
Sesampai nya di rumah Dimas.
"Tuan muda, teman nya sudah datang nih" seru wanita paruh baya.
Dimas berlari ke luar menyambut ku.
"Welcome to my house my girl" seru nya bahagia.
Aku saling menyilang kedua lengan ku.
"Kata mu masih sakit tapi kenapa bisa lari lari?" seru ku.
"Oh itu, yang sakit kan lengan ku ini ,bukan kaki ku" seru nya.
"Bi, siapkan makan yah" seru nya seraya mempersilahkan aku duduk.
Aku melihat lihat rumah Dimas. Baru kali ini aku ke rumah nya. Ternyata Dimas anak orang kaya, rumah nya seperti istana seperti rumah ku. Mobil nya banyak tapi kenapa dia bilang gak bisa bawa yah? aku jadi penasaran.
"Apa kau berbohong dulu waktu mengatakan tidak bisa mengendarai mobil? aku lihat banyak mobil di rumah mu" tanya ku.
"Tidak kok, aku dulu pernah bisa, tapi aku pernah kecelakaan mobil jadi aku fakum total dari mengendarai mobil. Masih trauma",jawab nya.
Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Dimas.
"Oh, kamu tinggal sama siapa saja di sini?" tanya ku.
"Sama papah, mama dan kakak, ada Bu yem dll" jawab nya.
"Kan sudah pernah aku ceritakan dulu, tapi rumah ini serasa sepi dari penghuni, semua sibuk masing masing." jelas Dimas lagi.
"Kamu punya kakak?" seru ku tidak percaya.
"Iya, kakak laki laki, dia sedang kuliah sekarang, tapi di luar kota." jawab nya.
" ohh begitu " Aku mulai melihat lihat lagi rumah Dimas.
"Tuan makanan nya sudah siap" seru bi yem.
"Ok Bi, yuk ke ruang makan" ajak Dimas.
Aku pun mengikuti nya.
Di meja makan tersedia banyak sekali makanan. Mengingatkan aku saat aku masih sangat gendut dulu.
"Kau mau aku kembali gendut?" seru ku.
Dimas tertawa.
"Haha iya, penasaran deh, pengen lihat kamu saat gendut dulu itu bagaimana" tawa Dimas.
Aku memukul lengan nya.
"Ih nyebelin" ujar ku.
"Aduh lengan ku kan masih sakit?" protes nya.
"Oh iya lupa, maaf yah" jawab ku.
Aku pun menemani anak manja ini makan.
__ADS_1
"Kau bilang sakit tapi ***** makan mu itu tidak menunjukkan nya jika kau sakit" seru ku di sela makan.
"Sudah sembuh karena ada kamu yang temani aku makan" jawab nya.
Dasar tukang gombal.
"Tau kamu sehat begitu kan aku gak perlu jauh jauh ke sini" protes ku.
"Jangan begitu dong, nanti kita house tour rumah ku yah, terus kita nongkrong di balkon atas. Bagus banget tau view nya buat berfoto-foto, pokok nya kayak di cafe cafe gitu deh" celoteh Dimas.
"Terserah kamu ajja deh" balas ku.
Dimas tersenyum senang.
Setelah selesai makan, aku dan Dimas berkeliling istana nya.
Aku melihat foto keluarga yang di copot dari tempat nya. Posisi nya sekarang ada di lantai.
Foto seorang Suami istri dan kedua anak nya
"Kenapa di lepas dari tempat nya?" tanya ku.
"Papah gak suka melihat nya, wanita itu telah melukai nya di usia 26 tahun pernikahan" jawab Dimas.
Wanita itu adalah mamah nya Dimas, yang aku lihat di rumah sakit saat itu.
"Maaf, seharus nya aku tidak bertanya aneh aneh" ujar ku.
"Gpp kok, justru aku yang ingin cerita sama kamu, yuk ke balkon atas" ajak nya.
Kami telah sampai ke balkon paling atas dari rumah nya. Benar, cantik sekali pemandangan dari atas sini.
Aku masih asik menikmati pemandangan.
"Lidya" panggil Dimas.
Aku menoleh dan Dimas langsung memotret kami berdua. Ekspresi ku aneh sekali karena tidak siap.
"Ihh jelek, hapus!!!" pekik ku
Dimas berlari dan menyimpan foto itu.
"Jadi kalo cantik mau nih berfoto dengan ku?" goda nya.
"Maksud kamu apa sih Dimas" seru ku.
"Lidya, lihat aku" ujar Dimas.
Aku menoleh lagi.
Dimas memberi ku sebuket bunga dan kado
"Suprice! selamat ulang tahun Lidya Wijaya" seru Dimas, dia bertepuk tangan seperti memberi kode.
Lalu muncul teman teman terdekat kami, ada juga putra menyusul. Aku sungguh terkejut. Aku bahkan lupa hari ulang tahun ku ini.
Mai membawa kue ke arah ku.
Aku menangis haru, seumur hidup ku baru kali ini ada yang mengingat ulang tahun ku.
__ADS_1
Aku memotong kue itu dan orang pertama yang aku kasi adalah putra.
"Makasih" kata putra sambil tersenyum manis.
Aku membalas senyum nya. Ya, dia lah putra, Seseorang yang sangat dekat dan berharga bagi ku.
Aku merasakan kasih sayang semenjak dia ada di kehidupan ku.
Aku melihat Adit dan Maisaroh tersenyum ke arah ku.
Aku bahagia sekali hari ini, tuhan, tolong waktu jangan cepat berlalu.
Maisaroh dan adit membawakan ku kado.
Hanya putra yang tidak.
"Maaf yah, aku gak ngasi apa apa" seru putra.
"Kamu salah putra, kehadiran mu di kehidupan ku itu adalah kado terbaik dan terindah yang Tuhan kasi ke aku, aku bersyukur banget" jawab ku.
Dimas sudah memesan makan dan kue kue untuk merayakan ulang tahun ku. Pantas saja dekorasi nya seperti di cafe, memang sudah di rencanakan. Aku juga baru sadar ada baliho besar di sudut bertuliskan Selamat ulang tahun Lidya Wijaya. Sejak kapan Dimas mempersiapkan ini semua. Berarti putra juga sudah tau, pantas saja dia menggoda ku dengan Dimas.
Kami pun berpesta , berfoto foto ria.
Malam semakin larut. Setelah puas bersenang senang, kami pun pulang ke rumah masing masing.
Melihat ku membawa bunga dan kado kado papa menyapa ku.
"Wah, dari mana bawa banyak hadiah?" tanya papa.
"Dari rumah temen" jawab ku.
Putra langsung melangkah naik ke lantai atas tanpa menyapa papa. Ada apa dengan putra dan papa?
Papa bahkan tidak tau kapan aku ulang tahun.
Setelah meletakkan kado kado ku itu di kamar aku berlari ke kamar putra.
Aku masuk tiba tiba, ia sangat terkejut karena sedang membuka celana formal nya.
"Astagfirullah, Lidya, kebiasaan deh" pekik nya.
"Gpp lah, kan pakai boxer juga gak telanjang haha" jawab ku.
"Gak boleh gitu" protes nya.
"Iya iya, maka nya kalo ganti baju itu pintu nya di kunci dong" ujar ku
"Kan bisa ketuk pintu dulu, kamu gak bisa ketuk pintu, harus belajar ketuk pintu?" tanya nya.
"Ihh " ku lempar bantal ke arah nya.
"Ada apa kamu kemari?" tanya nya sambil memakai kaos.
"Aku mau nanya" tanya ku.
"Tanya apa, ini sudah hampir tengah malam loh, gak bisa besok ajja?" tanya nya balik.
Ku lirik jam dinding di kamar putra. Pukul 23.01.
__ADS_1
"Gak mau ah, nunggu besok kelamaan, kan penasaran" protes ku.