Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Nikah.


__ADS_3

Putra pergi dan kembali membawa kan aku makanan untuk sarapan.


"Kamu akan sangat lelah nanti nya jadi kamu sarapan dulu yang banyak ya" seru putra sambil menyuapi ku. Tim mua malah baper melihat perhatian putra pada ku.


"Uh sweet banget sih kakak nya, mau..." seru seorang wanita, tim wedding organizer yang sedang lalu lalang di kamar ku.


"Hus, kerja kerja" tim wo lain pun protes dan menyuruh wanita itu untuk fokus pada kerjaan mereka.


Aku menghabiskan sarapan ku sebelum mba mua melanjutkan makeup nya.


"Jangan gugup, jangan cemas, aku masih tetap ada sebagai kakak mu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu termasuk suami mu. Semua akan baik baik saja" seru putra. Suara nya bergetar menahan tangis.


Aku mengangguk. Air mata ku pun ikut turun.


Mba mua mulai panik melihat ke menangis, tapi juga larut dalam suasana haru, mba mua pun ikut menangis melihat kami. Entah menangis karena takut makeup nya berantakan atau karena suasana nya yang memang buat mewek.


"Ya sudah jangan nangis, tuh makeup nya nanti luntur, aku keluar dulu. Papa sudah menunggu ku di luar" jawab nya.


Aku hanya mengangguk, mba mua memberi ku tisu dan mulai memperbaikinya makeup ku serta menambah polesan nya


"Kakak nya baik banget yah mba, seperti tidak rela melepaskan adik nya untuk menikah" seru mba mua.


Aku tersenyum ringan.


"Iya, dia memang baik, dia lah kakak terbaik di dunia ini, dan dia lah orang paling berharga di hidup ku" jawab ku.


Mba mua tersenyum.


Selesai segala aktifitas makeup dan lain lain aku menatap ke arah luar kamar hotel ku melalui dinding kaca transparan. Sinar matahari mulai naik ke permukaan bumi.


Ku lirik jam di handphone ku. Tidak terasa Sudah jam 08.30


Acara akad nya berlangsung jam 09.00.


30 menit lagi, rasa gugup mulai menyeruak masuk ke dalam tubuh ku. Keringat pun mulai keluar padahal ac di kamar ini sangatlah dingin.


Suasana di luar acara akad sudah di mulai.


Aku memakai adat keluarga ku untuk tidak duduk di sebelah pengantin pria sebelum sah. Jadi aku menunggu di kamar sampai akad selesai baru aku akan turun ke bawah untuk bersanding.


Suasana menegangkan di ruang akad.


"Saya terima nikah dan kawin nya Lidya wijaya binti rudi wijaya dengan mahar tersebut tunai" jawab Yugo tanpa hambatan.


"Sah!" Kata saksi.

__ADS_1


"Alhamdulillah" hampir semua berseru.


Tatapan ku datar, tak ada raut wajah bahagia si mimik wajah ku, justru sedih, sangat sedih namun aku tidak mau menampakkan nya di depan umum.


Aku pun di Giring tim mua untuk turun ke bawah. Ke tempat acara akad yang sudah selesai.


Aku menatap ruang akad yang sudah ramai tamu keluarga.


Sesampai nya di lokasi aku di beri wejangan nasehat dan tanda tangan beberapa lembar dokumen, dan surat nikah.


Setelah itu pak penghulu pulang. Sesi foto-foto pun di mulai. Aku di paksa bersalaman dia. Yang kata mereka suami ku. Kami saling berhadapan, ku tatap sinis mata itu seolah kode aku bahwa aku benci pernikahan ini.


Setelah itu resepsi siang pun di mulai.


Semua berjalan lancar tanpa hambatan apa pun. Aku jadi teringat feby. Dia pasti sedang menangis sekarang. Maafkan aku feby. Batin ku.


Acara resepsi siang selesai jam 4 sore dan akan di lanjutkan nanti malam pukul 19.00 hingga selesai.


Aku dan yugo masuk ke kamar pengantin. Tim mua mulai membantu membuka kan segala Aksesoris di kepala ku.


"Mba bisa istirahat sebentar, ke toilet, makan dan lain lain, tapi tidak lama yah, sekitar 30 menit saja karena kita akan segera ganti pakaian lagi dengan gaun malam" perintah nya.


"Iya" jawab ku singkat dan langsung berlari ke toilet ketika kebaya putih ku itu sudah terbuka dan aku hanya memakai manset dan legging. Aku kebelet pipis.


Setelah keluar aku melihat yugo baring dan sibuk dengan handphone nya. Dia pasti kepikiran feby. Kapok, siapa suruh balas dendam.


Dia tega menyakiti orang yang dia cintai hanya karena dendam yang tidak jelas.


Aku melangkah menuju meja rias.


"Heh, ambilkan aku minum, haus nih" perintah yugo pada ku.


"Ambil saja sendiri!" balas ku.


"Berdosa loh menolak perintah suami, aku ini suami mu sekarang" seru nya.


Aku tidak bergerak.


"Aku tidak peduli!" pekik ku.


"Cih, liat saja nanti, apa kau masih bisa bersikap dingin seperti itu setelah.........


Belum sempat yugo melanjutkan bicara nya tim mua datang lagi dan mulai menghiasi ku.


Setelah apa? aku tersenyum sinis ke arah nya.

__ADS_1


Yugo menatap ku kesal.


.......🌺🌺🌺.......


Menjelang malam acara resepsi pun di mulai. Banyak sekali tamu undangan yang datang.


Teman teman sekolah ku juga datang.


Ada adit, roni, bimo, Maharani bersama Tante Sifa, tidak terlihat om rado, seperti nya ia masih kesal dengan keputusan ku.


Di mana mana pasti pengantin wanita yang menggandeng pengantin pria nya. Ini berbeda. Yugo lah yang menggandeng tangan ku sepanjang acara. Meski ku balas dengan tatapan tidak suka, berkali-kali ku lepaskan gandengan tangan itu, entah ada yang melihat gelagat ku atau tidak aku tidak peduli.


Sekali pun mertua melihat tingkah ku.


Mertua?


Hah konyol sekali.


Jam 9 malam sudah sepi tamu undangan dan tiba sesi foto keluarga dan teman teman dekat.


Aku menahan adit dan kawan kawan untuk segera pulang, aku ingin kami berfoto bersama sama.


Dimas sejak tadi hanya dia di sudut ruang, tidak seperti biasa nya. Putra pun mendekati dimas.


"Kenapa gak gabung sama yang lain?" tanya putra.


"Maafkan aku" balas nya.


"Loh, kok malah minta maaf" tanya putra.


"Karena gak bisa menjaga lidya seperti permintaan mu waktu itu" jawab nya.


"Oh, tidak mengapa, lupakan saja, lidya juga sudah menikah, sudah menemukan jodoh nya, bisa panjang umur dan melihat nya menikah sudah cukup membuat ku bahagia, bisa sembuh dari sakit ini juga sudah keajaiban bagi ku, Alhamdulillah" tegas putra.


"Ayo gabung sama yang lain" ajak putra.


Dimas menepis tangan putra.


"Maaf, biarkan aku sendiri" ujar dimas.


Putra pun pasrah, ia tidak berhasil membujuk dimas untuk ikut bergabung.


Aku terpaksa turun langsung dengan gaun pengantin ku untuk mengajak dimas berfoto bersama.


Dimas yang tidak enak karena aku menjemput nya di bangku sudut ruangan pun akhir nya mau tidak mau ikut berfoto bersama kami, bersama teman teman sekolah nya dulu.

__ADS_1


__ADS_2