurus di depan memimpin mereka. Tatapan nya datar dan fokus ke depan. Sesekali ia seperti ngobrol dengan seseorang yang tidak terlihat membuat uca semakin takut.
"Nyesal gue ikut, huaaa" rengek uca.
"Berisik, laki kok penakut sih!" bentak kak Samsul.
Uca mewek tapi ia tidak berani ngambek. Ia takut kak Samsul meninggalkan nya.
Kak Samsul memang terkenal pemberani. Karena dia lah pemimpin panitia.
Dia berpengalaman dalam hal seperti ini. Karena kak Samsul juga pembina Pramuka.
Kak Samsul mengarahkan senter ke Maharani yang tidak berhenti bersuara. Ia sangat fokus dengan jalanan. Seolah sudah ada orang di depan yang dia ikuti.
"Kenapa kita ikut anak serem ini sih, kalo dia bohong bagaimana?" protes uca.
"Bacot, ikuti ajja Napa?" balas kak Samsul.
Mereka ber 4 bersama tim SAR 2 orang di belakang mereka. Sementara tim SAR yang lain bersama guru guru yang ikut membantu mencari. Sisa nya tim SAR nya berpencar mencari.
Tiba tiba Maharani berhenti.
Semua saling pandang.
"Maaf, apa kalian bisa manjat pohon?" tanya Maharani.
"Iya bisa" jawab kak Samsul dan tim SAR hampir bersamaan.
"Eh tapi aku gak bisa" pekik uca.
"Sebentar lagi kita ketemu binatang buas. Sebaik nya kalian manjat pohon sekarang" perintah Maharani.
Mereka dengan panik langsung memanjat pohon di sekitar mereka.
"Kau sendiri bagaimana!", pekik uca yang panik dan berada di dahan pohon sekarang berkat kak Samsul.
"Hahahaha" Rani tertawa membuat yang lain bingung.
Tapi benar babi hutan datang berombongan. Membuat mereka panik.
Namun babi hutan itu hanya sekedar lewat saja. Maharani hanya sedikit minggir untuk mempersilakannya babi hutan itu lewat.
Setelah agak aman mereka pun turun.
Uca semakin merengek minta pulang tapi kak Samsul memarahi nya.
Belum kelar senam jantung karena babi hutan, sekarang ada ular yang menghalangi langkah mereka.
Maharani di depan terdiam sesaat lalu ia berbisik, seolah berbicara dengan ular itu.
Tidak lama kemudian ular itu pergi melewati jalan lain.
__ADS_1
Uca bernafas lega.
"Sampai kapan kita begini!!!"pekik uca.
"Tidak lama lagi kita sampai" seru Maharani.
Mereka pun bersemangat lagi.
......🌺🌺🌺......
"Badan ku gatal banget dan lengket, gak mungkin bisa tidur" protes Mai.
"Gak ada pilihan lain selain sabar, mengeluh pun gak ngasi jalan keluar kan?" seru Dimas.
Adit hanya diam sejak tadi. Ia hanya berbaring tak bersuara.
"Kok bisa si Adit tidur nyenyak di tempat seperti ini?!" pekik Mai.
"Wajar saja, mungkin dia lelah dan mengantuk" seru Dimas.
Mai merapatkan jaket nya, udara dingin berhembus menembus kulit, membuat tulang ngilu saking dingin nya.
"Dingin banget" seru Mai yang tidak bisa berhenti bicara.
"Sabar" hanya itu yang bisa Dimas katakan saat ini.
Tidak lama kemudian Dimas melihat secercah cahaya kehidupan.
Mai langsung berdiri melihat cahaya itu.
"Mereka datang!!!" pekik Mai gembira.
Mai segera membangunkan Adit yang tertidur pulas.
"Dit, mereka sudah datang, penyelamat kota sudah datang, bangun lah" seru Mai.
Adit tidak bergeming sama sekali.
"Adit!" panggil Mai lagi.
Mai melihat Adit sangat pucat. Badan nya dingin. Seketika lutut Mai lemas karena takut. Takut Adit mati.
Mai berteriak histeris.
Tim SAR dan Maharani dan kak Samsul segera mempercepat langkah mereka menuju pondok tempat mereka tersesat.
Suara Mai yang berteriak histeris mengundang tim SAR yang lain menuju kesana.
"Adit bangun!!!" pekik Mai sambil terus menggoyangkan badan Adit. Ia mulai menangis.
"Adit, bangun dit, gak boleh gitu, gak boleh becanda di saat seperti ini, ayo bangun" seru Mai sambil terus menangis.
"Mai, sabar Mai" Dimas memeluk erat Mai.
Akhir nya tim SAR datang dan melihat kondisi mereka bertiga yang kotor.
Maharani menatap mereka penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan aku terlambat" seru Maharani ke Mai.
"Adit gak sadarkan diri, tolong" ujar Mai menghiba saat tim SAR dan panitia ramai memenuhi lokasi. Mai gak mampu berkata kata lagi. Ia sangat histeris melihat Adit yang terbujur kaku dingin di samping nya.
Adit lalu di tandu oleh tim SAR menuju pusat perkemahan mereka.
Ambulans juga sudah di hubungi dan sedang menunggu di bawah puncak. Karena di puncak tidak ada akses mobil dan kendaraan yang bisa masuk, mereka harus berjalan ber jam jam untuk sampai di puncak.
Sesampai nya di tenda semua histeris melihat kondisi Adit yang lebih parah dari Lidya.
Tim SAR tanpa menunggu lama langsung turun membawa Adit ke Ambulan. Sedang tim SAR yang lain menggotong Lidya sekalian ke Ambulance. Adit juga terkena hipotermia. Mengingat suhu di puncak memang sangat dingin jika tidak kuat maka akan terkena hipotermia.
Mai pingsan setelah tau Lidya juga terkena hipotermia. Dimas dan Maharani dengan sabar menunggu Mai sadar.
Besok pagi semua harus pulang mengingat acara camping yang tidak aman dan banyak tragedi.
Pak Budi menangis karena khawatir, ia tidak bisa tidur memikirkan anak murid nya.
Ia dan pak dewan lah yang ikut turun ke ambulance mendampingi Adit dan Lidya yang sedang berjuang menghadapi hipotermia nya.
"Lidya sempat di beri pertolongan pertama dan nafas nya juga sudah stabil, tapi Adit saya kurang yakin pak, maaf" seru pak dewan.
Pak Budi semakin menangis. Ia merasa gagal menjaga anak murid nya.
......🌺🌺🌺... ...
Mai mengerjapkan mata nya.
Ia lalu bangkit.
"Adit mana, Lily mana!" pekik Mai saat sadar dari pingsan nya.
Seorang kuat seperti Mai saja bisa pingsan seperti itu. Membuat teman teman lain semakin takut.
"Mereka di bawa ke rumah sakit Mai, tenang lah" jawab Dimas.
"Tapi mereka selamat kan!" pekik Mai.
"Semoga, kita doakan saja" diam diam air mata Dimas juga keluar. Ia tidak menyangka teman teman nya akan seperti ini kondisi nya. Ia takut sekali kehilangan.
Sama seperti Mai yang jiwa nya terguncang karena melihat teman sendiri terkena hipotermia. Dimas hanya berusaha menyembunyikan perasaan syock nya.
Malam semakin larut, sebagian sudah tertidur pulas. Sebagian lagi ada yang tidak bisa tidur karena tidak sabar mau pulang besok. Mereka sudah tidak nyaman semenjak kejadian itu.
Malam terasa panjang bagi mereka yang menunggu pagi.
Cahaya rembulan menyinari tenda Mereka.
Maharani masih terjaga, ia juga syock melihat kondisi Adit yang sekarat. Ia tidak yakin Adit selamat.
Mereka hanya bisa berdoa agar semua teman nya itu selamat.
Dimas keluar tenda ia menghangatkan diri di depan api unggun. Di kantong nya ada sisa buah murbei yang dia petik bersama Adit. Air
mata nya turun deras. Ia tidak peduli jika di katakan cengeng saat ini.
Dimas perlahan makan buah murbei itu dengan derai air mata. Buah murbei yang manis terasa asin bagi nya karena bercampur air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Seseorang menepuk pundak nya mencoba menguatkan.