Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
papa.


__ADS_3

Sebelum melanjutkan ada revisi bagus nih dari para reader kita, author kadang menggunakan bahasa daerah yang mungkin pembaca bingung mengartikan nya, dan bisa jadi mengira typo/kesalahan pengetikan.


Padahal author tidak sadar jika bahasa yang author pakai bukan bahasa baku Indonesia dan tidak di mengerti sebagian pembaca.


Jika ada kata yang sulit di mengerti coment ajja yah, karena author juga sering khilaf mengira itu sudah bahasa Indonesia yang benar πŸ™ ternyata bukan.


Misal kata "Menyimpun".


Menyimpun berasal dari kata simpun yang arti nya merapikan/menyusun.


Author orang Kalimantan jadi terbawa bahasa di sini. πŸ™


......🌺🌺🌺......


Ok, lanjut.


Satu hari saja aku berada di rumah sakit, saat ini aku sudah berada di rumah.


Di kantor.


Papa sedang duduk di meja rapat bukan untuk bahas bisnis tapi bahas tentang kejadian kemarin.


Semua karyawan di interogasi dan tidak ada yang mencurigakan.


OB yang membawa minuman untuk ku hanya dia suruh oleh salah satu karyawan yang ada di sana. Pak Rudi memanggil karyawan itu pribadi ke dalam ruangan nya bersama dengan seorang detektif.


"Apa alasan mu menyuruh ob untuk memberikan minuman itu ke anak ku" tanya pak Rudi.


"Maaf kan saya pak, saya hanya ingin memberikan anak bapak minum, karena nona lidya baik sama saya, saya hanya ingin melayani nya, saya sama sekali gak tau jika anak bapak alergi dengan kopi" ujar nya.


"Tapi kenapa kamu berkata kalo minuman itu dari saya?" tanya pak Rudi lagi.


"Supaya nona Lidya mau meminumnya. Jika dari orang lain mungkin ia tidak mau menerima nya, Maafkan saya pak, saya salah" ujar nya.


Detektif itu mendeteksi wajah seorang karyawan wanita yang sedang di interogasi itu. Tidak ada raut wajah bohong pada ucapan nya.


Nama wanita itu Santi.


"Jadi ini murni kecelakaan?" tanya pak Rudi pada detektif itu.


Pak iman tidak langsung menjawab.


"Saya punya satu pertanyaan lagi, kebaikan apa yang korban lakukan pada mu?" tanya pak iman.


"Nona Lidya pernah membantu saya memungut berkas yang berjatuhan di lantai saat saya buru buru. Ketika berada di luar juga, saya tidak sengaja bertemu dengan nya di sebuah mini market. Saat itu saya tengah malu karena uang saya kurang untuk bayar di kasir. Nona Lidya tiba tiba muncul dan membayar kan semua belanjaan saya, saya pikir yah setidaknya saya berguna meski hanya memberikan secangkir minuman, tapi justru malah mencelakakan nya, saya benar benar menyesal pak" jelas nya.


"Baik lah kalau begitu, ini murni kecelakaan, jadi semua tergantung pak Rudi, mau membawa kasus ini ke pihak yang berwajib atau memaafkan pelaku. Jika memang pelaku ingin menyakiti korban, dia pasti memberikan racun atau sejenis nya, pelaku juga otomatis akan bersembunyi dan tidak akan berani muncul di sini." jelas nya.


Mba Santi bernafas lega.

__ADS_1


"Ya sudah, saya gak mau hal itu terulang lagi" tegas pak Rudi.


"Makasi banyak yah pak" seru mba Santi menangis haru dan duduk bersimpuh di hadapan pak Rudi.


"Kembali lah bekerja, tapi jika aku menemukan kejanggalan atau hal ini terjadi lagi aku tidak akan memberi toleransi, aku akan pecat secara tidak hormat bahkan memasukkan kalian ke penjara, aku janji itu!" tegas pak Rudi lagi.


Sebagian karyawan kembali ke ruang kerja nya masing masing.


......🌺🌺🌺......


Menjelang malam.


Di rumah.


Papa baru pulang kerja menjelang malam, selesai mandi dan makan ia memasuki kamar ku.


"Apa kamu baik baik saja?" tanya papa.


Aku mengangguk.


"Papa sudah selidiki tapi semua kejadian ini hanya kecelakaan, apa kamu mengenal karyawan papa yang bernama Santi?" tanya papa.


"Kecelakaan? mba Santi? oh iya aku beberapa kali bertemu dengan nya di kantor sama di luar , memang nya ada apa dengan dia?" tanya ku balik.


"Dia lah yang memberikan mu cokelat kopi itu, kata nya kamu baik jadi dia ingin balas Budi meski hanya bisa dengan secangkir minuman, ia tidak tau perihal alergi mu itu" jelas papa.


"Oh begitu, ya sudah, gpp. Yang penting baku baik baik ajja sekarang" jawab ku.


Aku tersenyum.


Ku tatap wajah papa dengan senyum manja.


"Cieehh, khawatir nih Yee" ejek ku.


Papa langsung mencubit hidung ku seperti biasa.


"Ih sakit!" pekik ku.


"Siapa suruh, di saat seperti ini masih bisa mengejek orang tua" balas papa.


"Haha, iya maaf deh, kita kan teman" ujar mu.


"Teman?" protes papa.


"Papa lupa, kita dulu bahkan memanggil kamu aku ketika ngobrol, yah sekarang lumayan lah, lumayan bisa di bilang ayah dan anak" ujar ku.


"Hem, ya sudah ,jangan mengejek terus, istirahat lah" seru papa.


"Gak mau" jawab ku.

__ADS_1


"Loh kok gak mau?" tanya papa.


"Seharian aku sudah tidur Mulu, bosan" jawab ku.


"Sudah makan?" tanya papa.


Aku mengangguk.


"Ya sudah, tidur ajja lagi" seru nya.


Aku diam sesaat.


"Pah, aku sudah mendaftar kuliah hukum di universitas negeri Tirani" seru ku.


"Apa?!" pekik papa.


"Eh santai, rileks dulu, jangan mayah mayah dong, nanti ganteng nya ilang loh" goda ku.


"Kenapa gak bilang! kan papa bisa mengurus kan semua nya" jawab papa.


Aku menatap nya manja lagi. Mata ku kedip kedip kan menggoda nya.


"So sweet banget sih papa ku yang sekarang, love u papa" seru ku Sembari ku kecup tangan ku lalu ku tiup ke arah nya.


Papa menatap ku antara geli atau jijik melihat tingkah ku yang tidak biasa.


"Hih, sudah gede kamu, gak usah kijil begitu" jawab papa.


*Kijil \= suka menggoda/centil.


"Sudah ah, kalo kamu gak mau istirahat papa ajja yang istirahat, bye" ujar nya.


"Makasih ya pah" kata ku.


Papa hanya tersenyum ringan, sambil melangkah keluar kamar ku dan menutup pintunya kembali.


Aku tertawa sendiri kesenangan karena papa tidak marah dan setuju aku kuliah hukum di universitas yang aku mau.


Ah bahagia nya.


Ku peluk guling. Tiba tiba teringat putra. Dia sedang apa ya.


Di tempat lain.


Tante Sifa sedang memandang foto yang ada di dalam album foto lama milik nya.


"Itu foto siapa Tante?" tanya Maharani bingung.


Tante Sifa langsung menutup album itu.

__ADS_1


"Eh, cuma foto lama Tante sama teman teman Tante dulu saat masih seumur an kamu" jawab Tante Sifa.


"Coba lihat, kok aku gak pernah melihat album itu?" ujar Maharani penasaran.


__ADS_2