
Kami telusuri jalan menuju sebuah cafe di pinggiran kota.
Dimas lagi lagi menjahili ku, ia mengepang rambut ku lalu di tarik tarik.
Segera ku pukul ringan tangan nya.
"Nakal" protes ku.
"Dimas, Lo suka sama lili?" tanya Mai.
"Eh, apaan nih, ih ogah" tolak nya.
"Abis nya Lo suka banget sih gangguin dia" kata Mai lagi.
"Kan gak dia ajja yang ku gangguin" ujar Dimas.
"Apaan sih Mai, ih" protes ku.
Mai tersenyum simpul.
"Tapi dim, aku kenal banget sama kamu, selama kita berteman sejak kelas 1, kamu jarang gangguin perempuan. Biasa nya juga pasti laki laki kamu gangguin, em berkelahi maksud ku. " lirik mai ke arah Dimas. Membuat nya salah tingkah.
Adit menatap sinis ke arah jalan. Seseorang masuk ke cafe. Orang yang ku kenal.
Putra. Ngapain dia kesini.
Putra seperti mencari seseorang. Aku tidak peduli.
Ku tutup wajah ku dengan tangan. Semoga dia tidak kesini. Batin ku.
Ku ambil jaket milik Dimas lalu ku tutup kepala ku agar putra tidak melihat ku.
"Ada apa?", bisik Mai.
Adit dan Dimas pun bingung melihat reaksi ku.
Aku lalu menunjuk ke arah putra.
"Dia orang jahat, lindungi aku, jangan sampai dia kesini" kata ku tiba tiba.
"Bukan kah itu kakak mu?" tanya Adit. Ingatan Adit memang kuat, kami pernah bertemu di parkiran toko buku waktu itu, aku Dimas dan Adit bertemu putra.
Sial nya putra melihat ke arah ku. Meski sudah berusaha menutupi wajah ku.
Ia pun mulai melangkah kan kaki nya ke arah meja kami. Semakin dekat.
Putra menyibak jaket milik Dimas yang aku buat untuk menutupi wajah ku.
"Ngapain kamu sembunyi begitu?" tanya putra bingung.
"Siapa yang sembunyi, ngapain kamu kesini!" pekik ku.
Putra tersenyum aneh.
"Aku di suruh cari kamu sama papa mu" kata putra.
Aku bangkit dan mendorong putra menjauh dari meja tempat kami berkumpul.
Agak jauh hingga mereka tidak bisa mendengar kami.
"Ngapain dia cari aku?! " pekik ku.
"Mana ku tau, aku hanya menjalankan perintah, karena sebentar lagi dia akan jadi ayah ku juga. Tak ada salah nya menuruti apa mau nya" jelas putra.
"Dasar licik, kau pasti sengaja kan, cari muka ke papa!" tuduh ku.
Putra hampir menampar ku saat ku bilang licik, tapi karena ramai pengunjung dan mata teman teman yang dari jauh Mengawasi kami, tangan nya pun kembali turun.
"Jangan asal menuduh! pulang Sekarang, atau kau mau teman teman mu itu tau rahasia mu!!!" pekik putra.
Aku menatap nya sinis.
"Aku tunggu di mobil, aku tidak akan pergi jika kau tidak ikut aku" ancam nya.
Ia pun keluar cafe.
Aku kembali ke meja ku sambil cemberut.
Ku ambil tas ku, dan berpamitan dengan mereka.
"Maaf ya teman teman,aku harus pulang, lain kali saja aku ikut, have fun" seru ku.
__ADS_1
Dimas menahan lengan ku.
"Tapi kau baik baik saja kan?" tanya Dimas memastikan.
"Eh, iya dim, aman, bye" pamit ku sambil menghempas ringan tangan Dimas yang masih menahan ku.
Aku berjalan ke arah pintu keluar cafe.
Terlihat mobil papa yang di bawa oleh putra untuk menjemput ku.
Aku pun masuk ke mobil dengan ekspresi marah.
Ketika aku sudah di dalam. Putra tidak juga jalan kan mobil nya.
Ia memasang kan ku sabuk pengaman.
Aku terkejut.
"Aku bisa sendiri!" , pekik ku.
"Bawel" balas nya.
Setelah memakai sabuk pengaman, mobil pun mulai bergerak. Melintasi jalan besar menuju pulang ke rumah.
Sepanjang jalan aku hanya diam.
Aku benci putra.
"Dari mana kau tau keberadaan ku!!!" tanya ku dengan nada tinggi.
"Aku bisa temukan kau di mana pun kau berada" ujar nya.
"Apa? haha, lelucon mu gak lucu" seru ku.
"Serius, aku akan menjadi kakak yang baik untuk mu jadi jangan berontak terus. Berusaha lah untuk menerima takdir" tegas nya.
Aku diam, tidak menjawab. Aku tidak akan percaya kata kata nya.
"Kau pasti merindukan sahabat mu si Bimo itu kan" seru nya lagi.
Perjalan menuju rumah masih panjang. Membuat putra punya kesempatan bertanya banyak hal.
"Kamu yakin gak mau tau kabar nya?" kata putra.
"Bukan urusan mu!" jawab ku.
Putra tersenyum.
"Apa kau menyukai Bimo?" tanya nya lagi.
Aku diam saja.
"Kalo diam berarti iya" seru putra.
"Berisik!!!" pekik ku.
Putra tertawa.
Aku melihat pemandangan luar kaca mobil tidak menghiraukan apa pun yang ia katakan.
Untuk mencairkan suasana di dalam mobil putra menyanyikan sebuah lagu.
Lagi Stevan Pasaribu.
Judul nya belum siap kehilangan.
Awal nya aku tidak menghiraukan nya. Lama kelamaan suara putra semakin merdu, seolah penyanyi asli sedang ada di hadapan ku sekarang.
🎶🎵
Sewindu sudah
'Ku tak mendengar suaramu
'Ku tak lagi lihat senyummu
Yang selalu menghiasi hariku
Sewindu sudah
Kau tak berada di sisiku
__ADS_1
Kau menghilang dari pandanganku
Tak tahu kini kau di mana
Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu
Yang masih selalu ada dalam hatiku
Sewindu sudah
Kau tak berada di sisiku
Kau menghilang dari pandanganku
Tak tahu kini kau dimana
Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu
Yang masih selalu ada dalam hatiku
Tuhan, tolong mampukan aku
'Tuk lupakan dirinya
Semua cerita tentangnya yang membuatku
Selalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku
Oh, ternyata… 🎵🎶
Aku pun hanyut dalam merdu nya suara putra saat bernyanyi.
Tak melihat ke arah ku sedikit pun, ia sibuk bernyanyi.
Dia diam sesaat.
"Bagaimana? suara bagus kan" puji nya pada diri sendiri.
Aku diam saja.
"Sudah cocok gak aku ikut audisi Indonesian idol" tanya nya.
"Entah" Jawab ku singkat.
"Keras banget yah kamu Lidya Wijaya. Lihat saja, kelak kau akan sangat membutuhkan ku, sangat sayang pada ku sebagai kakak terbaik seumur hidup mu" seru nya dengan penuh percaya diri.
Aku menatap nya dengan ekspresi jijik.
Tidak terasa kami telah sampai di rumah ku. Satpam membukakan gerbang, kami masuk ke bagasi mobil.
Putra turun dari mobil, aku pun terpaksa ikut dengan nya.
Papa terlihat duduk di ruang tamu.
"Kemana saja kamu!!!, jika putra tidak mencari mu kapan kamu pulang nya???" pekik papa.
"Terus?" tanya ku santai.
"Lidya!!!" pekik papa lagi.
"Mau kamu apa?" tanya ku.
Putra terkejut melihat percakapan kami.
Apa kah begini percakapan seorang anak perempuan dengan ayah nya? batin putra.
Papa pun hendak menampar ku lagi tapi karena ada putra ia hanya menghentak meja.
"Belum cukup kau hancurkan aku?!" pekik ku.
Papa menatap ku terkejut.
"Jangan pernah lupakan apa yang pernah kau lakukan pada ku, aku mungkin bisa memaafkan mu, tapi tidak untuk melupakan nya" Teriak ku.
Putra penasaran maksud perkataan ku itu.
Papa kebingungan untuk menjawab apa.
__ADS_1